HAK DAN KEWAJIBAN PROFESI GURU

Pekerjaan sebagai guru dewasa ini sudah diakui sebagai sebuah profesi, sehingga guru di zaman now alias zaman sekarang berlomba-lomba untuk mendapat tunjangan profesi guru. sayang seribu sayang justru masih banyak guru yang tidak meningkatkan profesionalismenya sebagai guru baik secara akademik maupun dalam tanggung jawabnya agar layak disebut profesional dan mendapat tunjangan profesional.

Tugas utama Guru adalah mendidik dan mengajar. Mendidik anak didik agar sesuai dengan usia dan jenjang pendidikannya dan memiliki pendidikan moral yang sesuai. Mengajar merupakan pelaksanaan proses pembelajaran dan menjadi proses yang paling penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengabdian guru dalam dunia pendidikan yang sangat besar tersebut sangat memberikan kontribusi yang tinggi dalam rangka mencapai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai yang tertera pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Guru sebagai sebuah profesi tenaga kependidikan memiliki hak dan kewajiban yang menyangkut dunia pendidikan yang digeluti. Hak guru merupakan apa-apa saja yang didapatkan oleh seseorang yang memiliki profesi guru, dan kewajiban guru adalah apa-apa saja yang harus dilaksanakan seorang guru dalam menjalankan profesinya. Hak dan kewajiban guru ini dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen sehingga setiap guru mandapatkan perlindungan terhadap hak yang dimiliki dan kewajiban yang harus dilaksanakan.

Di dalam al-Quran ditemukan beberapa kata yang menunjukan kepada pengertian pendidik:

1. Muallim (Q.S. 29:34 dan Q.S. 35:28).Muallim adalah orang yang menguasai ilmu mampu mengembangkannya dan menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, serta menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya sekaligus.

2. Murabbi (Q.S. 17:24).Murabbi adalah pendidik yang mampu menyiapkan mengatur, mengelola, membina, memimpin, membimbing dan mengembangkan potensi kreatif pesera didik, yang dapat digunakan bagi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berguna bagi dirinya, dan makhluk Tuhan di sekelilingnya.

3. Mudarris. Mudarris adalah pendidik yang mampu menciptakan suasana pembelajaran yang dialogis dan dinamis, mampu membelajarkan peserta didik dengan belajar mandiri, atau memperlancar pengalaman belajar dan menghasilkan warga belajar.

4. Mursyid (Q.S. 18:17).Mursyid adalah pendidik yang menjadi sentral figur bagi peserta didiknya, memiliki wibawa yang tinggi di depan peserta didiknya, mengamalkan ilmu secara konsisten, merasakan kelezatan dan manisnya iman terhadap Allah Swt

5. Muzakki.Muzakki adalah pendidik yang bersifat hati-hati terhadapapa yang akan diperbuat, senantiasa mensucikan hatinya dengan cara menjauhkan semua bentuk sifat-sifat mazmumah dan mengamalkan sifat-sifat mahmudah.

6. Mukhlis (Q.S. 98:5).Mukhlis adalah pendidik yang melaksanakan tugasnya dalam mendidik dan mengutamakan motivasi ibadah yang benar-benar ikhlas karena Allah

Hak-Hak Guru

Berdasarkan Undang-Undang Guru dan Dosen No 14 Tahun 2005  pasal 14 ayat 1 menyatakan, bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru memiliki hak sebagai berikut:

  1. Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial.
  2. Mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja.
  3. Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual.
  4. Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi.
  5. Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan.
  6. Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik
  7. sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.
  8. Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas.
  9. Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi.
  10. Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan.
  11. Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi, dan/atau
  12. Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

Kewajiban Guru

Menurut UU Guru dan Dosen pasal 20, bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:

  1. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
  2. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  3. Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar
  4. belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.
  5. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika, dan
  6. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Seyogyanya penuntutan Hak dari para guru juga betul-betul seimbang dengan sejauh mana kewajiban yang sudah dilaksanakannya. Sungguh ironis juga ketika  banyak guru yang sudah melaksanakan kewajiban namun belum mendapatkan hak-hak yang semestinya bisa mereka dapatkan. Terutama di daerah yang jauh dari kota, selain sarana dan prasarana yang masih kurang, kesejahteraan kehidupan guru yang bisa dicapai dari penerimaan hak belum mampu dinikmati seluruh guru. Bukti nyata ialah kesejahteraan guru terutama Guru Sukwan  yang masih memiliki Kesejahteraan dibawah UMR bahkan tidak mencapai setengahnya sehingga kesejahteraan guru bahkan jauh dibawah karyawan swalayan yang hanya lulusan SMA/SMK.

Dibalik itu yang masih ironis juga ketika guru PNS begitu ngotot mengejar Tunjangan Profesinya sementara pelaksanaan kewajibannya jauh daribatasan wajar atau normal. Tentunya hal ini merusak sistem moral komponen lembaga pendidikan terutama tenaga honorer atau sukwan dan secara makro merusak pendidikan bagi murid-murid sebagai penerus generasi bangsa. Naudzubillah tsumma Naudzubillah semoga rekan-rekan guru dijauhkan dari tipe guru seperti itu dan tetaplah bekerja dengan baik dan ikhlas semoga Alloh SWT mempermudah dan meningkatkan keberkahan rejeki kita

katanya orang “madura swasta” dicukupkan dengan “Patennang bede’ Alloh sengator rejeki”

Innalloooha Maana

Salam Berbagi dan bekerja dengan Ikhlas dan penuh tanggungjawab

Advertisements

4. Gajah (Al Fiil) : Seri Hewan Menakjubkan dalam Al-Quran

Berbicara tentang gajah tentu kita ingat akan surat  dalam Al-Quran yaitu surat Al Fiil yaitu surat ke-105  yang mempunyai makna gajah.

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصۡحَٰبِ ٱلۡفِيلِ ١

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah”

(Al-Fiil ayat 1)

A. Tinjauan Sains

Gajah termasuk jenis mamalia besar dari familia Elephantidae dan ordo Proboscidea. Terdapat dua spesies gajah yaitu gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus), walaupun beberapa bukti menunjukkan bahwa gajah semak afrika dan gajah hutan afrika merupakan spesies yang berbeda (L. africana dan L. cyclotis). Gajah tersebar di seluruh Afrika sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Elephantidae adalah satu-satunya familia dari ordo Proboscidea yang masih lain; familia lain yang kini sudah punah termasuk mammoth dan mastodon.

Gajah afrika jantan merupakan hewan darat terbesar dengan tinggi yang dapat mencapai 4 m (13 ft) dan massa yang kurang lebih 7.000 kg (15.000 lb). Gajah memiliki ciri-ciri khusus, dengan yang paling mencolok adalah belalai atau proboscisyang digunakan untuk banyak hal, terutama untuk bernapas, menghisap air, dan mengambil benda. Gigi serinya tumbuh menjadi taring yang dapat digunakan sebagai senjata dan alat untuk memindahkan benda atau menggali. Daun telinganya yang besar membantu mengatur suhu tubuh mereka. Gajah afrika memiliki telinga yang lebih besar dan punggung yang cekung, sementara telinga gajah asia lebih kecil dan punggungnya cembung.

Gajah merupakan hewan herbivora yang dapat ditemui di berbagai habitat, seperti sabana, hutan, gurun, dan rawa-rawa. Mereka cenderung berada di dekat air. Gajah dianggap sebagai spesies kunci karena dampaknya terhadap lingkungan. Hewan-hewan lain cenderung menjaga jarak dari gajah, dan predator-predator seperti singa, harimau. hyena, dan anjing liar biasanya hanya menyerang gajah muda. Gajah betina cenderung hidup dalam kelompok keluarga, yang terdiri dari satu betina dengan anak-anaknya atau beberapa betina yang berhubungan dengan anak-anak mereka. Kelompok ini dipimpin oleh individu gajah yang disebut matriark, yang biasanya merupakan betina tertua. Gajah memiliki struktur kelompok fisi-fusi, yaitu ketika kelompok-kelompok keluarga bertemu untuk bersosialisasi. Gajah jantan meninggalkan kelompok keluarganya ketika telah mencapai masa pubertas, dan akan tinggal sendiri atau bersama jantan lainnya. Jantan dewasa biasanya berinteraksi dengan kelompok keluarga ketika sedang mencari pasangan dan memasuki tahap peningkatan testosteron dan agresi yang disebut musth, yang membantu mereka mencapai dominasi dan keberhasilan reproduktif. Anak gajah merupakan pusat perhatian kelompok keluarga dan bergantung pada induknya selama kurang lebih tiga tahun. Gajah dapat hidup selama 70 tahun di alam bebas. Mereka berkomunikasi melalui sentuhan, penglihatan, penciuman, dan suara; gajah menggunakan infrasuara dan komunikasi seismik untuk jarak jauh. Kecerdasan gajah telah dibandingkan dengan kecerdasan primata dan cetacea. Mereka tampaknya memiliki kesadaran diri dan menunjukkan empati kepada gajah lain yang hampir atau sudah mati.

Gajah afrika digolongkan sebagai spesies yang rentan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), sementara gajah asia diklasifikasikan sebagai spesies terancam. Salah satu ancaman utama bagi gajah adalah perdagangan gading yang memicu perburuan liar. Ancaman lain adalah kehancuran habitat dan konflik dengan penduduk lokal. Gajah digunakan sebagai hewan pekerja di Asia. Dulu mereka pernah digunakan untuk perang; kini, gajah seringkali dipertontonkan di kebun binatang dan sirkus. Gajah dapat dengan mudah dikenali dan telah digambarkan dalam seni, cerita rakyat, agama, sastra, dan budaya populer.

B. Keistimewaan Gajah
1. Hewan ini begitu tangguh dipakai untuk perjalanan jarak jauh.
Dalam surat Al Fiil, Allah bercerita pasukan Abrahah yang berkendaraan gajah yang menginginkan menghancurkan Ka’bah. Tetapi sebelumnya kemauan itu terwujud, Allah sudah menghancurkan mereka. Allah kirimkan pada mereka sekawanan burung ababil yang lalu menghujani mereka dengan batu neraka. Jadi matilah mereka semuanya.
Gajah memiliki bobot 5 ton lebih. Meski sangat berat, mereka berjalan dengan ringan dan nyaman. Semua ini terjadi karena adanya suatu rancangan khusus pada tubuh gajah. Andai saja ukuran mereka sedikit lebih besar, maka kaki mereka takkan mampu menopangnya. Tapi gajah memiliki kaki yang sungguh merupakan keajaiban perancangan. Sehingga, walau tubuh gajah sangat berat, mereka berjalan dengan amat ringan.
Bantalan tebal berupa jaringan kenyal, yang tumbuh sebagai lapisan pada bagian bawah setiap telapak kaki gajah, menyerap guncangan berat badannya. Lapisan bantalan ini menyebarkan efek tekanan yang dikenakan gajah ke permukaan tanah. Itu memungkinkannya mengangkat kaki dengan mudah. Berkat bantalan ini, gajah mampu berjalan menempuh jarak yang jauh meskipun tubuhnya amat berat. Menurut hukum fisika, seorang wanita bersepatu hak tinggi akan memberikan tekanan lebih besar pada permukaan tanah daripada satu kaki gajah.

2. Gajah adalah hewan darat paling besar didunia namun dapat berenang.
Gajah ialah satu-satunya mamalia yg tidak dapat melompat. Walau sekian, gajah mempunyai kekuatan lain, yakni berenang. Mereka memakai belalainya untuk bernapas saat berenang.
3. Gajah dapat mendeteksi kehadiran sumber air dalam jarak 5 km.
Gajah mempunyai indra yang tajam, terlebih pendengaran serta memorinya. Diantara semuanya makhluk darat yang hidup sekarang ini, gajah memiliki otak yang terbesar.
4. Gajah memiliki daya ingat yang kuat.
Kekuatan memori gajah itu bisa dibuktikan dari langkah mengingat rute serta jarak tempuh perjalanan mereka, mengingat anggota satu koloni, dan kekuatan membedakan panggilan untuk semasing gajah yang lain. Gajah bisa memanggil gajah yang lain dalam jarak berkilo-kilo meter. Panggilan itu dapat lewat teriakan yang cukup keras atau mungkin dengan panggilan lewat tanah. Allahu akbar!
sumber :

SUPERVISI PEMBELAJARAN

 

A. Pengertian
Supervisi kelas atau supervisi akademik ialah kegiatan wajib yang harus dilaksanakan oleh Kepala Sekolah dalam setiap tahun akademik. Dalam pelaksanaannya kepala sekolah diperbolehkan menunjuk beberapa guru utuk membantu tugas tersebut dengan memperhatikan senioritas, integritas, kualitas serta kepangkatan dari guru-guru tersebut.
Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran Glickman (1981).  Sementara itu,  Daresh (1989) menyebutkan bahwa supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran.
 Istilah “supervisi kelas” mengacu kepada misi utama pembelajaran, yaitu kegiatan yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan prestasi akademik. Sehingga supervisi kelas adalah kegiatan yang berurusan dengan perbaikan dan peningkatan proses dan hasil pembelajaran di sekolah.
Dalam konteks profesi pendidikan, khususnya profesi mengajar, mutu pembelajaran merupakan refleksi dari kemampuan profesional guru. Karena itu, supervisi kelas berkepentingan dengan upaya peningkatan kemampuan profesional guru yang berdampak terhadap peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. Dengan demikian fungsi supervisi kelas adalah salah satu mekanisme untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam upaya mewujudkan proses belajar peserta didik yang lebih baik melalui cara mengajar yang lebih baik pula. Dalam analisis terakhir, keefektifan supervisi kelas indikatornya adalah peningkatan hasil belajar peserta didik.
B. Tujuan dan Sasaran
Tujuan utama supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya. Meskipun demikian, supervisi akademik tidak bisa terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran.
Sasaran supervisi kelas adalah:
a. Proses pembelajaran peserta didik.
b. Menjadikan kepala sekolah dan guru sebagai professional learners.
c. Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk memiliki kemampuan manajemen sumber daya pendidikan
C. Prinsip-prinsip Supervisi
Prinsip-Prinsip Supervisi Kelas dilaksanakan atas dasar keyakinan sebagai berikut:
1. Pengawasan terhadap penyelenggaraan proses pembelajaran (PBM) hendaknya menaruh perhatian yang utama pada peningkatan kemampuan profesional gurunya, yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran;
2. Pembinaan yang tepat dan terus-menerus yang diberikan kepada guru-guru berkontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran;
3. Peningkatan mutu pendidikan melalui pembinaan profesional guru didasarkan atas keyakinan bahwa mutu pembelajaran dapat diperbaiki dengan cara paling baik di tingkat sekolah/kelas melalui pembinaan langsung dari orang-orang yang bekerjasama dengan guru-guru untuk memperbaiki mutu pembelajaran;
4. Supervisi yang efektif dapat menciptakan kondisi yang layak bagi pertumbuhan profesional guru-guru. Kondisi ini ditumbuhkan melalui kepemimpinan partisipatif, di mana guru-guru merasa dihargai dan diperlukan. Dalam situasi seperti ini akan lahir saling kepercayaan antara para pembina (pengawas, kepala sekolah) dengan guru-guru, antara guru dengan guru, dan di antara pembina sendiri. Guru-guru akan merasa bebas membicarakan pekerjaannya dengan pembina jika ada keyakinan bahwa pembina akan menghargai pikiran dan pendapatnya;
5. Supervisi yang efektif dapat melahirkan wadah kerjasama yang dapat mempertemukan kebutuhan profesional guru-guru. Melalui wadah ini, guru-guru memiliki kesempatan untuk berpikir dan bekerja sebagai suatu kelompok dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari di bawah bimbingan pembina dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran;
6. Supervisi yang efektif dapat membantu guru-guru memperoleh arah diri, memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi sehari-hari, belajar memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari dengan imajinatif dan kreatif. Dalam suasana seperti itu, pemikiran dan alternatif pemecahan masalah, maupun gagasan inovatif akan muncul dari bawah dalam upaya menyempurnakan proses pembelajaran tanpa menunggu instruksi atau petunjuk dari atas. Dengan demikian, supervisi yang efektif dapat merangsang kreativitas guru untuk memunculkan gagasan perubahan dan pembaruan yang ditujukan untuk memperbaiki proses pembelajaran; dan
7. Supervisi yang efektif hendaknya mampu membangun kondisi yang memungkinkan guru-guru dapat menunaikan pekerjaanya secara profesional, ketersediaan sumber daya pendidikan yang diperlukan memberi peluang kepada guru untuk mengembangkan proses pembelajaran yang lebih baik.
Kegiatan supervisi kelas diwujudkan oleh para supervisor dalam bentuk sikap dan tindakan yang dilakukan dalam interaksi antara supervisor dengan guru-guru. Kegiatan tersebut selain memperhatikan konsep/teori di atas sebagai landasan dan keyakinan dalam melaksanakan tugas dan fungsionalnya, supervisor juga perlu memperhatikan dan berpedoman pada prinsip-prinsip supervisi, yaitu ;
a. Supervisi hendaknya dimulai dari hal-hal yang positif;
b. Hubungan antara para pengawas dengan guru-guru hendaknya didasarkan atas hubungan kerja secara profesional;
c. Pembinaan profesional hendaknya didasarkan pada pandangan objektif;
d. Pembinaan profesional hendaknya didasarkan atas hubungan manusiawi yang sehat;
e. Pembinaan profesional hendaknya mendorong pengembangan inisitif dan kreativitas guru-guru;
f. Pembinaan profesional harus dilaksanakan terus-menerus dan berkesinambungan;
g. Pembinaan profesional hendaknya dilakukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing guru; dan
h. Pembinaan profesional hendaknya dilaksanakan atas dasar rasa kekeluargaan, kebersamaan, keterbukaan, dan keteladanan.
D. Instrumen
Instrumen diperlukan untuk menjaga profesionalisme dan objektivitas dalam pelaksanaan supervisi.
D.1. Instrumen Perangkat Pembelajaran
D.2. Instrumen Persiapan Pembelajaran
D.3. Instrumen Pelaksanaan Pembelajaran
E. Laporan dan Tindak Lanjut
agar terlaksana Kegiatan Supervisi dengan baik tentunya harus dibuatkan
1. SK Pelaksana Supervisi Akademik
2. Jadwal Supervisi Akademik
3. Instrumen Supervisi
4. Tindak Lanjut Supervisi

sumber :

http://gusppy.blogspot.co.id/2010/04/supervisi-kelas.html

PKL PADA KURIKULUM 2017

Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah kegiatan wajib bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu kegiatan belajar dengan objek dan tempat langsung di Dunia Usaha / Dunia Industri. Dalam Kurikulum 2013 (rev 2017) pelaksanaan PKL selama 120 hari / 24 minggu / 6 Bulan.

Proses Pembelajaran di dunia kerja (DUDI) disebut dengan Praktik kerja lapangan (PKL) untuk
penerapan, pemantapan, dan peningkatan kompetensi. Pelaksanaan PKL melibatkan praktisi
ahli yang berpengalaman di bidangnya melalui pembimbingan praktik.

A. Dasar Hukum

  1. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  2. PP No. 19 Tahun 2005 yang terakhir diubah dengan PP No. 13 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan.
  3. PP RI No. 17 Tahun 2010 yang telah diubah dengan PP RI No. 66 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
  4. PP RI No. 41 Tahun 2015 tentang Pembangunan Sumber Daya Industri.
  5. Perpres No. 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI);
  6. Inpres No. 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia.
  7. Permen Perindustrian No. 03/M-IND/PER/1/2017 tentang Pedoman Pembinaan dan
    Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan Berbasis Kompetensi yang Link and Match
    dengan Industri.
  8. Permen Tenaga Kerja No. 36 tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pemangangan di Dalam Negeri.
  9. Permen Pendidikan dan Kebudayaan No…. tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Menengah Kejuruan.
  10. Keputusan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud No. 4678/D/KEP/MK/2016 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan.
  11. Keputusan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud No. 130/D/KEP/KR/2017 tentang Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah Kejuruan.

B. Tujuan PKL

  1. Memberikan pengalaman kerja langsung (real) untuk menanamkan (internalize) iklim kerja positif yang berorientasi pada peduli mutu proses dan hasil kerja.
  2. Menanamkan etos kerja yang tinggi bagi peserta didik untuk memasuki dunia kerja menghadapi tuntutan pasar kerja global.
  3. Memenuhui hal-hal yang belum dipenuhi di sekolah agar mencapai keutuhan standar kompetensi lulusan.
  4. Mengaktualisasikan penyelenggaraan Model Pendidikan Sistem Ganda (PSG) antara SMK dan Institusi Pasangan (DUDI), memadukan secara sistematis dan sistemik program pendidikan di SMK dan program latihan di dunia kerja (DUDI).

C. Manfaat PKL

C.1. Bagi Peserta Didik

  1. Mengaplikasikan dan meningkatkan ilmu yang telah diperoleh di sekolah.
  2. Menambah wawasan dunia kerja, iklim kerja positif yang berorientasi pada peduli mutu proses dan hasil kerja.
  3. Menambah dan meningkatkan kompetensi serta dapat menamkan etos kerja yang tinggi.
  4. Memiliki kemampuan produktif sesuai dengan kompetensi keahlian yang dipelajari ditempat PKL
  5. Mengembangkan kemampuannya sesuai dengan bimbingan/ arahan pembimbing industri

C.2. Bagi Sekolah

  1. Terjalinnya hubungan kerjasama yang saling menguntungkan antara sekolah dengan duni kerja (perusahaan)
  2. Meningkatkan kualitas lulusannya melalui pengalaman kerja selama PKL.
  3. Mengembangkan program sekolah melalui sinkronisasi kurikulum, proses pembelajaran, teaching factory, dan pengembangan sarana dan prasarana praktik berdasarkan hasil pengamatan di tempat PKL.
  4. Meningkatkan kualitas lulusan

C.3. Bagi DU/DI

  1. Dunia Kerja (DUDI) lebih dikenal oleh masyarakat sekolah sehingga dapat membantu promosi produk.
  2. Adanya masukan yang positif dan konstruktif dari SMK untuk perkembangan DUDI.
  3. Dunia kerja/DUDI dapat mengembangkan proses dan atau produk melalui optimalisasi peserta PKL.
  4. Mendapatkan calon tenaga kerja yang berkualitas sesuai dengan kebutuhannya.
  5. Meningkatkan citra positif DUDI sebagai bentuk implementasi dari Inpres No 9 tahun 2016

D. Fungsi PKL

  1. Pemantapan Kompetensi . Pembelajaran di SMK belum memenuhi standar indusri, dilihat dari ketersediaan jenis dan jumlah peralatan, kompetensi pengajar, kondisi dan situasi belajar, dan situasi melayani konsumen secara langsung.
  2. Realisasi Pendidikan Sistim Ganda (PSG). Aktualisasi PSG, SMK bermitra dengan DUDI. SMK yang melakukan memorandum of understanding (MoU) dengan DUDI dalam pelaksanaan pembelajaran: SMK PIKA Semarang, SMK Negeri 1 Singosari Malang yang membuka kelas ASTRA, SMK N 3 Banduran Sidoarjo (STM Perkapalan) dengan PT PAL Indonesia dan lain-lain

E. Pelaksanaan PKL

1. Pola harian (120-200 hari efektif).
>> 5 hari x 4 minggu x 6 bulan (120 hari)
>> 5 hari x 4 minggu x 10 bulan (200 hari).
2. Pola mingguan (24-40 minggu).
>> 4 minggu x 6 bulan (24 minggu)
>> 4 minggu x 10 bulan (40 minggu).
3. Pola bulanan (6-10 bulan).
Penyelenggaraan PKL pola bulanan ini dilakukan dengan cara mendistribusikan 6-10 bulan siswa mengikuti PKL ke dalam bulan efektif pembelajaran.

 

Demikian uraian tentang PKL semoga bermanfaat

sumber tulisan :

Pedoman PKL dari Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan 2017

MEMANAGE HOBBY SELFIE DALAM DUNIA EDUKASI

Selfie atau Swafoto (lebih dikenal foto narsis)adalah memfoto diri sendiri dengan kamera atau mengarahkan foto ke arah sendiri. Jika sudah ramai-ramai, disebut groufie (group selfies). Fenomena narsis ini dilakukan dengan menshare/ memamerkan tempat mereka kunjungi, kecantikan dan ketampanannya ke media sosial seperti facebook, Path, BBM, Twitter atau Instagram dengan berbagai tujuan antara lain show up aktivitas atau menunjukkan kelebihan dengan rasa percaya diri untuk mendapat pujian atau sanjungan.

Pada tahun 2013, kata selfie secara resmi tercantum dalam Oxford English Dictionary versi daring, dan bulan November 2013, Oxford Dictionary menobatkan kata ini sebagai Word of the Year tahun 2013, menyatakan bahwa kata ini berasal dari Australia. Awal penggunaan kata selfie terjadi pada tahun 2002. Kata ini pertama kali muncul dalam sebuah forum Internet Australia (ABC Online) pada tanggal 13 September 2002.

Gwendolyn Seidman, associate professor di Albright College telah melakukan penelitian dengan hasil  menunjukkan bahwa baik narsisme dan self-objectification (kecenderungan takjub pada diri sendiri) terkait dengan menghabiskan waktu lebih banyak di media sosial, juga kekerapan mengedit foto. Mengunggah foto selfie secara sering juga berhubungan dengan tingginya tingkat narsisme dan kecenderungan psikopat.

 

Dr. Pamela Rutledge, Director Media Psychology Research Centre, seperti dikutip dari Mashable.com, malah berucap, “Berkaca dan memotret diri sendiri atauselfie adalah dua hal yang berbeda. Dengan mematut diri di depan kaca menimbulkan pergerakan yang nyata, sedangkan selfie lebih kepada imaji yang Anda ciptakan sendiri demi mendapatkan perhatian dari orang lain. Hal yang demikian menunjukkan seseorang yang kesepian, butuh pengakuan, selalu ingin menjadi pusat perhatian dan biasanya tidak terlalu pintar.”

Dr. David Veale, psikiater dari  London, menyampaikan pada The Sunday Mirror: “Dua dari Tiga pasien yang datang kepada saya dengan Body Dysmorphic Disorder (BDD) sejak ramainya handphone berkamera, mereka secara konsisten terus-menerus mengambil gambar secara selfie dan memgunggahnya di media sosial”

Selfie/groufie dapat menghilangkan esensi dari tujuan awal dalam mengerjakan sesuatu. contohnya, orang berbagi makanan dengan anak yatim, melakukan ibadah tahajud di malam hari, mengikuti pengajian, orang naik haji atau umrah yang sebenarnya niat untuk ibadah, akhirnya jadi ajang selfie dan pamer-pameran berlebihan sehingga esensi ibadahnya seolah-olah tertutupi dengaan oleh aktivitas foto yang berlebihan.

Sebenarnya hobi selfie dapat kita arahkan agar menjadi kegiatan yang bermutu, berkualitas dan memiliki nilai edukasi/edukatif.  caranya adalah

  1. Kurangi selfie yang menonjolkan aktivitas fisik yang cenderung tidak natural seperti bibir dibulatkan/monyong, lidah dijulurkan atau mata diposekan menggoda dan lain-lain.
  2. Dalam foto selfie tunjukan aktivitas anda sertai keterangan yang menunjukkan nilai positif dari kegiatan yang kita lakukan sehingga orang tidak hanya melihat foto tetapi juga menyimak tulisan kita.
  3. Background dimana anda sedang berada atau objek yang sedang bersama anda dieksploitasi lagi sehingga menjadi berita atau informasi positif dan bermanfaat.  Ini sekaligus akan menambah informasi publik tentang foto selfie anda.
  4. dalam bidang pendidikan selfie anak didik dapat digunakan untuk memotivasi siswa agar berkompetisi secara sehat agar menghasilkan karya yang baik, dengan cara karya terbaik kita foto dengan pembuat dengan catatan nama tugas dan nilai serta manfaat tugas tetap dimunculkan

contoh ketika anda berpose dalam suatu kegiatan jelaskan kegiatan apa dan manfaat apa yang kita peroleh dengan mengikuti kegiatan tersebut

lagi diklat peningkatan kompetensi guru adaptif nih di Best Hotel Jl. Kedungsari 19 Surabaya 4 – 7 Nopember 2017 semoga setelah kegiatan ini saya menjadi master dalam simulasi dan komunikasi digital dan mampu merangsang motivasi anak untuk belajar lebih giat lagi

 

ketika berkunjung ke tempat liburan, jelaskan informasi tentang tempat liburan itu dan mengapa anda berlibur ke sana siapa tahu anda ke depan menjadi seorang travel blogger sebaliknya ketika ditempat kuliner, anda juga bisa mempromosikan jenis kuliner disertai kandungan gizi dari kuliner tersebut. Bagi yang hobi memasak bisa juga selfie dengan makanan dan jelaskan pada publik nama makanannya, makanan khas daerah mana dan cara membuatnya.

 

Kalau kegiatan yang anda lakukan termasuk kegiatan ibadah, ya sebaiknya selfie benar-benar dikurangi dan kalaupun terpaksa berikan informasi tentang ibadah itu misalnya hukum ibadah itu, berdoa sesuai kegiatan ibadah itu sehingga nilai dakwahnya lebih menonjol daripada foto itu sendiri. Tentu ini semua lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan terutama kaum hawa dan selfie holik, semoga kita semua dapat memperoleh manfaat dari informasi sekecil apapun termasuk saya sendiri sebagai penulis.

Bagi kaum Muslimah khususnya sebaiknya menyadari bahwa usaha terlihat cantik, mati-matian cari perhatian dan komentar dengan foto selfienya, dengan berbagai macam pose, mimik, dan gaya, apabila bertujuan untuk riya, pamer sombong dan apalagi  demi menarik perhatian laki-laki lain (terutama bagi yg sdh bersuami) tentunya bertentangan dengan Firman Allah berpesan pada Muslimah, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka tundukkan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya’…” (QS 24:31)

Perintah Allah sudah jelas, bahwa wanita harus menjaga diri mereka, menjaga rasa malu dan kemaluan, tidak justru menampakkan perhiasannya, atau bahkan memamerkan dirinya pada publik. Dalam ayat yang lain Allah menyinggung pula  perilaku tabarruj, yaitu segala sesuatu tindakan berhias yang ditujukan agar diperhatikan oleh lelaki.

“dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS 33:33)

Menurut Ibnu Mandzur, arti tabarruj adalah wanita yang memperlihatkan keindahan dan perhiasannya dengan sengaja kepada lelaki.

Sampai disini saja, kita semua harus bermuhasabah, memang ini perkara amalan hati, namun alangkah baiknya bila kita bertanya pada diri sendiri, apakah amanah yang Allah pinta untuk kita jaga itu, rasa malu itu sudah kita tunaikan? Ataukah kita menggerusnya terus-menerus dengan melatih memamerkan diri kita pada oranglain? Salah satunya dengan selfie?

 sumber :

MGMP DAN EFEKTIFITAS KBM

Pandangan Umum

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) saat ini menjadi kegiatan yang penting untuk dilakukan demi penguatan kompetensi Guru , Penilaian Kinerja Guru dan Bukti keaktifan guru dalam komunitas SIM PKB.

Seiring ramainya aktivitas MGMP ini timbul juga masalah baru yaitu pendanaan kegiatan dan aktivitas guru mengajar di sekolah yang berkurang. Apabila semua koordinator mewajibkan kehadiran anggotanya sebulan sekali di seluruh kegiatan MGMP berarti betapa banyak kelas yang akan kehilangan guru dalam satu bulan pembelajaran. Tentunya hal ini harus kita pikirkan dengan matang beberapa masukan seperti

  1. cukup perwakilan guru dari satu sekolah untuk satu mapel
  2. penggunaan dunia IT atau dunia dalam berkomunikasi untuk mengurangi pertemuan fisik yang justru menyebabkan kekosongan kelas dan
  3. kegiatan mgmp cukup 2 bulan sekali saja. 
  4. Laporan kegiatan yang jelas sehingga MGMP memiliki program dan tujuan yang nyata dan efektif
  5. kesepakatan guru mapel untuk memiliki hari kosong mengajar sehingga MGMP tidak mengorbankan kegiatan belajar mengajar di kelas

Latar Belakang 

Para peneliti bersepakat menyatakan bahwa jika guru semakin kuat  berkolaborasi   dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Yvonne L. Goddard Roger D. Goddard (2001) menyitir hasil studi Hausman dan Goldring (2001), dalam kolaborsinya guru harus memusatkan perhatian terhadap perubahan yang berarti terhadap sekolah. Karena itu,  kita memiliki keyakinan kegiatan guru dalam  MGMP agar dapat meningkatkan daya kolaborasinya semakin diperlukan agar mereka makin baik dalam melaksanakan pembelajaran.

Namun   Roger juga  menyandarkan pikirannya pada  pernyataan Evans-Stout (1998), menegaskan bahwa kita masih tidak memiliki banyak bukti bahwa kolaborasi guru dapat meningkatkan penguasaan pengetahuan dan keterampillan melaksanakan mengajarnya, namun tak cukup punya bukti hal itu berpengaruh terhadap peningkatan efektivitas siswa balajar. Hal ini berarti bahwa kita lebih fokus pada pengembangan program peningkatan keprofesian guru, namun kurang peduli  untuk mengamati guru melaksanakan tugas setelah mereka belajar di MGMP.

Tantangan MGMP?

Peran MGMP saat ini semakin strategis sesuai dengan kebijakan Kemendikbud Bpk Muhajir Efendi yang banyak melibatkan pengurus MGMP dalam pengembangan profesi. Salah satunya dalam program program guru pembelajar. Di samping itu, meningkatkan kompetensi untuk menunjang pelaksanaan Kurikulum 2013. Hal penting lain yaitu pengembangan keprofesian seperti meningkatkan kemampuan guru dalam merefleksikan masalah sebagai dasar penelitian tindakan kelas, merumuskan best practice, dan mengembangkan karya inovatif. Dalam program literasi, para guru juga mendapat tantangan menerapkan teknologi informasi dan komuniasi yang dipuncaki dengan ujian nasional berbasis computer (UNBK). Yang telah menjadi Belakangan tak kalah penting adalah Yang kini tak kalah gencar dihadapi guru adalah penililaian prestasi kerja.

Dalam pengembangan peran MGMP  perlu memperhatikan beberapa kebutuhan strategis yaitu meningkatkan daya kolaborasi guru merumuskan agenda prioritas dalam meningkatkan:

  1. Kompetensi guru dengan prioritas pada penguatan pengetahuan pedagogik dan profesional, di antaranya, beraktivitas dalam program guru pembelajar.
  2.  Keterampilan mempraktikan kompetensi yang telah dikuasainya pada praktif perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian dalam mendukung keberhasilan implementasi K13.
  3.  Keterampilan mengembangkan kaya tulis ilmiah sebagai tindak lanjut memperbaiki proses perja melalui pemecahan masalah yang muncul dari pelaksanaan tugas dalam kelas.
  4.  Keterampilan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi dalam menunjang peningkatan daya literasi sekaligus melek teknologi.
  5.  Keterampilan mengembangkan sasaran kerja pegawai dan menilai prestasi kerja agar kesungguhan dalam melaksanakan tugasnya berdampak terhadap peningkatan karier.

Bagaimana MGMP Berperan?

Arah pengembangan kegiatan MGMP pada dasarnya meningkatkan mutu pendidik dalam pememenuhan standari nasional pendidikan. Berdasarkan berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses perbaikan mutu pendidikan melalui pendekatan problem solving, guru dalam MGMP perlu berkolaborasi untuk mengidentifikasi hal-hal berikut:

  1.  Mengembangkan stuktur organisasi sesuai dengan sumber daya yang dimiliki dan kebutuhan pengembangan program.
  2. Analisis kondisi nyata dalam berbagai tantang nyata dan kondisi yang diharapkan pada tiap bidang prioritas. Dalam hal ini harus tergambar
  3. Mendeskripsikan masalah yang menjadi fokus perbaikan mutu.
  4.  Merumuskan tujuan dan target pencapaian dalam kurun waktu yang terbatas.
  5. Menetapkan lembar instumen evaluasi untuk mengukur keberhasilan program.
  6. Menganalisis kebutuhan sumber daya manusia, teknologi, sarana prasarana pendukung sesuai dengan kebutuhan mewujudkan tujuan MGMP.
  7. Menetapkan strategi memecahkan masalah yang menjadi fokus penguatan kolaborasi guru dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
  8. Menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan yang ditandai dengan tersusunnya bukti fisik seperti administrsi persiapan, proposal, undangan, daftar hadir, materi kegaitan, jurnal kegiatan, dan foto kegaitan, atau video.
  9. Menggunakan instumen evaluasi untuk mengukur keberhasilan mencapai tujuan.
  10. Merumuskan dan menyampaikan laporan kegiatan

Langkah penting selanjutnya adalah tindak lanjut dengan perumusan masalah dan alternatif solusi untuk menyelesaikannya melalui pengembangan proyek berbasis masalah. Dalam proses ini sangat penting para guru untuk membedakan antara gejala dengan masalah. Contoh, jika para guru mendapatkan fakta bahwa para siswa sulit  mewujudkan kegiatan menanya dalam proses pembelajaran, maka bisa jadi hal ini bukan masalah melainkan gejalan. Masalahnya  bisa jadi berupa guru belum terampil mengembangkan kompetensi siswa menanya atau merumuskan masalah yang ingin dipelajarinya. Jika muncul maslalah seperti ini, maka MGMP akan menjawab dengan meningkatkan keterampilan guru menerapakan metode problem solving. 

Bagaimana Seharusnya Pelaksanaan Kegiatan MGMP?

Kegiatan MGMP pada prinsipnya seminimal mungkin mengganggu tugas guru melaksanakan tugas mengajar. Oleh karena itu, jadwal kegiatan semestinya pengaturannya setelah kegiatan kegiatan mengajar. Jika hal itu tidak dapat dilaksanakan, maka dipilih waktu yang paling kecil gangguannya terhadap belajar siswa. Oleh karena itu Kemendikbud mengatur kegaitan MGMP paling banyak 12 kali pertemuan dalam setahun dibagi dalam tiga kelompok kegaitan dengan masing-masing terdiri atas 3 pertemuan dengan nilai kredit 1.5.

Untuk meminimalkan gangguan terhadap kegiatan siswa maka kolaborasi guru dengan dukungan akses internet akan sangat membantu guru melakukan kolaborasi dari mana saja, dan kapan saja. Model ini di Indonesia populer dengan istilah moda daring. Kombinasi antara moda daring dengan tatap muka akan membantu guru meningkatkan kolaborasinya.

Bagaimana Meningkatkan Penjaminan Mutu MGMP?

Efektifnya kegiatan MGMP dapat dilihat dari dua faktor yaitu efektif pengelolaan dan dampak terhadap hasil belajar siswa dalam kelas. Efektivitas pengelolaan menyangkut sistem  perumusan rencana yang relevan dengan kebutuhan peningkatan mutu pembelajaran, implementasi kegiatan sesuai dengan rencana perubahan dalam program, dan target mutu serta kriteria yang direncanakan tercapai. Poros keberhasilan  pengelolaan jika kegaitan MGMP berdampak pada peningkatan kompetensi guru, baik dalam ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilannya. Mengukur efektivitas ini menjadid tanggung jawab pengurus sebagai akuntabilitas internal  pelaksana kegiatan.

Akuntabilitas eksternal kegiatan MGMP dapat dilihat dari dampak penguatan kompetensi terhadap peningkatan mutu pelaksanaan kegaitan mengajar yang dilaksanakan guru dalam kelas. Setiap bertambahnya ilmu pengetahuan dan ketampilan, tidak hanya untuk meningkatkan derajat kepandaian guru namun bermanfaat dalam memfasilitasi siswa belajar. Guru pembelajar di yang baik di MGMP adalah yang berpengaruh baik terhadap pencapaian kompetensi siswa dalam pembelajaran.

Referensi: 

  • Brooks, Charmaine; Gibson, Susan, Professional Learning in a Digital Age Canadian Journal of Learning and Technology, v38 n2 Sum 2012 http://eric.ed.gov/?q=Teaching+as+the+Learning+Profession&ft=on&pg=3&id=EJ981798
  • Yvonne L. Goddard Roger D. Goddard . A Theoretical and Empirical Investigation of Teacher Collaboration for School Improvement and Student Achievement in Public Elementary Schools, University of Michigan Megan, Teachers College Record Volume 109, Number 4, April 2007, pp. 877–896 Copyright © by Teachers College, Columbia University 0161-4681. http://www.tncore.org/sites/www/Uploads/leadership_courses/ILC%20Class%201/Goddard%20et%20al%202007%20-%20Teacher%20Collaboration%20for%20School%20Improvement.pdf
  • http://gurupembaharu.com/pemberdayaan-mgmp-pemenuhan-mutu-guru/

CONTOH SOAL HOTS

Berikut ini contoh soal-soal HOTS berdasarkan modul penyusunan SOAL HOTS dari Dirjen PSMA

1. SOAL HOTS Kimia
“menggunakan stimulus data untuk memecahkan masalah”
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : XII/1
Kurikulum : Kurikulum 2013

Kompetensi Dasar : 3.8 Menganalisis kelimpahan, kecenderungan sifat fisikadan kimia, manfaat,dan proses pembuatan unsur-unsur periode 3 dan golongan transisi (periode4)
Materi : Sifat-sifat unsur periode ketiga
Indikator Soal : Disajikan tiga unsur periode ketiga dan data hasil percobaan reaksinya, peserta didik dapat menentukan dengan tepat urutan sifat reduktor dari sifat reduktor yang paling lemah ke sifat reduktor yang paling kuat.
Level Kognitif : Penalaran (C4)

Daya pereduksi dan daya pengoksidasi berkaitan dengan kecenderungan melepas atau menyerap elektron.Zat pereduksi (reduktor) melepas elektron pada reaksi redoks, sedangkan zat pengoksidasi (oksidator) menyerap elektron.Jadi, makin mudah suatu spesi melepas elektron makin kuat daya pereduksinya.Sebaliknya, makin kuat menyerap elektron makin kuat daya pengoksidasinya.Makin besar (makin positif) harga potensial elektrode, makin mudah mengalami reduksi, sebaliknya makin kecil (makin negatif) harga potensial elektrode, makin mudah teroksidasi.Harga potensial elektrode dari beberapa unsur periode ketiga adalah sebagai berikut.
Na+ (aq) + e ↔ Na(s) E0 = -2,71 volt
Mg2+ (aq) + 2e ↔ Mg (s) E0 = -2,37 volt
Al3+ (aq) + 3e ↔ Al (s) E0 = -1,66 volt
CI2 (g) + 2e ↔ 2Cl– (aq) E0 = + 1,36 volt
Diketahui unsur X, Y, danZ merupakan unsur periode ketiga.Berikut merupakan data hasil reaksi ketiga unsur tersebut sebagai berikut :
1) Unsur X dapat larut dalam larutan HCl maupun dalam larutan NaOH.
2) Unsur Y dapat bereaksi dengan air membebaskan hidrogen,
3) Sedangkan unsur Z tidak bereaksi dengan air tetapi oksidanya dalam air dapat memerahkan lakmus biru.
Urutan sifat reduktor dari yang paling lemah ke yang paling kuat adalah….
a. X, Y, Z
b. X, Z, Y
c. Z, X, Y
d. X, Z, X
e. Y, X, Z
Kunci/Pedoman Penskoran: C
Unsur X dapat bereaksi dengan larutan asam maupun basa, berarti unsur X bersifat amfoter (sesuai dengan sifat unsur Al).
Unsur Y dapat bereaksi dengan air membebaskan hidrogen, berarti unsur B memiliki sifat redutor yang kuat dan terletak bagian kiri dalam periode ketiga (sesuai dengan sifat Na)
Oksida unsur Z dalam air memerahkan lakmus biru berarti berifat asam, berarti dalam periode ketiga terletak bagian kanan (sesuai dengan unsur (P, S dan Cl)
Sehingga letak ketiga unsur tersebut dalam system periodic adalah : Y-X-Z, sifat reduktor Y > X > Z, sehingga urutannya dari sifat reduktor yang lemah ke sifat reduktor yang lebih kuat adalah : Z < X < Y
Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena mengukur kemampuan peserta didik dalam:
1) menelaah data percobaan sifat unsur berdasarkan hasil reaksi secara kritis,
2) memproses dan menerapkan informasi hasil reaksi,
3) menggunakandata percobaan untuk menyimpulkan urutan kekuatan sifat reduktor dari yang lemah ke yang lebih kuat.

2 . SOAL FISIKA
Mata Pelajaran : FISIKA
Kelas/Semester : XI/1
Kurikulum : 2013
Kompetensi Dasar : Menganalisis cara kerja alat optik menggunakan sifat pemantulan dan pembiasan cahaya oleh cermin dan lensa.
Materi : Mata dan kaca mata.
Indikator Soal : Disajikan gambar salah satu cacat mata dan data titik dekatnya, siswa dapat menganalisis gambar dan data tersebut untuk menentukan jarak benda dari mata.
Level Kognitif : Penalaran
Soal:
1. Berikut ini disajikan gambar perjalanan sinar pada mata.

Budi dan Andi menderita cacat mata seperti gambar.Budi ingin meminjam kaca mata Andi. Budi dapat membaca tanpa kacamata pada jarak 100 cm sedangkan Andi mampu membaca tanpa kacamata pada jarak 50 cm. Agar dapat membaca buku dengan jelas, Budi bermaksud meminjam kacamata Andi. Pada jarak berapakah Budi harus meletakkan buku tersebut agar dapat membaca dengan jelas memakai kacamata Andi?
A. 25 cm
B. 30 cm
C. 33 cm
D. 40 cm
E. 50 cm
Kunci/Pedoman Penskoran: C
Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena:
1. Stimulus yang disajikan kontekstual dan menarik (baru, belum pernah dimuat dalam buku-buku atau kumpulan soal sebelumnya).
2. Untuk menjawab soal di atas, siswa harus memahami konsep miopi dan hipermetropi berdasarkan sinar yang jatuh ke mata sesuai gambar yang diberikan.Selanjutnya siswa harus menganalisis konsep menentukan kekuatan kacamata yg harus digunakan pada seseorang yang menderita cacat mata, sehinggaakhirnya siswa dapat menentukan jarak buku harus diletakkan agar terbaca dengan jelas

3. Soal Seni Budaya

Mata Pelajaran : Seni Budaya
Kelas/Semester : X/ 1
Kurikulum : 2013
Kompetensi Dasar : Memahami karya musik berdasarkan simbol, jenis nilai estetis dan fungsinya.
Materi : Tangga nada.
Indikator Soal :
Diberikan tangga nada C Mayor dan gambar tuts piano, peserta didik dapat menganalisis susunan tangga nada E Mayor.
Level Kognitif : Penalaran
Soal:
Perhatikan gambar berikut!


Dengan mengamati tangga nada C Mayor di atas, nada–nada manakah yang tepat dinaikkan setengah nada untuk tangga nada E mayor?
A. F – G – A – B
B. F – G – B – C
C. F – G – C – D
D. F – G – E – D
E. F – G – B – D
Kunci/Pedoman Penskoran: C
Keterangan:
Soal di atas dikategorikan soal HOTS karena:
1. Stimulus yang disajikan kontekstual, menarik karena sangat dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari.
2. Untuk dapat menjawab soal di atas, dari pedoman tangga nada C Mayor di atas, terlebih dahulu peserta didik harus menyusun tangga nada E mayor dengan benar sehingga akan mengetahui nada–nada apa saja yang harus dinaikkan setengah nada agar jaraknya sama dengan jarak C Mayor sehingga menghasilkan nada yang tidak fals.

4. contoh soal Sejarah

Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia
Kelas/Semester : X/2
Kurikulum : 2013
Kompetensi Dasar  : Menganalisis perkembangan kehidupan masyarakat, pemerintahan, dan budaya pada masa kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha di Indonesia serta menunjukkan contoh bukti-bukti yang masih berlaku pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini.
Materi : Bukti-bukti kehidupan pengaruh Hindu dan Buddha yang masih ada sampai masa kini.
Indikator Soal : Disajikan wacana tentang asal usul Wayang dan sejarah perkembangannya, peserta didik dapat menganalisis adanya akulturasi di bidang seni budaya antara kebudayaan lokal dan kebudayaan Hindu Budhayangmasih ada pada masyarakat Indonesia masa kini.
Level Kognitif : Penalaran
Perhatikan wacana di bawah ini!

Asal Usul Wayang dan Sejarah Perkembangannya
Wayang adalah sebuah seni pertunjukkan Indonesia yang berkembang pesat dan telah diakui dunia karena keunikan yang dimilikinya. Sama seperti Batik, UNESCO pada 7 November 2003 juga telah menobatkan wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur asli Indonesia. Seni pertunjukan wayang sendiri disukai oleh semua lapisan masyarakat.Bukan hanya di Jawa, kini wayang juga akrab dan sering disajikan di acara-acara sakral di seluruh dunia. Adapun bagi Anda yang ingin tahu seperti apa sejarah dan asal usul Wayang beserta perkembangannya hingga saat ini, simaklah pemaparan kami berikut! Asal usul Wayang ditinjau dari sejarah yang ada, asal usul Wayang dianggap telah hadir semenjak 1500 tahun sebelum Masehi.Wayang lahir dari para cendikia nenek moyang suku Jawa di masa silam.Pada masa itu, wayang diperkirakan hanya terbuat dari rerumputan yang diikat sehingga bentuknya masih sangat sederhana.Wayang dimainkan dalam ritual pemujaan roh nenek moyang dan dalam upacara-upacara adat Jawa.Pada periode selanjutnya, penggunaan bahan-bahan lain seperti kulit binatang buruan atau kulit kayu mulai dikenal dalam pembuatan wayang.Adapun wayang kulit tertua yang pernah ditemukan diperkirakan berasal dari abad ke 2 Masehi.
http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/10/asal-usul-wayang-dan-sejarah.html
Soal:
Unsur akulturasi dalam wacana di atas adalah….
A. kisah Mahabarata dan Ramayana berbentuk kakawin.
B. cerita Wayang terdiri dari kisah Mahabarata dan Ramayana.
C. dalam cerita pewayangan munculnya tokoh tokoh punakawan.
D. wayang hanya di pertunjukkan dalam kegiatan upacara tertentu. E. wayangsendiri telah hadir semenjak 1500 tahun sebelum Masehi.
Kunci Jawaban: D

Keterangan:
Soal HOTS karena:
1) Stimulusnya kontekstual dan menarik, karena sesuai dengan dinamika masyarakat Indonesia saat ini.
2) Agar dapat menentukan unsur akulturasi, peserta didik harus memahami unsur budaya lokal, budaya asing, dan budaya baru yang timbul.
3) Untuk menentukan unsur akulturasi, peserta didik harus menganalisis unsur-unsur akulturasi dalam berbagai tradisi budaya yang ada di Indonesia.