STRUKTUR KURIKULUM SMK HASIL REVISI (2018)


Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan ditetapkan dengan tujuan sebagai berikut.

  1. Memberikan acuan dalam pengembangan dan penyelenggaraan program pendidikan di SMK/MAK, khususnya dalam pembukaan dan penyelenggaraan bidang/program/kompetensi keahlian;
  2. Memberikan acuan dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran yang memiliki keseimbangan dalam mengembangkan kompetensi teknis dan membangun nilai-nilai karakter untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten sekaligus berkarakter;
  3. Menentukan tingkat efektivitas dan relevansi pendidikan pada SMK/MAK dilihat dari ketercapaian penguasaan kompetensi lulusan secara utuh, baik teknis maupun pengembangan kepribadian, serta
  4. Memberikan acuan untuk pelaksanaan penilaian dan akreditasi SMK/MAK, agar mampu mendorong tumbuhnya SMK/MAK yang mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dan berkarakter

Perancangan Spektrum Keahlian PMK

  1. Menggambarkan kebulatan tujuan umum Pendidikan Menengah Kejuruan yaitu menghasilan SDM kompeten dan berkarakter sehingga mampu bekerja, melanjutkan, berwirausaha yang dikenal dengan istilah “BMW”.
  2. Merefleksikan beliefs dan perspektif dari pemangku kepentingan (dunia kerja, Pemerintah, masyarakat), konstituen (karir individu baik lokal, nasional, maupun global).
  3. Membentuk arus aktivitas dan wawasan masa depan, adaptif terhadap perubahan.
  4. Dasar dan acuan pengembangan dan peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing lulusan SMK/MAK, baik dalam lingkup nasional, regional maupun internasiona

Spektrum Keahlian PMK yang berlaku saat ini adalah Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 4678/D/KEP/MK/2016. Spektrum tersebut terdiri atas 9 (sembilan) Bidang Keahlian, 48 Program Keahlian, dan 142 Kompetensi Keahlian yang terbagi atas 108 Kompetensi Keahlian Program Pendidikan 3 tahun dan 34 Kompetensi Keahlian Program Pendidikan 4 tahun

Kompetensi Keahlian memiliki karakteristik berikut:

  1. Membentuk lulusan agar menguasai satu jenis jabatan pekerjaan (profesi/ keahlian) formal yang berjenjang, pengalaman belajar atau skills (hard skills maupun softskills) yang diperoleh bermakna untuk hidup mandiri dan atau melanjutkan pendidikan, serta lapangan kerja lulusan terdeskripsikan secara jelas dan spesifik.
  2. Ruang lingkup kompetensi mengacu kepada standar kompetensi, baik sikap, pengetahuan maupun keterampilan, yang dibutuhkan oleh dunia kerja dan diakui, dikemas dengan memperhatikan rambu-rambu SKKNI dan KKNI.
  3. Memerlukan waktu tatap muka terstruktur untuk muatan peminatan kejuruan (C1, C2, C3) + 030 jp @ 45 menit untuk program pendidikan 3 tahun atau + 4.526 jp @ 45 menit untuk program pendidikan 4 tahun.
  4. Perbedaan muatan keahlian kejuruan (C2 dan C3) satu kompetensi keahlian dengan kompetensi keahlian lainnya dalam satu program keahlian minimal 35 %, dilihat dari bobot beban belajar.
  5. Mempertimbangkan tahapan dan perkembangan peserta didik secara fisik maupun psikologis.

Struktur Kurikulum

Struktur Kurikulum blok dan implementatif untuk setiap Kompetensi Keahlian program pendidikan 3 dan 4 tahun tertera pada Tabel 2 dan 3, sedangkan jumlah minggu efektif untuk setiap semester tertera pada Tabel

perubahan yang signifikan terdapat pada

a. distribusi mapel B. Indonesia menjadi 4 jp di kelas X, 3 jp di kelas XI serta 2 jp di kelas XII

b. distribusi mapel B. Inggris dan bahasa asing lain menjadi 3 jp di kelas X, 3 jp di kelas XI serta 4 jp di kelas XII

c. sejarah 3 jp hanya untuk kelas X

d. penjasorkes 2 jp untuk kelas X, 2 jp untuk kelas XI serta

e. Produk ekonomi kreatif menjadi 7 jp untuk kelas XI dan 8 Jp untuk kelas XII

Advertisements

REVISI KURIKULUM SMK DAN KESULITAN DI TINGKAT OPERASIONAL


Husnudzon saja setiap revisi bertujuan positif, bukan karena proyek atau ganti personel sehingga terkesan unjuk gigi saja. Revisi terhadap kurikulum tentunya bertujuan untuk memberikan perubahan agar kurikulum yang dijalankan mengalami perbaikan dan menyesuaikan dengan tuntutan pendidikan pada era sekarang dan massa yang akan datang.

Berikut Contoh STRUKTUR KURIKULUM SMK Revisi 2018

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang sering mengalami revisi bahkan revisi yang terjadi hampir setiap tahun. Dinamisnya kurikulum ini menunjukkan keinginan pemerintah sebagai sebagai pemagang policy kebijakan pendidikan untuk semakin menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dan tantangan massa kini. sayangnya setiap revisi tentunya memberikan dampak yang siginifikan terutama pada satuan pendidikan sebagai pengelola pendidikan dilevel terbawah.

revisi kurikulum yang hampir setiap tahun ini tentunya mengakibatkan perlu perubahan dokumen kurikulum sekolah setiap tahun juga meliputi KTSP, Kalender pendidikan, rencana penilaian, penguatan kompetensi guru serta tentunya bentuk Laporan Hasil Belajar (Rapor) yang harus menyesuaikan dengan setiap revisi tersebut.

Revisi yang sering kali menyulitkan ketika dilakukan revisi terhadap spektrum serta struktur kurikulum. karena perubahan tersebut berdampak pada pengaturan beban kerja guru, penyebaran materi serta strategi penyelesaian kompetensi

Dengan segala hormat dan tanpa ada niatan sok pintar apalagi menggurui , revisi kurikulum yang dialami SMK benar-benar bombastis dan terkadang sulit dipahami. Revisi kurikulum setiap tahun menyisakan pengelolaan pembelajaran untuk tiga tingkat kelas x, xi dan xii berbeda satu sama lain.

idealnya kurikulum SMK direvisi minimal tiga tahun dan perubahannya dikaji serta disiapkan dengan matang sehingga ketika ditetapkan sudah siap secara materi perubahan, sosialisasi perubahan serta kesiapan SDM terhadap perubahan.

semoga segala perubahan atau revisi kurikulum SMK yang dilakukan pemerintah mencapai tujuan yang diharapkan serta kami khususnya para wakasek kurikulum SMK diberikan kemampuan untuk segera mengadaptasi setiap perubahan dan mengimplementasikannya dalam bentuk dokumen yang nyata dan operasional

 

salam wakasek kurikulum SMK Negeri 1 Banyuputih

Dadan Haedar Rauf, S.Si

 

NB :

diperoleh berdasarkan materi penyegaran kurikulum SMK 2018

PENYEGARAN KURIKULUM 2013 SUB MODEL MODEL PEMBELAJARAN


Materi Penyegaran K13 fokus Model Model Pembelajaran

Proses pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah (untuk pelaksanaan Kurikulum 2013) diatur melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 103 Tahun 2014 yang dipayungi dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses beserta lampirannya. Dalam lampiran  tersebut dinyatakan tentang konsep dasar mengenai proses pembelajaran yaitu bahwa peserta didik dipandang sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Sejalan dengan pandangan tersebut, pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya. Selanjutnya, agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, peserta didik perlu didorong untuk bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berupaya keras mewujudkan ide- idenya.

Guna melaksanakan proses pembelajaran haruslah kita pahami dan melakukan prinsip pembelajaran sebagai berikut:
a. dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
b. dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;
c. dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
d. dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
e. dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
f. dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
g. dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
h. peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
i. pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
j. pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);

Ilmu Pengetahuan Alam berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga Ilmu Pengetahuan Alam bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memeroleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Ilmu Pengetahuan Alam diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui penyelesaian masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan Ilmu Pengetahuan Alam perlu dilakukan secara bijaksana untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta mengomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah dengan menggunakan pendekatan ilmiah.
Karakteristik Ilmu Pengetahuan Alam tersebut sesuai dengan pandangan Trowbridge dan Bybee (1990) yang menyatakan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam merupakan suatu proses dan metode (methods and processes) serta produk- produk (body of scientific knowledge), juga nilai-nilai (values). Ilmu Pengetahuan Alam sebagai body of scientific knowledge, adalah hasil interpretasi/deskripsi tentang dunia kealaman (natural world). Hal ini sesungguhnya sama dengan elemen produk dari Ilmu Pengetahuan Alam. Tujuan Ilmu Pengetahuan Alam adalah pengembangan body of scientific knowledge (Hyllegard dan Morrow, 1996).
Ilmu Pengetahuan Alam sebagai proses/metode penyelidikan (inquiry methods) meliputi cara berpikir, bernalar, merumuskan masalah, melakukan percobaan dan pengamatan, menganalisis data, dan menyimpulkan untuk memeroleh produk- produk Ilmu Pengetahuan Alam. Sikap ilmiah yang dikembangkan dalam Ilmu Pengetahuan Alam antara lain: rasa ingin tahu, keseimbangan antara sikap terbuka dan tidak mudah percaya, jujur, disiplin, bertanggung jawab, tekun, hati-hati, teliti, peduli, mudah bekerja sama, toleran, santun, responsif dan proaktif. Dengan demikian, Ilmu Pengetahuan Alam dapat dipandang sebagai cara berpikir untuk memahami alam, sebagai cara untuk melakukan penyelidikan, dan sebagai kumpulan pengetahuan.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SMP/MTs dipandang bukan hanya untuk mentransformasikan ilmu (transfer of science), tetapi juga untuk membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi (analitis, sintesis, kritis, kreatif, dan inovatif) melalui pengalaman kerja ilmiah. Pengetahuan, keterampilan, kemampuan berpikir, dan kemampuan bersikap dari pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam akan membekali siswa untuk hidup di masyarakat, maupun untuk studi lanjut terkait dengan karakteristik Ilmu Pengetahuan Alam sebagai landasan berbagai ilmu dasar dan terapan. Selain itu pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dapat digunakan sebagai wahana untuk memahami alam, untuk membangun sikap dan nilai, serta untuk meningkatkan keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Memilih model pembelajaran dimulai dari menganalisis karakteristik tujuan yang akan dicapai, materi, siswa, lingkungan belajar (alat-alat, sarana dan prasarana, sumber belajar), serta kemampuan guru dalam sistem pengelolaan dan pengaturan lingkungan. Selanjutnya guru memilih model yang dapat mengakomodasi karakteristik-karakteristik tersebut.

Tidak semua karakteristik yang ada sesuai dengan spesifikasi model. Dalam hal ini guru hendaklah memilih karakteristik terpenting yang harus diakomodasi, atau menggunakan dua model secara bersamaan. Di samping itu, dengan mempelajari model-model pembelajaran yang telah ada, guru dapat mengembangkan/ menciptakan model pembelajaran sendiri.
Pemilihan model pembelajaran (discovery learning, project based learning, atau problem based learning) sebagai pelaksanaan pendekatan ilmiah, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam memerlukan analisis yang cermat sesuai dengan karakteristik kompetensi dan kegiatan pembelajaran dalam silabus. Pemilihan model pembelajaran mempertimbangkan hal-hal berikut.
Karakteristik pengetahuan yang dikembangkan menurut kategori faktual, konseptual, dan prosedural. Pada pengetahuan faktual dan konsepetual dapat dipilih discovery learning, sedangkan pada pengetahuan prosedural dapat dipilih project based learning dan problem based learning.

Karakteristik keterampilan yang tertuang pada rumusan kompetensi dasar dari KI- 4. Pada keterampilan abstrak dapat dipilih discovery learning dan problem based learning, sedangkan pada keterampilan konkrit dapat dipilih project based learning.

Pemilihan ketiga model tersebut mempertimbangkan sikap yang dikembangkan, baik sikap religius (KI-1) maupun sikap sosial (KI-2)

contoh Matriks pemilihan Model Pembelajaran sebagai berikut :

Mari kita berubah menjadi guru yang lebih baik demi menghasilkan generasi bangsa yang kompeten sesuai zamannya

sumber :

Modul Penyegaran Instruktur K13 Mata Pelajaran IPA, Kemdikbud 2018

Praktek SAINS Sederhana : Membuat Batere dari KOIN



gb wonderfulengineeering.com

Alat dan Bahan :

  1. sejumlah koin logam (min 20)
  2. lempeng tembaga
  3. alumunium foil
  4. larutan cuka
  5. lampu LED

 

Penjelasan

Baterai menggunakan reaksi kimia untuk menghasilkan elektron. Mengikuti kaidah potensialnya, elektron bergerak dari zat bermuatan positif (katoda) atau ke zat bermuatan negatif (anoda) melalui elektrolit. Ketika Anda menghubungkan baterai ke sirkuit, elektron bergerak melalui sirkuit dan menyediakan tenaga listrik di sirkuit itu.

Membuat sebuah baterai dari koin, dilakukan dengan cara

  1. tembaga dan almunium foil disusun berselang seling hingga membentuk batangan
  2. setiap sela antara almunium foil dan tembaga diberi elektrolit berupa cuka,
  3. tembaga dalam koin berfungsi sebagai katoda, aluminium foil merupakan anoda, dan cuka dan garam  adalah elektrolit.
  4. Susun beberapa baterai ini tiga potong bersama-sama, akhirnya positif sampai akhir negatif, semakin banyak lapisan yang disusun baterai lebih kuat.

Kita dapat menggunakan kawat tembaga yang melekat pada positif (koin) sisi dan negatif (sisi foil). Untuk menghasilkan daya pada baterai, Pada ujung tembaga diletakan lampu LED atau beberapa perangkat pengukur tegangan rendah lainnya untuk mengukur arus yang terbentuk.

sumber :

wonderful.engineering.com

BAGAIMANA MENGAJARKAN SAINS DENGAN BAIK


Maaf sebelumnya tulisan ini tidak bermaksud mengajari hanya sekedar memberikan informasi dan semoga menjadi tambahan motivasi untuk berbagi ilmu dengan lebih baik lagi

Dalam American Association for the Advancement of Science, 1990a; McDermott et al., 1994; Mazur, 1996:

beberapa prinsip yang harus diterapkan dalam mengajarkan sains yaitu :

  • Ajarkanlah cara pandang sains /Teach scientific ways of thinking.

  • Libatkan secara aktif siswa dalam pembelajaran mereka / Actively involve students in their own learning.

  • Fasilitasi siswa-siswa untuk mengembangkan konsep kerangka kerja yang baik untuk mengembangkan kemampuannya dalam memecahkan masalah /Help students to develop a conceptual framework as well as to develop problem solving skills.

  • Kembangkan kegiatan diskusi siswa dan aktivitas dalam berkelompok /Promote student discussion and group activities.

  • Fasilitasi pengalaman sains siswa secara bervariasi, menarik dan dengan cara menyenangkan / Help students experience science in varied, interesting, and enjoyable ways.

  • Berikan penilaian pemahaman siswa dalam interval tertentu selama proses pembelajaran /Assess student understanding at frequent intervals throughout the learning process.

Beberapa Petunjuk untuk pengajaran sains yang lebih efektif

1. Dalam proses mengajar salah satu cara untuk menjaga keterlibatan siswa adalah melakukan penghentian sejenak secara periodik untuk mengukur pemahaman siswa atau untuk menginisiasi diskusi singkat dengan siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan memanggil siswa secara invidu untuk menjawab pertanyaan atau menawarkan komentar untuk menarik perhatian siswa, meskipun beberapa siswa lebih senang jika dilakukan secara sukarela bukan atas ditunjuk atau disebutkan namanya.

2. Berikan mereka kesempatan untuk berdiskusi dalam kelompok kecil sehingga group tersebut dapat menawarkan solusi, cara ini dapat membantu siswa mengeluarkan pendapatnya

3. pilihan lainnya adalah memberikan mereka kewajiban untuk menuliskan jawabannya dalam kartu berindeks yang selanjutnya kartu tersebut dapat dialirkan pada siswa lain sehingga siswa dapat memilih jawaban untuk dipresentasikan dari tempat duduknya tanpa harus tahu darimana sumber jawaba tersebut.

(Eble, 1988; Davis, 1993; Lowman, 1995; McKeachie, 1994):

4. Hindarilah pengulangan secara langsung dari materi yang terdapat dalam buku teks  meskipun hal ini bermanfaat namun menimbulkan kejenuhan

5. gunakan paradoks, teka teki atau kondisi kontradiksi semu untuk melibatkan siswa

6. hubungkan materi dengan kejadian tertentu yang aktual dan fenomena sehari-hari

7. Mulailah setiap kelas dengan sesuatu yang familiar dan penting bagi siswa

8. akhiri kegiatan belajar di kelas dengan membuat rangkuman atau resume yang disimpulkan

9. Adaptasi roman muka atau ekspresi yang beralasan dan sesuai dengan lingkup materi dan pemahaman siswa

10. pertimbangkan untuk menggunakan slide proyektor, video, film, dan simulasi komputer untuk meningkatkan kualitas presentasi kita dengan mengingat beberapa hal berikut :

  • siswa tidak dapat menulis dalam kondisi ruangan gelap
  • buku teks harus dipelajari sebelumnya untuk memberikan informasi awal bagi murid

  • siswa memerlukan waktu untuk membuat rangkuman hasil observasinya dan menggambarkan serta mencatat kesimpulan yang diperolehnya.

  • perhatikan ketersampaian materi selama proses mengajar

  • pertahankan kontak mata dengan siswa di seluruh ruangan kelas.

  • Melangkah keluar dari posis bangku guru jika memungkinkan.

  • bergeraklah ke sekeliling kelas tetapi jangan sampai mengganggu perhatian siswa

  • biacara dan berkomunikasilah dengan siswa jangan dengan papan tulis

  • jika menggunakan proyektor hindari menutupi tampilan

  • tingkatkan gairah dan motivasi

  • variasikan teknik presentasi yang digunakan

Demikian semoga tulisan ini bermanfaat meski sekedar pengingat agar kita selalu berusaha mengevaluasi diri kita bukan semata-mata menyalahkan kondisi “Murid Zaman Now”

sumber :

How Teachers Teach: Specific Methods.” National Research Council. 1997. Science Teaching Reconsidered: A Handbook. Washington, DC: The National Academies Press. doi: 10.17226/5287.

UAS FISIKA TAHUN PELAJARAN 2017/2018


Silahkan klik linknya (edisi test)

https://www.classmarker.com/online-test/start/?quiz=dhk5aa0bd1a1d7b7

PANDUAN PEMBUATAN PREDIKAT DAN DESKRIPSI NILAI PADA RAPOR KURIKULUM 2013


PANDUAN PEMBUATAN PREDIKAT DAN DESKRIPSI NILAI PADA RAPOR KURIKULUM 2013

(Sesuai PANDUAN PENILAIAN HASIL BELAJAR SMK 2017)

  1. Ketentuan Predikat

Predikat ditentukan oleh KKM Mapel. Rumus umumnya

Rentang = (100 – nilai KKM) / 3

contoh

Apabila KKM = 70

maka rentang = (100 – 70)/3 = 30 / 3 = 10

sehingga

Predikat A untuk nilai >= 91

Predikat B  untuk nilai >= 81

Predikat C untuk nilai >= 70

Khusus Tahun Pelajaran 2017/2018 sementara SMKN 1 Banyuputih mengikuti perumusan KKM yang ditetapkan pada KTSP 2017/2018 yaitu Mapel UN dan Semua Mapel Produktif kelompok C2 dan C3 KKM=75 sedangkan mapel lain KKM=70.

Sehingga Distribusi Predikat sebagai berikut:

KKM A B C D
75 >=92 84 – 91 75 – 83 <75
70 >=91 81 – 90 70 – 80 <70

 

  1. Deskripsi
Predikat Deskripsi Catatan
A Sangat Menonjol dalam “pada KD sesuai mapel” contoh :

Deskripsi Mapel PAI kelas X

“Sangat Menonjol menganalisis QS Al-Isra ayat 32 dan Q.S. An-Nur ayat 2 tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina”

Pilih KD dimana siswa menunjukkan nilai maksimal
B Menonjol dalam “pada KD sesuai mapel” contoh :

Deskripsi Mapel PAI Kelas X

“Menonjol menganalisis QS Al-Isra ayat 32 dan Q.S. An-Nur ayat 2 tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina”

C Cukup Menonjol dalam “pada KD sesuai mapel” contoh :

Deskripsi Mapel PAI Kelas X

“Cukup Menonjol menganalisis QS Al-Isra ayat 32 dan Q.S. An-Nur ayat 2 tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina”

D  Kurang Menonjol dalam “pada KD sesuai mapel” contoh :

Deskripsi Mapel PAI Kelas X

“Kurang Menonjol menganalisis QS Al-Isra ayat 32 dan Q.S. An-Nur ayat 2 tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina”

Pilih KD dimana siswa menunjukkan nilai Kurang

Selamat bekerja dengan profesional dan bertanggung jawab, Semoga bermanfaat!

Wakasek Kurikulum

Mr. Dans