MUFAROQOH DARI NU

Assalamualaikum Wr Wb.

Perkenankan saya menuliskan sesuatu yang sedang menjadi trend topic dan semoga semuanya bisa membawa kebaikan bagi kita semua.

Belakangan ini di Jawa timur khususnya sedang diramaikan dengan topik Mufaroqoh nya Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah dari Organisasi Nahdhatul Ulama (NU). Mufaroqoh ini diwujudkan melalui pembuatan surat maklumat Pengasuh Ponpes Syalafiyah ke IV tersebut yaitu KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy.

mufaroqoh

melaui pernyataan Maklumatnya beliau menyatakan tidak dapat ikut mempertanggung jawabkan proses dan Hasil Muktamar ke-33 NU di alun-alun Jombang. Sehingga beliau menyerukan kepada Ulama dan warga Nahdiyin agar tetap teguh mempertahankan dan menjalankan ajaran Ahlussunnah Waljamaah serta mempertahankannya dari serangan aqidah dan ideologi lain.

Dalam postingan saya yang juga beraktifitas di Ponpes Salafiyah hendak memberikan wawasan atau ulasan dengan segala keterbatasan saya dengan niatan ikhlas semoga memberi nilai postif.

mengutip tulisan di http://www.nu.or.id dari pernyataan KH.M Tolhah Hasan (17-12-2004) terkait sikap mufaroqoh Gus Dur dan Kiyai lain terhadap Hasil Muktamar Yogyakarta:

’Mufaroqoh’, katanya, berarti melepaskan diri dari perdebatan yang terjadi. Dengan demikian, lanjutnya, artinya Gus Dur telah mengambil sikap melepaskan diri dari ucapan dan kebijakan pengurus organisasi.

Mufaroqoh dalam Fiqih biasanya terkait shalat.

Seorang Makmum harus mengikuti imam dalam setiap gerakannya. Tetapi karena adanya satu dan lain hal, seperti kehendak untuk buang hajat, ada keperluan mendadak ketika shalat sudah dimulai, ada pencurian di samping masjid, ada orang yang pingsan di samping kita berdiri, dan lain-lain. Dalam keadaan seperti ini, bolehkan seseorang itu memisahkan diri dengan imamnya atau tidak boleh. Dalam pengertian jika dikatakan boleh, maka dia tinggal menambahkan shalat yang kurang, kemudian mempercepat shalatnya hingga selesai. Kalau dikatakan tidakboleh, maka shalatnya sebelum memisahkan diri adalah batal. Dan dia harus mengulangi shalat lagi dari awal, jika memisahkan diri. Jadi shalat sebelumnya dianggap tidak ada sama sekali.

Menyikapi kondisi makmum demikian terdapat perbedaan madzhab di kalangan para ulama madzhab empat. Di sini saya menyebutkannya satu per satu, yaitu :

  1. Madzhab Syafi’ menyatakan boleh, tetapi makruh memisahkan diri dari imam, baik dalam keadaan ada udzur atau tidak ada udzur, karena bertentangan dengan maksud dari shalat jama’ah, di mana seorang makmum diharuskan untuk mengikuti imamnya daam setiap gerakannya. Dan memisahkan diri bertentangan dengannya. Ini kecuali shalat Jum’at saja yang dalam keadaan apapun tidak boleh memisahkan diri dari imamnya. Jika memisahkan diri dari imamnya karena suatu keperluan, misalnya ad orang yang jatuh pingsan karena penyakit ayan atau yang lainnya, maka dia dapat meninggalkan imamnya dna batal shalatnya, kemudian menggantinya dengan shalat dzuhur.
  2. Madzhab Ahmad menyatakan boleh memisahkan diri dengan imam, jika ada udzur. Contoh dari udzur ini misalnya : imam terlalu panjang membaca surat (seperti yang terjadi pada masa Rasulullah, yaitu ketika Mu’adz membaca surat yang sangat panjang (Al Baqoroh atau An Nisa’, kemudian ada seorang yang memisahkan dirinya dan meneruskan shalatnya sendirian. Kemudian laki-laki itu mendengar bahwa Mu’adz mencelanya, maka dia melaporkan hal itu kepada Rasulullah dan beliau mencela Mu’adz dan tidak mencela orang laki-laki itu dan tidak menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya (Shahih Bukhari, Tahqiqi Daibul Bigho, I/249, no. 673). Hadits ini dengan tegas menunjukkan bahwa memisahkan diri karena adanya suatu udzur yang syari’i adalah diperbolehkan. Tetapi jika tidak ada udzur, maka tidak diperbolehkan da shalatnya tidak sah. Artinya dia harus mengulang shalatnya dari awal.
  3. Madzhab Hanafi hanya memakruhkan mendahului imam pada waktu salam setelah tasyahud saja. Sebelumnya tidak diperbolehkan.
  4. madzhab Maliki tidak memperbolehkan sama sekali dalam keadaan apapu. Artinya shalatnya tidak sah dan dia harus mengulang dari awal.
Imam bin Abdul Aziz al-­Malibary menggunakan kata mufaraqah terhadap tindakan seseorang yang keluar dari jamaah, seperti yang dituliskan: “Boleh mufaraqah tanpa udzur”. sedang menurut Imam Syafi’iy, makruh hukumnya mufaraqah tanpa adanya udzur. Makmum seharusnya mengulang kembali shalatnya, dengan tujuan untuk berjaga-jaga. Apabila ia menyambung shalatnya dengan melakukan shalat sendirian, maka tidak ada dalil yang menjelaskannya.
Sedangkan menurut Muhammad Hasbi ash-Shieddieqy, orang yang shalat berjamaah, imam dibolehkan mufaraqah dari jamaah dan berniat memisahkan diri lalu menyempurnakan sendiri, dengan alasan sakit, takut kehilangan harta dan mengantuk.
Menurut Sayid Sabiq, dalam kitab fiqh sunnah, boleh mufaraqah dari imam lalu menyempurnakan sendiri apa-apa yang yang ketinggalan, misalnya bila imam terlampau panjang bacaannya. Dalam hal ini termasuk seseorang yang diwaktu sedang melaksanakan sholat tiba-tiba merasa sakit, takut hilang atau rusaknya sesuatu yang dimiliki, terlambat dari rombongan, terasa mengantuk dan sebab-sebab lain yang memaksa.
Pendapat tentang mufaraqah ini didasarkan atas hadis yang diriwayatkan oleh Jam’ah dari Jabir :
“Mu’adz biasanya bersembahyang isa dengan Rasulullah saw, lalu kembali kepada kaumnya untuk mengimami mereka. Pada suatu malam Nabi saw mengundurkan shalat isa, tetapi Muadz tetap bersembahyang bersama beliau. Setelah itu Muadz kembali kepada kaumnya, lalu sholat bersama mereka dengan membaca surat al-Ba qarah. Tiba-tiba ada seseorang yang mundur dan sembahyang sendirian. Setelah orang-orang selesai, diantara mereka ada yang berkata kepada orang yang memisahkan diri tadi,: hai anu, engkau ini seorang munafik! Tapi hal ini akan saya laporkan kepada Rasulullah saw. Dan benarlah iapun melaporkan kepada Rasulullah saw, maka beliaupun bersabda: “Apakah engkau untuk tukang buat fitnah, hai Muadz, apakah engkau ini tukang berbuat fitnah? Bacalah saja surat ini atau itu.

Lalu bagaimana dengan kaitan Mufaroqoh Pesantren terhadap Proses Muktamar NU yang dianggap penuh dengan muatan politis, bisa jadi kita dihadapkan pada dua pilihan

a. benar-benar keluar secara keorganisasian tetapi tetap menjalankan nilai-nilai kenahdiyinan

b. masih mengakui organisasi jamiyah tetapi sementara bersikap pasif terhadap segala kegiatannya

selebihnya walloohu a’lam, segala sikap yang kita ambil tentunya membawa resiko, namun segalanya kita sudah proses melalui istikhoroh dan kajian mendalam demi keutuhan Nahdiyin dan perbaikan organisasi Nahdhatul Ulama di masa yang akan datang.

Sikap pengurus terpilih kita harapkan juga peka atau peduli terhadap gerakan penolakan ini bukan sekedar mengacuhkan tetapi mencari titik temu demi kemaslahatan NU ke depan.

apabila ada tutur kata yang salah, saya atas nama pribadi mohon maaf ,  ini sekedar melepas rasa unek-unek yang mengganjal saja sebagai orang yang mengagumi KH Said Agil Siradj dan mentakdzimi KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy sebagai pengasuh Ponpes Salsyaf tempat saya mengabdi.

Wassalamu alaikum Wr Wb

Dadan Haedar Rauf

orang jawa barat yang berada di wilayah jawa timur

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s