AJARI MEREKA DENGAN CINTA

Mencintai itu lebih mudah daripada dicintai. Mencintai murid dan dicintai murid merupakan dua hal yang sama-sama penting, dengan catatan tetap mengingat koridor hubungan Guru dan Murid. Mencintai murid hendaknya diwujudkan sebagai keinginan agar murid kita mendapatkan apa-apa yang seharusnya mereka dapatkan. dicintai murid hendaknya diperoleh karena keberhasilan kita mengajak mereka untuk menjadi orang lebih baik dan mencapai tujuannya, bukan karena ketampanan/kecantikan kita apalagi kalau karena rayuan gombal kita naudzubillah.

Menurut  psikologi cinta adalah bentuk komitmen yang mendalam. Cinta adalah selalu menyebut kepada apa yang dicintai, mendahulukan apa yang dicintai,  rindu kepada yang dicintai. Cinta adalah suka terhadap apa yang disukai oleh yang dicintai dan benci apa yang dibenci oleh yang dicintai.

Para pakar cinta membagi cinta menjadi dua jenis, yaitu :

1. Cinta romantis, dengan karakteristik ”Aku cinta padamu karena…….
2. Cinta murni, dengan karakteristik “ Aku cinta padamu walau……

Cinta murni biasanya dimulai dari cinta romantis, tetapi tidak semua cinta murni biasanya bermula dari cinta romantis. Cintanya seorang suami kepada istrinya biasanya dimulai dari cinta romantis, tetapi cintanya orang tua kepada anaknya berakar pada cinta murni. Cinta murni inilah yang mendasari mengapa kita berdoa :
Robbighfirlii waliwaali daiyya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo. “Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua  orangtuaku, dan kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka disaat aku kecil”

Eric fromm dalam bukunya ”The Artof Loving” tentang filsafat cinta mengatakan indikator orang yang memiliki cinta yang murni adalah apabila ia sudah memenuhi 5 rukun cinta, yaitu:
1. Siap menerima
2. Siap memperhatikan
3. Siap menghargai
4. Siap mendukung
5. Siap memberi peluang untuk berkembang
Dari 5 indikator tersebut, ternyata hanya orang tua saja yang mampu mengaplikasikannya. Oleh karena itu, dalam mendidik anak ternyata penanaman rasa cinta dalam diri orang tua terhadap anak sangatlah diutamakan. Karena cinta akan menjadi dasar dan motivasi bagi orang tua dalam mengembangkan kepribadian seorang anak.

Jiwa guru sebagai pendidik, haruslah berusaha memberikan rasa cinta terhadap seluruh siswa seperti cintanya seorang ibu pada anaknya yang digambarkan pernyataan diatas.  Guru terkadang lupa bahwa siswa tidak hanya butuh teori, materi, menghabiskan ketuntasan kurikulum saja namun mereka butuh bimbingan, arahan, motivasi dari segala hal untuk mencapai pembelajaran yang penuh hikmah, tuntunan, teladan, yang membutuhkan cinta para guru sehingga mereka mendapatkan makna dalam hidupnya.
Dan seyogianya para guru mendidik para siswa dengan merealisasika cintanya, sesuatu yang sudah sangat langka di Indonesia.

Dalam cinta, ada delapan prinsip yang harus dilakukan agar siswa bisa maksimal dalam belajar.

1.Prinsip pertama yaitu giving (memberi). Menurut Munif Chatib, salah seorang pakar inteligensi, mendidik siswa di zaman sekarang ini sebaiknya menggunakan dua cara yakni learning by doing (mengajar dengan tindakan) dan learning by example (mengajar dengan contoh). Dengan demikian, siswa tidak merasa berat melakukan karena sang guru sudah pernah melakukannya.

2.Prinsip kedua ialah conversation (percakapan). Dalam mengajar, guru tidak hanya bermodal ceramah, komunikasi timbal balik harus terjalin sehingga terjadi dialog antara siswa dan guru. Siswa berhak bertanya ketika tidak paham dengan apa yang disampaikan guru. Dialog antara guru dan murid bisa juga dilakukan di luar jam belajar mengajar agar tidak mengganggu jam belajar di sekolah.

3.Prinsip ketiga ialah listening (mendengar). Seorang guru harus mempunyai keterampilan mendengar dengan baik. Berdasarkan pengalaman penulis, siswa yang ceritanya sering kita dengarkan akan lebih memperhatikan apa yang kita sampaikan kepadanya. Itu lantaran ia merasa dihargai dan diperlakukan dengan baik. Memang terkadang ceritanya mungkin konyol atau bahkan terlalu didramatisasi dan kesannya mengada-ada. Sebagai orang yang lebih dewasa, seorang guru tidak sepantasnya menunjukkan rasa tidak senang di depan siswa. Mendengar memang menguras energi. Tidak jarang timbul rasa marah dan benci. Namun sekali lagi, hal itu tidak boleh ditampakkan di depan siswa. Sebisa mungkin itu ditahan hingga sang anak menyelesaikan ceritanya. Kesabaran itu kuncinya. Ketika sesi tersebut sudah selesai, anak tinggal diberi solusi sesuai dengan masalah yang dihadapi. Seorang siswa yang
curhatnya didengar akan lebih mudah diarahkan ke hal-hal yang lebih baik.

4.Prinsip keempat ialah sharing (berbagi). Dalam berbagi itu, siswa dan guru bisa bercerita, bertukar pikiran, dan berdiskusi. Juga, mereka bisa melakukan hal lain yang lebih fun. Kebiasaan berbagi itu akan membuang sifat egois sang murid dan guru. Aktivitas sharing itu bisa dilakukan di dalam kelas atau di luar kelas. Di dalam kelas, itu bisa bersifat formal dan tidak formal. Misalnya, salah seorang siswa diminta menceritakan kegiatan liburannya. Di luar kelas, itu bisa dengan outbound, kemah, atau pesta kebun. Buatlah se-fun mungkin agar siswa tidak bosan. Berbagi tidak selalu dilakukan dengan hal-hal yang berbau pelajaran sekolah. Berbagi rasa dan
cinta juga bagian dari prinsip sharing. Satu rasa dan cinta dalam jiwa. Pelajaran sharing akan bermanfaat bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari karena menjadikan dia siswa yang tidak sombong dan cukup mawas diri. Sifat egois pun akan melebur dengan sendirinya sehingga hubungan guru dan murid akan lebih harmonis.

5.Prinsip kelima ialah caring (peduli). Caring merupakan sikap rasa peduli, hormat, dan menghargai orang lain. Artinya, memberi
perhatian dan mempelajari kesukaan kesukaan seseorang dan bagaimana seseorang berpikir serta bertindak. Caring merupakan perpaduan pengetahuan biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia. Ketika seorang guru peduli dengan kondisi siswanya, sang anak pasti akan peduli juga dengan gurunya. Seorang guru pasti tidak ingin siswanya terpuruk. Semua guru pasti ingin semua anak didiknya sukses. Konsep caring itu bisa dilakukan di dalam dan di luar kelas. Di luar kelas jauh lebih efektif, terutama bagi siswa – siswa yang berkebutuhan khusus seperti yang mempunyai prestasi akademis rendah, mengalami disleksia dan
disabilitas. Kepedulian guru tersebut akan membuat siswa menjadi lebih bersemangat dan tidak merasa minder lagi.
6.Prinsip keenam ialah empathy. Menurut Milton J. Bennet, empathy is imaginative intellectual and emotional participation in another person’s experience (ikut serta secara emosional dan intelektual dalam pengalaman orang lain). Empathy hampir sama dengan simpati. Bila simpati hanya menempatkan diri kita secara imajinatif pada posisi orang lain, empati lebih kepada ikut serta secara emosional dan intelektual dengan pengalaman orang lain. Dalam empati kita melihat dan merasakan apa yang dialami orang lain. Sikap empati harus dikembangkan guru di kelas tempat dia mengajar. Dengan demikian, setiap siswa bisa merasakan apa yang dialami temannya, bukan malah menjauhi karena keterbatasan yang dimilikinya. Bila tidak ada empati, bagaimana mungkin seorang siswa akan peduli dengan kesedihan yang dialami temannya? Guru harus memberi contoh dulu agar setiap siswa bisa menirunya. Sebagai contoh, menemaninya melewati musibah dan mengunjunginya ketika sakit. Hal ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa empati.
7.Prinsip ketujuh ialah trust (kepercayaan). Trust sangat penting dalam dunia pendidikan. Bagaimana mungkin tujuan pengajaran bisa tercapai bila di antara siswa dan guru tidak ada rasa saling percaya? Sikap percaya itu telah ditunjukkan Nabi Muhammad SAW pada masa-masa awal kehidupannya. Dia terkenal dengan gelar Al Amin, artinya bisa dipercaya. Trust merupakan hasil perjalanan yang panjang. Trust memiliki dua dimensi, yakni amanah seseorang agar bisa dipercaya dan kemampuan untuk bisa memercayai orang lain. Itu jelas bukan hal yang mudah, tetapi tetap bisa dilakukan. Tentunya, dengan cara-cara yang tetap mempertahankan kejujuran.
Seorang guru bisa mulai memercayai murid dengan memberikan tugas-tugas yang mampu dilakukannya. Tentu itu dimulai dari hal-hal yang kecil, kemudian berlanjut ke yang lebih besar dan seterusnya. Sikap percaya harus terus dikembangkan, tetapi tidak boleh disalahgunakan karena bisa berakibat negatif. Sikap tersebut merupakan dasar dari sebuah hubungan. Entah hubungan dalam waktu singkat maupun yang relatif lama. Ketika trust sudah didapat, mengajar siswa akan jauh lebih menyenangkan daripada sebelum trust itu hadir.
8.Prinsip kedelapan ialah friendship (persahabatan). Guru adalah sahabat para siswa. Itu merupakan hubungan interaktif kedua pihak. Suatu ketika guru harus bersikap seperti itu, menjadi sahabat yang siap menerima segala kelebihan dan kekurangan apa adanya dan selalu hadir kala duka dan suka menyapa jiwa. Hubungan seperti itu akan jauh lebih menyenangkan. Kelas pun akan jauh lebih hidup. Persahabatan akan lebih abadi. Bagi seorang guru, bila seorang siswa masih ingat kepadanya, itu sesuatu yang sangat luar biasa. Maka, menjalin hubungan pertemanan dengan siswa akan membuat hidup guru jauh lebih indah dan bermakna. Bila para guru dibekali dengan kedelapan prinsip cinta, pendidikan di Indonesia akan jauh lebih baik. Kekerasan di dunia pendidikan pun bisa dikurangi, bahkan dihilangkan sama sekali. Itu tantangan bagi para guru di Indonesia. Mampukah mendidik generasi muda dengan merealisasikan cinta? Percayalah dengan cinta karena cinta akan membuat hidup menjadi lebih hidup. Dengan cinta pula kita bisa membawa anak anak Indonesia menjadi lebih baik dan bermartabat. Mari kita ubah cara kita mendidik anak didik dengan sentuhan cinta yang sudah
semakin hilang di Republik tercinta ini.

thanks to Nurhastin (MIN 2 Palembang)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s