PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Dalam pengkajian Perkembangan Individu ini ada dua istilah yang sering muncul, pertama perkembangan (development) dan kedua adalah pertumbuhan (growth). Istilah perkembangan dititikberatkan pada aspek-aspek yang bersifat psikis (kualitatif), sedangkan pertumbuhan dipakai untuk perubahan-perubahan yang bersifat fisik (kuantitatif). Antara fisik dan psikis ini saling berkaitan dalam menelaah kehidupan manusia. Pertumbuhan dan perkembangan kadang-kadang masih kabur pengertiannya dan sukar dibedakan. Biasanya istilah-istilah itu  digunakan untuk menjelaskan adanya perubahan yang bersifat progresif namun sifatnya berbeda.
Secara lebih rinci, perbedaan antara pertumbuhan dan perkembangan adalah :
a. Pertumbuhan (Growth) : cenderung lebih bersifat kuantitatif dan berkaitan dengan aspek fisik.
Contoh : ukuran berat dan tinggi badan , ukuran dimensi sel tubuh, umur tulang  yang bisa diukur
b. Perkembangan (Development): cenderung lebih bersifat kualitatif, berkaitan dengan pematangan fungsi organ individu Contoh :
1) Bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur, misalnya dalam perkembangan bahasa, emosi, intelektual, perilaku
2) Perkembangan periode bayi sampai anak. Kita melihat bahwa bayi dan anak berbeda sebagai hasil dari pertumbuhan, tetapi disini juga terdapat perubahan struktur dan bentuk. Jadi, bentuk bayi tidak sama dengan bentuk anak (bentuknya bukan bentuk bayi dalam ukuran besar). Untuk perubahan strukturnya yaitu secara berproses melalui kematangan dan belajar, tangan anak sudah bisa digunakan untuk makan sendiri.

manfaat mempelajari Perkembangan Peserta Didik dapat dirasakan pendidik dan peserta didik, yaitu :
1. Bagi Pendidik
a. Memberikan gambaran tentang perkembangan manusia sepanjang rentang kehidupan beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang meliputi aspek fisik, intelektual, emosi, sosial dan moral.
b. Memberikan gambaran tentang bagaimana proses pembelajaran yang tepat sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik.
2. Bagi Peserta Didik
a. Memiliki pengetahuan tentang konsep- konsep Perkembangan Peserta Didik yang meliputi individu dalam menjalani tahapan perkembangan dari pre-natal hingga lanjut usia.
b. Mampu menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam proses pembelajaran sesuai dengan tahapan  perkembangannya.

Berbagai Macam Teori Perkembangan
Teori merupakan seperangkat gagasan yang saling berkaitan dan menolong menerangkan data, serta membuat ramalan (Santrock, 1995). Dalam pengkajian suatu pengetahuan, teori merupakan suatu hal yang mutlak yang harus dikaji terlebih dahulu untuk menjelaskan tentang sesuatu hal. Hal ini bertujuan dengan mengkaji teori yang mendasarinya, kajian pengetahuan memiliki dasar yang kuat dalam mengaplikasikan ilmu perkembangan peserta
didik di kehidupan sehari-hari. Penelaahan berbagai materi yang berhubungan dengan Perkembangan peserta didik mendasarkan pada teori-teori Psikologi Perkembangan yang menjadi titik tolak dalam menelaah individu dalam menjalankan setiap tahap perkembangannya. Berikut ini ada berbagai macam teori yang terkial dalam penelaahan ilmu perkembangan peserta didik yang berasal dari Teori Psikologi Perkembangan ;

1. Teori Psikodinamika
Teori ini memandang akan pentingnya pengaruh lingkungan, terutama lingkungan yang diterima oleh individu pada awal perkembangannya. Lingkungan awal merupakan pondasi yang menjadi pijakan kuat pada tahun-tahun berikutnya. Komponen yang bersifat sosio-afektif sebagai penentu dinamika perkembangan individu. Adapun dua ahli yang termasuk dalam pengkajian Teori Psikodinamika adalah Sigmund Freud dan Erik Erikson.
a). Teori Sigmund Freud
Dalam menguraikan teorinya, Freud mengembangkan satu penjelasan tentang struktur dasar dari kepribadian. Teorinya menyatakan bahwa kepribadian tersusun dari tiga komponen: id, ego dan superego. Id ada sejak lahir dan terdiri dari instink dan dorongan mendasar yang mencari kepuasan langsung, tanpa menghiraukan konsekuensinya. Jika tidak dikendalikan, id akan menempatkan individu dalam konflik mendalam dengan orang lain dan masyarakat. Unsur kedua dari struktur kepribadian adalah ego, yang mulai berkembang selama tahun pertama kehidupan. Ego terdiri dari proses mental, daya penalaran dan pikiran sehat, yang berusaha membantu id menemukan ekspresi tanpa mengalami masalah. Ego bekerja menurut prinsip realitas. Unsur ketiga dari struktur kepribadian adalah superego, yang berkembang dari puncak kedewasaan, identifikasi dan model orang tua, serta dari masyarakat. Superego mewakili nilai-nilai sosial yang tergabung dalam struktur kepribadian dari individu.
Ini menjadi kata hati yang berusaha mempengaruhi perilaku untuk menyesuaikan diri dengan harapan-harapan sosial. Id dan superego sering bertentangan, menyebabkan kesalahan, kegelisahan, dan gangguan. Ego berusaha
memperkecil konflik dengan menjaga keseimbangan dari dorongan instink dan larangan-larangan masyarakat. Menurut Freud, salah satu cara orang mengurangi atau menghilangkan kegelisahan dan konflik adalah dengan
menggunakan mekanisme pertahanan (defense mechanism) yang merupakan alat yang dapat mengubah realitas yang ada dengan tujuan untuk memperkecil sakit jiwa (psychic pain). Mekanisme pertahanan digunakan secara tak sadar dan menjadi patologis atau penyakit jika digunakan secara berlebihan. Beberapa mekanisme pertahanan diri adalah ;
1. Repression (penekanan)─berkenaan dengan dorongan hati yang tidak pantas dengan mendesaknya ke dalam pikiran tidak sadar. Dorongan ini terus menyebabkan konflik dan menggunakan pengaruh yang kuat terhadap perilaku kita.
2. Regression (kemunduran)─kembali ke bentuk-bentuk awal atau kembali pada kemampuan tahap perkembangan sebelumnya, yaitu bentuk kekanak-kanakan dari perilaku ketika menghadapi kegelisahan. Misalnya anak yang sudah bersekolah di Sekolah Dasar kembali ngompol atau menghisap ibu jari.
3. Sublimation─menggantikan perilaku yang tidak disukai atau yang tidak layak dengan perilaku yang diterima secara sosial. Misalnya remaja yang merasa marah dan ingin sekali memukul temannya, melakukan kegiatan olahraga untuk melampiaskan rasa marah tersebut
4. Displacement (penggantian)─-mengubah emosi yang kuat dari sumber frustrasi dan melepaskannya kepada obyek atau orang lain. Misalnya, seorang anak yang marah pada temannya, kemudian melampiaskan perasaannya pada hewan peliharaannya.
5. Reaction formation (pembentukan reaksi)─bertindak yang sepenuhnya berlawanan dengan perasaannya untuk
menyembunyikan perasaan-perasaan atau kecenderungan yang tidak diterima. Sebagai contoh seseorang yang menyukai orang lain, tetapi justru memperlihatkan perilaku seolah-olah membenci orang yang ia sukai tersebut.
Menurut Freud, mekanisme pertahanan yang paling kuat dan paling meresap (the most powerful and pervasive) adalah represi. Represi bekerja menolak dorongan-dorongan id yang tidak diinginkan di luar kesadaran dan kembali ke pikiran tidak sadar. Represi adalah landasan dari semua mekanisme pertahanan. Adapun tujuan setiap mekanisme pertahanan ialah menekan atau menolak keinginan-keinginan yang mengancam di luar kesadaran (Rice, 2002).
Selain mekanisme pertahanan diri, Freud menekankan pentingnya masa kanak-kanak. Freud berpikir bahwa kepribadian orang dewasa ditentukan oleh cara-cara mengatasi konflik antara sumber-sumber kenikmatan oral, anal, dan kemudian alat kelamin, serta tuntutan-tuntutan realitas. Bila konflik ini tidak diatasi, individu dapat mengalami perasaan yang mendalam pada tahap perkembangan psikoseksual tertentu. Adapun tahapan perkembangan psikoseksual pada awal masa kanak-kanak menurut Freud adalah :
Pertama, tahap oral ialah tahap pertama yang berlangsung selama 18 bulan pertama kehidupan, dalam mana kenikamatan bayi berpusat disekitar mulut. Mengunyah, menghisap, dan menggigit adalah sumber utama
kenikmatan. Tindakan-tindakan ini mengurangi tekanan atau ketegangan pada bayi.
Kedua, tahap anal ialah tahap yang berlangsung antara usia 1 dan 3 tahun. Kenikmatan terbesar pada anak meliputi lubang anus atau fungsi pengeluaran/pembersihan yang diasosiasikan dengannya. Dalam pandangan Freud, latihan otot-otot lubang dubur mengurangi tekanan/ketegangan.
Ketiga, tahap phalik ialah tahap yang berlangsung antara usia 3 dan 6 tahun; phallic berasal dari kata latin phallus, yang berarti “alat kelamin laki-laki (penis).” Selama tahap phallic kenikmatan berfokus pada alat kelamin, ketika
anak menemukan bahwa manipulasi diri dapat memberi kenikmatan. Dalam pandangan Freud, tahap phalik memiliki arti khusus dalam perkembangan kepribadian karena selama periode inilah Oedipus complex muncul. Istilah ini berasal dari mitologi Yunani dimana Oedipus, putra Raja Thebes, tanpa sengaja membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Oedipus complex ialah konsep Freud pada anak kecil yang mengembangkan suatu keinginan yang mendalam untuk menggantikan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya dan menikmati afeksi dari orang tua yang berbeda jenis kelamin dengannya. Bagaimana Oedipus complex diatasi? Pada usia kira-kira 5 hingga 6 tahun, anak-anak menyadari bahwa orang tua yang sama jenis kelamin dengannya dapat menghukum mereka atas keinginan incest mereka (incestuous wishes). Untuk mengurangi konflik ini, anak mengidentifikasikan diri dengan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya, dengan berusaha keras menjadi seperti orang tua yang sama jenis kelaminnya itu. Namun, bila konflik tidak teratasi, individu dapat terfiksasi pada tahap phalik
Keempat, tahap laten ialah tahap yang berlangsung antara kira-kira usia 6 tahun dan masa pubertas; anak menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan ketrampilan sosial dan intelektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak energi anak ke dalam bidang-bidang yang aman secara emosional dan menolong anak melupakan konflik pada tahap phallic yang sangat menekan.
Kelima, tahap genital ialah tahap, yang berawal dari masa pubertas dan seterusnya. Tahap ini ialah suatu masa kebangkitan seksual; sumber kenikmatan seksual sekarang menjadi seseorang yang berada diluar keluarga. Freud yakin bahwa konflik yang tidak teratasi dengan orang tua terjadi kembali selama masa remaja. Bila teratasi, individu mampu mengembangkan suatu bubungan cinta yang dewasa dan berfungsi secara mandiri sebagai seorang dewasa.
b). Teori Erik Erikson
Erik Erikson merupakan penganut teori psikodinamika atau psikoanalisis dari Freud. Erikson menerima dasar-dasar orientasi umum dari Freud, namun menambahkan dasar dari orientasi teorinya mengenai tahapan psikososial, penekanan pada identitas, dan perluasan metodologi.
1). Tahapan Perkembangan Psikososial
Erikson memperluas teori dari Freud dengan mencoba meletakkan hubungan antara gejala psikis dan sisi edukatif, serta gejala masyarakat budaya di pihak lain. Peran pengasuhan dan lingkungan menjadi hal yang sangat penting
dalam mennetukan perkembangan hidup individu. Dalam pandanganya, Erikson menyatakan bahwa masyarakat memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan psikososial individu. Peranan ini dimulai dari aturan atau budaya masyarakat sampai pola asuh orangtua. Berkenaan dengan tahapan perkembangan psikososial pada individu, ada dua hal yang menjadi perhatian bersama dalam mencermati perkembangan psikososial ini, yaitu ; pertama, walaupun tiap individu melewati tahapan perkembangan sosial yang sama, namun tiap budaya mempunyai cara sendiri untuk menguatkan dan mengarahkan perilaku individu setiap tahapnya. Kedua, budaya dapat berubah
seiring dengan waktu, dengan adanya kemajuan teknologi, pendidikan, urbanisasi, dan perkembangan lain yang membuat budaya harus berubah dan beradaptasi sesuai dengan lingkungan masyarakat dan kebutuhannya.
Secara umum, tahapan perkembangan psikososial ini menekankan perubahan perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia. Masing-masing tahap terdiri dari tugas yang khas yang menghadapkan individu pada suatu
permasalahan atau krisis bilamana tidak dapat melampaui dengan baik. Semakin individu tersebut mampu mengatasi krisis, maka akan semakin sehat perkembangannya. Adapun delapan tahapan perkembangan psikoseksual
sepanjang siklus kehidupan manusia dijelaskan secara rinci berikut ini :
a. Kepercayaan vs Ketidakpercayaan (Basic Trust vs Mistrust)
 Periode Perkembangan : 0-1 tahun
 Karakteristik : Suatu rasa percaya menuntut perasaan nyaman secara fisik dan sejumlah kecil ketakutan serta kekuatiran akan masa depan. Oleh karena itu, kepercayaan pada masa bayi menentukan tahap bagi harapan seumur hidup bahwa dunia akan menjadi tempat tinggal yang baik dan menyenangkan.
b. Otonomi vs Rasa Malu dan Ragu-ragu (Autonomy vs Shame/Doubt)
 Periode Perkembangan : Tahun ke 2
 Karakteristik : Setelah memperoleh kepercayaan dari pengasuh mereka, bayi mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka mulai menyatakan rasa mandiri atau otonomi mereka. Mereka menyadari kemauan mereka. Bila bayi terlalu banyak dibatasi atau dihukum terlalu keras, mereka cenderung mengembangkan rasa malu dan ragu-ragu.
c. Inisiatif vs Rasa Bersalah (Initiative vs Guilt)
 Periode Perkembangan : 3-5 tahun
 Karakteristik : Ketika anak-anak prasekolah menghadapi suatu dunia sosial yang lebih luas, mereka lebih tertantang daripada ketika mereka masih bayi. Perilaku aktif dan bertujuan dituntut untuk menghadapi tantangan-tantangan ini. Anak – anak diharapkan menerima tanggung jawab atas tubuh mereka, perilaku mereka, mainan mereka, dan hewan peliharaan mereka. Pengembangan rasa tanggung jawab meningkatkan prakarsa. Namun, perasaan bersalah yang tidak menyenangkan dapat muncul, bila anak tidak diberi kepercayaan dan dibuat merasa
sangat cemas. Erikson memiliki pandangan yang positif terhadap tahap ini. Ia yakin bahwa kebanyakan rasa bersalah dengan cepat digantikan oleh rasa berhasil.
d. Tekun vs Rasa Rendah Diri (Industry Vs Inferiority)
 Periode Perkembangan : 6 tahun-pubertas
 Karakteristik : Prakarsa anak-anak membawa mereka terlibat dalam kontak dengan pengalaman-pengalaman baru yang kaya. Ketika mereka beralih ke masa pertengahan dan akhir anak-anak  mereka mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan ketrampilan intelektual. Tidak ada saat lain yang lebih bersemangat atau antusiastis untuk belajar daripada pada akhir periode pengembangan imajinasi pada masa awal anakanak.
Bahaya pada tahun-tahun sekolah dasar ialah perkembangan rasa rendah diri – perasaan tidak berkmpeten dan
tidak produktif. Erikson yakin bahwa guru memiliki tanggung jawab khusus bagi perkembangan ketekunan anak-anak. Guru seharusnya “secara lembut tetapi tegas memaksa anak-anak ke dalam perkelanaan untuk menemukan bahwa seseorang dapat belajar mencapai sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sendiri”
e. Identitas dan Kebingungan Identitas (Identity vs Identity Confusion)
 Periode Perkembangan : remaja/10-20 tahun
 Karakteristik : Pada masa ini individu dihadapkan dengan penemuan siapa mereka, bagaimana mereka nantinya, dan kemana mereka menuju dalam kehidupanya. Anak remaja dihadapkan dengan banyak peran baru dan status orang dewasa, misalnya. Orang tua harus mengizinkan anak remaja menjelajahi banyak peran dan jalan yang berbeda dalam suatu peran khusus.
Jika anak remaja menjajaki peran-peran semacam itu dengan cara yang sehat dan tiba pada suatu jalan yang positif untuk diikuti dalam kehidupan, maka identitas yang positif akan dicapai. Jika suatu identitas pada anak remaja ditolakkan oleh orang tua, kalau anak remaja tidak secara memadai menjajaki banyak peran, dan jika jalan masa depan yang positif tidak dijelaskan, maka kebingungan identitas akan meningkat.
f. Keakraban vs Keterkucilan (Intimacy vs Isolation)
 Periode Perkembangan : 20-30 tahun
 Karakteristik : Pada masa ini, individu menghadapi tugas perkembangan pembentkan relasi intim dengan orang lain. Erikson menggambarkan keintiman sebagai penemuan diri sendiri pada diri orang lain namun kehilangan diri sendiri. Saat anak muda membentuk persahabatan yang sehat dan relasi akrab yang intim dengan orang lain, keintiman akan dicapai, kalau tidak, isolasi akan terjadi.
g. Bangkit vs Tetap-mandeg (Generativity vs Stagnation)
 Periode Perkembangan : 40-50 tahun
 Karakteristik : Persoalan utama ialah membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna – inilah yang dimaksudkan Erikson dengan generativity. Perasaan belum melakukan sesuatu untuk menolong generasi berikutnya ialah stagnation.
h. Keutuhan dan Keputusasaan (Integrity vs Despair)
 Periode Perkembangan : di atas usia 60 tahun
 Karakteristik : Pada tahun-tahun terakhir kehidupan, kita menoleh ke belakang dan mengevaluasi apa yang telah kita lakukan dengan kehidupan kita. Melalui banyak rute yang berbeda, manusia lanjut usia barangkali telah mengembangkan pandangan yang positif pada kebanyakan atau semua tahap perkembangan sebelumnya. Jika demikian, pandangan retrospektif (melihat kembali ke belakang) akan memperlihatkan gambar suatu kehidupan yang telah di lalui dengan baik, dan orang itu akan merasakan suatu rasa puas – integritas akan tercapai. Jika manusia lanjut usia menyelesaikan banyak tahap sebelumnya secara negatif, pandangan retrospektif cenderung
akan menghasilkan rasa bersalah atau kemuraman – yang disebut Erikson sebagai despair (putus asa).
2). Penekanan pada Identitas
Erikson selalu menekankan bahwa individu selalu mencari identitas pada tiap tahapan perkembangan. Identitas merupakan sesuatu hal yang sangat penting bagi individu, sehingga secara sadar maupun tidak sadar individu tersebut selalu mencari identitas dirinya. Identitas merupakan pengertian antara penerimaan dan pengertian untuk diri individu maupun untuk masyarakat. Setiap tahapan, individu akan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan atas , ” Siapakah aku?”. Bila proses pencarian identitas diri berjalan baik, maka untuk tahapan perkembangan selanjutnya akan semakin kuat, walaupun akan tetap mencapai puncak krisis pada masa remaja.
3). Perluasan Metode Psikoanalisis
Menurut Erikson, dalam mempelajari individu ada tiga metode baru yang dapat digunakan dalam mempelajari perkembangannya, yaitu ; observasi langsung, perbandingan cross-cultural, dan sejarah psikologis.
c) Peran terhadap Perkembangan
Teori psikoanalitis Freud menekankan pentingnya pengalaman masa kanak-kanak awal dan motivasi di bawah sadar dalam mempengaruhi perilaku dalam perkembangan individu. Selain itu, Erikson membagi perkembangan manusia menjadi delapan tahap dan mengatakan bahwa individu memiliki tugas perkembangan psikososial yang perlu dikuasai selama tiap tahap hidupnya sepanjang rentang kehidupannya.
2. Teori Behaviorisme dan Belajar Sosial
a). Behaviorisme
Dalam kajian ini, ahli yang diajukan yang mewakili kaum behavioris adalah Burrhus Frederic Skinner. Para ahli perilaku (behavioris) yakin bahwa sesuatu yang dapat diuji hanya yang dapat diamati dan diukur. Dengan kata lain,
behavioris menekankan studi ilmiah tentang tanggapan perilaku yang dapat diamati dan determinan lingkungannya. Menurut aliran ini, pikiran, sadar atau tidak sadar tidak dapat dipakai untuk menjelaskan perilaku dan perkembangan individu. Bagi Skinner sendiri, perkembangan merupakan perilaku. Sebagai contoh, Adi adalah sosok yang rajin bekerja, pantang putus asa, dan dapat bergaul dengan baik. Mengapa perilaku dan sifat Adi seperti ini? Menurut Aliran Behavioris karena lingkungan yang berperan menguatkan perilaku tersebut, sebagai hasil interaskinya dengan lingkungannya seperti teman, anggota keluarganya, serta masyarakat. Oleh karena itulah, behavioris yakin bahwa perkembangan dipelajari dan dapat berubah-ubah sesuai pengalaman hidup yang didapatkan individu serta adanya penguatan dari lingkungan.
b). Teori Belajar Sosial
Tokoh dari teori ini adalah Albert Bandura. Teori ini menekankan perilaku, lingkungan, dan faktor kognisi sebagai faktor kunci dalam perkembangan individu. Secara umum, teori ini mengatakan bahwa manusia bukanlah seperti robot yang tidak mempunyai pikiran dan menurut saja sesuai dengan kehendak pembuatnya. Namun, manusia mempunyai otak yang dapat berpikir, menalar, menilai, ataupun membandingkan sesuatu sehingga dapat memilih arah bagi dirinya. Lebih lanjut Bandura memperjelas teorinya lebih mendalam dengan menamakan teori belajar sosial kognitif. Bandura sangat yakin bahwa perilaku seseorang itu merupakan hasil dari mengamati perilaku orang lain, dengan kata lain secara kognitif, perilaku individu itu mengadopsi dari perilaku orang lain. Proses ini disebut proses modeling atau imitasi. Sebagai contoh, anak yang sangat agresif dengan temannya atau selalu menyerang anak lain, baik secara verbal maupun fisik, merupakan hasil adopsi orang di sekelilingnya, apakah itu orangtua, teman, atau tokoh-tokoh di media. Hal lain, juga, secara kognitif pula kita dapat mengendalikan perilaku untuk menolak adanya pengaruh dari lingkungan.
c). Peran terhadap Perkembangan
Behaviorisme menekankan peran dari pengaruh lingkungan dalam memberikan contoh perilaku. Perilaku menjadi jumlah total dari respon yang dipelajari atau yang terkondisi pada stimulus, suatu pandangan yang agak mekanistik. Menurut behavioris, pembelajaran terjadi melalui pengkondisian.
Pertama, pembelajaran melalui asosiasi (klasik), dan pembelajaran dari konsekuensi perilaku (operan). Adanya penekanan yang menjadi perhatian orangtua dan pendidik bahwa anak-anak belajar dengan mengamati perilaku orang lain dan dengan meniru perilaku mereka. Selain itu ahli teori pembelajaran telah memberi banyak sumbangan untuk pemahaman tentang perkembangan manusia dengan menekankan peran pengaruh lingkungan dalam pembentukan perilaku.
3. Teori Humanistik
Humanistic theory telah dilukiskan sebagai angkatan ketiga dalam psikologi modern. Teori ini menolak determinisme Freud dari instink dan determinisme lingkungan dari teori pembelajaran. Pendukung humanis memiliki pandangan yang sangat positif dan optimis tentang kodrat manusia. Pandangan humanistik menyatakan bahwa manusia adalah agen yang bebas dengan kemampuan superior untuk menggunakan simbol-simbol dan berpikir secara abstrak. Jadi, orang mampu membuat pilihan yang cerdas, untuk bertanggungjawab atas perbuatannya, dan menyadari potensi penuhnya sebagai orang yang mengaktualisasikan diri. Humanist memiliki pandangan holistik mengenai perkembangan manusia, yang melihat setiap orang sebagai makhluk keseluruhan yang unik dengan nilai independen. Dalam pandangan holistik, seseorang lebih dari sekedar kumpulan dorongan, instink, dan pengalaman yang dipelajari. Tiga tokoh terkemuka Psikologi humanistik adalah Charlotte Buhler (1893–1974), Abraham Maslow (1908–1970), dan Carl Rogers (1902–1987).

a). Buhler: Teori Tahap Perkembangan
Charlotte Buhler, seorang psikolog Wina, adalah ketua pertama dari Asosiasi Psikologi Humanistik. Buhler menolak anggapan dari para psikoanalis bahwa pemulihan homeostasis psikologis (keseimbangan) melalui pelepasan ketegangan merupakan tujuan dari manusia. Menurut teori Buhler, tujuan riil/nyata dari manusia adalah pemenuhan yang dapat mereka capai dengan pencapaian/prestasi dalam diri mereka dan di dunia (Buhler, dalam Rice, 2002).
Kecenderungan dasar manusia adalah aktualisasi diri, atau realisasi diri, sehingga pengalaman puncak darikehidupan muncul melalui kreativitas. Buhler menekankan peran aktif yang manusia mainkan melalui inisiatif mereka sendiri
dalam memenuhi tujuan. Tabel 1 menjelaskan fase yang diuraikan oleh Buhler Dalam tahap terakhir dari kehidupan, banyak manusia mengevaluasi total eksistensi mereka dalam hal pencapaian atau kegagalan.
Tabel 1. Fase Kehidupan dari Buhler
Fase Perkembangan
Fase 1 : 0 – 15 th Pertumbuhan biologis progresif; anak di rumah; hidup berpusat pada kepentingan yang sempit, sekolah, keluarga
Fase 2 : 16 – 27 th Pertumbuhan biologis lanjut, kedewasaan seksual; perluasan aktivitas, penentuan diri;  meninggalkan keluarga, memasuki kegiatan independen dan relasi personal
Fase 3 : 28 – 47 th Stabilitas biologis; periode puncak; periode yang lebih baik dari pekerjaan profesional dan kreatif; banyak hubungan personal dan sosial
Fase 4 : 48 – 62 th Kehilangan fungsi produktif, penurunan kemampuan; penurunan dalam aktivitas; kehilangan personal, keluarga, ekonomi; transisi ke fase ini ditandai oleh krisis psikologis;
periode instrospeksi
Fase 5 : 63 th & > Penurunan biologis, meningkatnya penyakit; pengunduran diri dari profesi; penurunan dalam sosialisasi, tapi meningkat dalam hobi, pencarian individu; periode retrospeksi, perasaan pemenuhan atau kegagalan.

b). Maslow: Teori Hierarkhi Kebutuhan
Abraham Maslow adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam psikologi humanistik. Dilahirkan dalam keluarga Yahudi Ortodok di New York, ia memperoleh gelar Ph.D dalam Psikologi dari Columbia University di tahun 1934.
Menurutnya, perilaku manusia dapat dijelaskan sebagai motivasi untuk memenuhi kebutuhan. Maslow menyusun kebutuhan manusia menjadi lima kategori: kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan akan cinta dan
kepemilikan (belongingness), kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri . Gambar 1. menunjukkan hierarki kebutuhan seperti disusun oleh Maslow.

Gambar 2. Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow (Rice, 2002)
Menurut pendapat Maslow, urusan pertama kita sebagai manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup: makanan, air, perlindungan dari bahaya. Hanya jika kebutuhan tersebut terpenuhi maka kita bisa mengarahkan energi kita pada kebutuhan manusia yang lebih ekskusif: cinta, dukungan, dan belonging. Pemuasan dari kebutuhan tersebut memung-kinkan kita menaruh minat pada penghargaan diri: Kita pelu memperoleh pengakuan, persetujuan dan kompetensi. Dan akhirnya, jika kita bisa tumbuh dengan cukup makanan, rasa
aman, kasih sayang dan dihargai, kita lebih mungkin menjadi orang yang mengaktualisasikan diri yang telah memenuhi potensi kita. Menurut Maslow, aktualisasi diri adalah kebutuhan tertinggi yang merupakan puncak dari hidup.
c). Rogers: Teori Pertumbuhan Personal
Carl Rogers dibesarkan dalam keluarga yang sangat religius di daerah midwest dan menjadi pendeta Protestan, yang lulus dari Union Theological Seminary di New York . Selama karirnya sebagai pendeta, Rogers menjadi semakin tertarik dengan konseling dan terapi sebagai cara melayani orang-orang yang mengalami masalah, dari siapa ia mengembangkan bentuk khusus terapi yang disebut client-centered therapy. Teorinya didasarkan pada prinsip humanistik bahwa jika orang diberi kebebasan dan dukungan emosional untuk bertumbuh, mereka bisa berkembang menjadi manusia yang berfungsi secara penuh. Tanpa kesamaan atau pengarahan, tetapi didorong dengan lingkungan
yang menerima dan memahami situasi terapeutik, orang akan memecahkan masalahnya sendiri dan berkembang menjadi jenis individu yang mereka inginkan.
Rogers mengatakan bahwa tiap-tiap dari kita memiliki dua self/diri: diri yang kita rasakan sendiri (“I” atau “me” yang merupakan persepsi kita tentang diri kita sesungguhnya “real self”) dan diri kita yang ideal/diinginkan “self ideal” (yang kita inginkan). Rogers (1961) mengajarkan bahwa masing-masing dari kita adalah korban dari conditional positive regard (memberikan cinta, pujian, dan penerimaan jika individu mematuhi normal orang tua atau norma sosial) yang orang lain tunjukkan kepada kita. Kita tidak bisa mendapatkan cinta dan persetujuan orang tua atau orang lain kecuali bila mematuhi norma sosial dan aturan orang tua yang keras. Kita diperintahkan untuk melakukan apa yang harus kita lakukan dan kita pikirkan. Kita dicela, disebutkan nama, ditolak, atau dihukum jika kita tidak menjalani norma dari orang lain. Sering kali kita gagal, dengan akibat kita mengembangkan penghargaan diri yang rendah, menilai rendah diri seniri, dan melupakan siapa diri kita sebenarnya.
Rogers mengatakan bahwa jika kita memiliki citra diri yang sangat buruk atau beperilaku buruk, kita memerlukan cinta, persetujuan, persahabatan, dan dukungan orang lain. Kita memerlukan unconditional positive regard (memberikan dukungan dan apresiasi individu tanpa menghiraukan perilaku yang tak pantas secara sosial), bukan karena kita panta mendapatkannya, tapi karena kita adalah manusia yang berharga dan mulia. Dengan itu semua, kita bisa menemukan harga diri dan kemampuan mencapai ideal-self kita sendiri. Tanpa unconditional positive regard kita tidak bisa mengatasi kekurangan kita dan menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya .
Rogers mengajarkan bahwa individu yang sehat, orang yang berfungsi
sepenuhnya, adalah orang yang telah mencapai keselarasan antara diri yang riil
(real self) dan diri yang dicitakan/diidamkan (ideal self), suatu situasi yang
menghasilkan kebebasan dari konflik internal dan kegelisahan. Jika ada
penggabungan antara apa yang orang rasakan tentang bagaimana dirinya dan
apa yang mereka inginkan, mereka mampu menerima dirinya, menjadi diri
sendiri, dan hidup sebagai diri sendiri tanpa konflik.
d). Peran terhadap Perkembangan
Teori ini mengajarkan orang untuk percaya pada diri sendiri dan
menerima tanggungjawab untuk pengembangan potensi penuhnya. Humanis
juga menekankan bahwa orang memiliki kebutuhan manusia yang nyata yang
harus terpenuhi untuk pertumbuhan dan perkembangan.
4. Teori Kognitif
Kognisi adalah perbuatan atau proses mengetahui. Ada 2 teori sebagai
pendekatan dasar untuk memahami kognisi. Pendekatan pertama adalah
Piagetian approach yang menekankan perubahan kualitatif dalam cara berpikir
mereka ketika berkembang. Pendekatan kedua adalah Teori Vygotsky.
a). Piaget: Perkembangan Kognitif
Jean Piaget (1896-1980) adalah psikolog perkembangan dari Swiss yang
tertarik dengan pertumbuhan kapasitas kognitif manusia. Ia mulai bekerja di
laboratorium Alfred Binet di Paris, dimana pengujian kecerdasan modern berasal.
Piaget mulai memeriksa bagaimana anak-anak tumbuh dan berkembang dalam
kemampuan berpikirnya. Ia menjadi semakin tertarik dengan bagaimana anakanak
mencapai kesimpulan daripada apakah mereka menjawab dengan benar
atau tidak. Jadi bukannya mengajukan pertanyaan dan menilai mereka benar
atau salah, Piaget justru memberikan pertanyaan kepada anak-anak itu untuk
menemukan logika dibalik jawaban mereka. Melalui pengamatan yang seksama
pada anak-anaknya sendiri dan anak-anak lainnya, ia menyusun teori
perkembangan kognitifnya .
Piaget mengajarkan bahwa perkembangan kognitif adalah hasil
gabungan dari kedewasaan otak dan sistem saraf dan adaptasi pada lingkungan
kita. Ia menggunakan lima term untuk menggambarkan dinamika perkembangan
itu. Skema menunjukkan struktur mental, pola berpikir yang orang gunakan untuk
mengatai situai tertentu di lingkungan. Misalnya, bayi melihat benda yang mreka
inginkan, sehingga mereka belajar menangkap apa yang mereka lihat. Mereka
membentuk skema yang tepat dengan situasi. Adaptasi adalah proses dengan
mana anak-anak menyesuaikan pemikirannya untuk memasukkan informasi baru
yang selanjutnya mereka mengerti. Piaget (dalam Rice, 2002) mengatakan
bahwa anak-anak menyesuaikan diri dengan dua cara, yaitu asimilasi dan
akomodasi. Asimilasi berarti memperoleh informasi baru dan memasukkannya ke
dalam skema sekarang dalam respon terhadap stimulus lingkungan yang baru.
Akomodasi meliputi penyesuaian pada informasi baru dengan menciptakan
skema yang baru ketika skema lama tidak berhasil. Anak-anak mungkin melihat
anjing untuk pertama kalinya (asimilasi), tapi kemudian belajar bahwa beberapa
anjing aman untuk dipiara dan anjing lainnya tidak (akomodasi). Ketika anakanak
memperoleh semakin banyak informasi, mereka menyusun pemahamannya
tentang dunia secara berbeda.
Konsep equilibrium/keseimbangan esensial dalam definisi Piaget tentang
kecerdasan sebagai “bentuk equilibration “. Equilibration didefinisikan sebagai
kompensasi untuk gagguan eksternal. Perkembangan intelektual menjadi
kemajuan yang terus-menerus yang bergerak dari satu ketidak-seimbangan
struktural ke keseimbangan struktur yang baru yang lebih tinggi.
Piaget menguraikan empat tahap perkembangan kognitif: sensorimotor,
preoperational, concrete operational, dan formal operational). Tahapan
perkembangan kognitif menguraikan ciri khas perkembangan kognitif tiap tahap
dan merupakan suatu perkembangan yang saling berkaitan dan
berkesinambungan.
Tabel 2. Tahap-tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Usia Tahap Perilaku
Lahir – 18 bl Sensorimotor – Belajar melalui perasaan
– Belajar melalui refleks
– Memanipulasi bahan
18 bl – 6 th Praoperasional – Ide berdasarkan persepsinya
– Hanya dapat memfokuskan pada satu
– variabel pada satu waktu
– Menyamaratakan berdasarkan
pengalaman terbatas
6 th – 12 th Operasional
konkret
– Ide berdasarkan pemikiran
– Membatasi pemikiran pada bendabenda
dan kejadian yang akrab
12 th atau
lebih
Operasional
formal
– Berpikir secara konseptual
– Berpikir secara hipotetis
b). Lev Vygotsky
Lev Vygotsky lahir di Rusia pada tahun 1986. Ketertarikannya pada
perkembangan bahasa dan kognitif dalam hubungannya dengan proses belajar
manusia. Vygotsky meninggal pada usia 38 tahun pada tahun 1934. Walau
hidupnya singkat, teori yang dihasilkannya merupakan teori yang sangat berarti
bagi perkembangan dunia psikologi dan dunia pendidikan (Mooney, 2003). Satu
hal pernyataan Vygotsky yang terkenal adalah, “Pembelajaran dan
Perkembangan merupakan dua hal yang saling berkaitan sejak hari pertama
kehidupan manusia”
Vygotsky telah mengubah cara pendidik berpikir tentang interaksi anakanak
dengan orang lain. Pekerjaannya menunjukkan bahwa perkembangan
kognitif dan sosial berhubungan dan saling melengkapi. Selama bertahun-tahun,
pendidik terdahulu, yang belajar teori-teori Piaget, memandang pengetahuan
anak sebagai yang tersusun dari pengalaman-pengalaman pribadi. Meskipun
Vygotsky juga mempercayai hal ini, ia berpikir bahwa pengalaman pribadi dan
sosial tidak bisa dipisahkan. Dunia yang anak-anak alami terbentuk oleh
keluarga, status sosio ekonomi, pendidikan dan pemahaman mereka mengenai
dunia ini yang sebagian berasal dari nilai-nilai dan keyakinan dari orang dewasa
dan anak-anak lain dalam kehidupan mereka. Anak-anak saling belajar satu
sama lain setiap hari. Mereka mengembangkan kecakapan bahasa dan
menangkap konsep-konsep baru ketika mereka saling berbincang dan
mendengar satu sama lain.
Seperti halnya Piaget, Vygotsky percaya bahwa banyak pembelajaran
yang terjadi ketika anak-anak bermain. Ia percaya bahwa bahasa dan
perkembangan saling menambah satu sama lain. Ketika anak-anak bermain,
mereka secara konstan menggunakan bahasa mereka mendiskusikan peran dan
benda, arah atau tujuan serta saling mengoreksi. Merekapun belajar tentang
situasi dan ide-ide yang belum dicoba. Vygotsky percaya bahwa interaksi ini
menyumbang pada konstruksi pengetahuan siswa untuk pembelajaran mereka.
Kontribusi utama dari Vygotsky untuk pemahaman tentang perkembangan
individu adalah pemahamannya mengenai kepentingan interaksi dengan
pendidik dan teman sebaya dalam mengembangkan pengetahuan siswa
tersebut.
Dalam beberapa hal, pendekatan Vygotsky yang menegaskan begitu
pentingnya peran orang dewasa atau pengasuh dalam membimbing
pembelajaran siswa. Ketika bekerja bersama, siswa dapat dibantu untuk
mencapai apa yang tidak mungkin jika dilakukan sendiri. Pandangan ini
menekankan nilai interaksi dalam pembelajaran. Ini merupakan interaksi yang
memberikan dasar untuk penyusunan sederet pengertian. Misalnya, anak-anak
melalui sederetan interaksi dengan orang dewasa memperoleh kecakapan
kompleks dan aksi dengan terlibat dalam Tarian Barongsai Cina. Dalam
peringatan Tahun Baru Cina, anak-anak tersebut bukan hanya
mendemonstrasikan aksi-aksi yang seharusnya tetapi juga urutan dan interaksi
diantara peserta yang membentuk dasar dari tarian ini. Pertunjukan tari itu tidak
mungkin dilakukan tanpa bimbingan dan bantuan orang dewasa.
Salah satu perbedaan utama dalam pendekatan Piaget dan Vygotsky
adalah Piaget membuktikan bahwa anak-anak memperoleh keuntungan dari
eksplorasi dan penemuan yang diprakarsai sendiri dari metode-metode
pengajaran yang merespon tingkat pemahaman mereka. Sementara Vygotsky
menekankan peran orang dewasa dalam memimpin perkembangan, yaitu bukan
hanya mencocokkan lingkungan pembelajaran melainkan juga membuat
lingkungan dimana anak-anak dengan bantuan orang lain dapat memperluas dan
meningkatkan pemahaman mereka saat itu.
Dengan gambaran pengetahuan mengenai anak-anak dan pola-pola
pertumbuhan, perkembangan dan pembelajarannya, maka pendidik anak-anak
usia dini tersebut akan ada dalam posisi yang sangat kuat untuk membimbing
pembelajaran anak dengan banyak cara. Misalnya dengan menggambarkan
pengetahuan secara terperinci mengenai kebutuhan, kelebihan dan minat anak,
pendidik akan dapat menentukan pengalaman-pengalaman yang menarik dan
menantang bagi anak-anak.
Salah satu konsep penting dari teori Vygotsky adalah Zone of Proximal
Development (ZPD). Vygotsky mendefinisikannya untuk tugas-tugas yang sulit
dikuasai sendiri oleh siswa, tetapi dapat dikuasai dengan bimbingan dan bantuan
orang dewasa atau siswa yang lebih terampil (Santrock, 1995). Ia yakin bahwa
seorang siswa pada sisi pembelajaran konsep baru dapat memperoleh manfaat
dari interaksi dengan seorang pendidik atau teman kelas. Bantuan yang pendidik
atau teman sebaya berikan sebagai scaffolding. Scaffolding ini diartikan
sebagai kerangka pengetahuan yang disiapkan saat masa kematangan tiba.
Dengan cara yang sama, orang dewasa dan teman sebaya dapat membantu
seorang anak “mencapai” konsep atau kecakapan baru dengan memberikan
informasi yang mendukung. Vygotsky percaya hal ini dapat dilakukan bukan
hanya oleh pendidik tetapi juga oleh kelompok anak yang telah memiliki
kecakapan yang diinginkan.
Seperti Piaget, Vygotsky menempatkan banyak sekali penekanan pada
pentingnya pengamatan. Dengan mengawasi dan mendengar secara seksama,
pendidik mulai mengenal perkembangan tiap-tiap anak. Menurut Vygotsky, hal
inilah satu-satunya cara bagi para pendidik untuk menilai secara akurat apa yang
ada dalam ZPD anak pada suatu waktu. Pengetahuan ini esensial untuk
perencanaan kurikulum yang baik.
Vygotsky juga yakin bahwa bahasa memberikan pengalaman yang
penting untuk mengembangkan perkembangan kognitif. Ia yakin bahwa berbicara
adalah penting untuk mengklarifikasi poin-poin penting selain itu berbicara
dengan orang lain juga membantu kita belajar lebih banyak tentang komunikasi.
Sebagai contoh, kita dapat belajar banyak dari pengamatan percakapan anak44
anak. Hal ini dapat membantu kita menemukan apa yang anak-anak ketahui dan
apa yang membingungkan mereka. Banyak diantara kita memiliki kenangan
tentang sekolah dimana kita diharapkan tenang dan belajar. Para pendidik pada
saat itu berpikir belajar adalah perjalanan yang terpencil, sesuatu yang tiap siswa
harus lakukan sendiri. Vygotsky telah menunjukkan kepada kita pentingnya
pembelajaran sebagai pengalaman interaktif. Pendidik yang ingin mendorong
perkembangan bahasa dapat melakukannya dengan mendorong kegiatan untuk
bercakap-cakap.
Vygotsky yakin bahwa bahasa menyajikan pengalaman yang terbagi yang
penting untuk mengembangkan perkembangan kognitif. Ia yakin bahwa berbicara
adalah penting untuk memperjelas hal-hal yang penting tetapi berbicara dengan
orang lain juga membantu kita belajar lebih banyak tentang komunikasi.
Vygotsky telah membantu para pendidik untuk melihat bahwa anak-anak
belajar bukan hanya dengan melakukan atau bekerja tetapi juga dengan
berbicara, bekerja dengan teman-teman, dan bertekun pada tugas itu hingga
mereka “mendapatkannya”. Untuk mendukung pembelajaran sosial anak-anak,
pendidik dapat memberikan banyak kesempatan bagi anak untuk saling
membantu atau untuk bekerja sama pada proyek-proyek dari pilihan mereka.
Pendidik meningkatkan pembelajaran siswa bukan dengan sekali-kali
memberi mereka jawaban. Melalui interaksi, percakapan, dan percobaan, anakanak
meningkatkan keterampilan/kecakapannya dan mencapai tujuan mereka.
Mereka mempelajari baik proses yaitu bagaimana berdiskusi tentang
menggunakan alat-alat; bagaimana bereksperimen untuk mengetahui alat mana
yang bekerja paling baik, dan isi yaitu cara apa yang paling efektif untuk
menggali benda beku dari potongan es, dan secara sambil lalu mempelajari pula
prinsip-prinsip fisika seperti pengangkatan melalui interaksi mereka. Vygotsky
yakin bahwa pembelajaran perkembangan adalah sama tetapi tidak identik.

Kombinasi dari pengajaran anak dan menghargai perkembangan individu anak
akan mengoptimalkan pembelajaran.
c). Peran terhadap Perkembangan
Secara umum, Ahli teori kognitif telah memberikan sumbangan nyata
dengan memfokuskan perhatian pada proses mental dan peran mereka dalam
perilaku. Piaget menekankan pentingnya pendidik dalam memperhatikan
tahapan perkembangan kognisi setiap individu, sehingga metode pendekatan
pembelajaran dapat diberikan dengan tepat. Proses asimilasi, akomodasi, serta
adapatasi individu terhadap informasi yang masuk merupakan proses yang harus
dipahami bahwa seringkali bersifat sangat individual. Kontribusi utama dari
Vygotsky untuk pemahaman tentang perkembangan individu adalah
pemahamannya mengenai kepentingan interaksi dengan pendidik dan teman
sebaya dalam mengembangkan pengetahuan siswa tersebut. Pengamatan
merupakan hal penting untuk dilakukan pendidik dan orangtua, sehingga
perlakuan yang betul dapat diberikan untuk mengoptimalkan perkembangan
individu. Vygotsky juga menekankan peran orang dewasa dalam memimpin
perkembangan, yaitu bukan hanya mencocokkan lingkungan pembelajaran
melainkan juga membuat lingkungan anak-anak dengan bantuan orang lain
dapat memperluas dan meningkatkan pemahaman mereka saat itu.
5. Teori Ekologi
a) Pokok Teori Ekologi
Urie Bronfenbrenner (dalam Santrock, 1995) merupakan ahli yang
mengemukakan teori sistem mengenai ekologi yang menjelaskan perkembangan
individu dalam interaksinya dengan lingkungan di luar dirinya yang terus menerus
mempengaruhi segala aspek perkembangannya. Teori ekologi ini ialah
pandangan sosiokultural Bronfenbrenner tentang perkembangan yang terdiri dari
lima sistem lingkungan, mulai dari pengaruh interaksi langsung pada individu
hingga pengaruh kebudayaan yang berbasis luas. Kelima sistem ekologi tersebut
adalah mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem
(Santrock, 1995). Adapun urutan sistem tersebut sebagai berikut :
a. Mikrosistem, yaitu kondisi yang melatarbelakangi anak hidup dan
berinteraksi dengan orang lain dan institusi yang paling dekat dengan
kehidupannya, seperti orangtua, teman sebaya, dan sekolah.
b. Mesosistem, yaitu hubungan antar dalam mikrosystem. Sebagai contoh,
orang tua dan guru berinteraksi dalam sistem sekolah, anggota
keluarga dan peer menjadi relasinya di dalam institusi keagamaan,
pelayanan kesehatan berinteraksi dengan keluarga anak dan
sekolahnya
c. Eksosistem, yaitu sistem yang berisi sejumlah kondisi yang
mempengaruhi perkembangan anak, namun anak di sini tidak terlibat
dalam suatu peran langsung. Sebagai contoh, karena adanya kondisi
kemiskinan dalam keluarga, anak terpaksa harus bekerja untuk mencari
uang dan tidak melanjutkan sekolah.
d. Makrosistem, yaitu sistem yang mengelilingi mikro-meso-dan
eksosistem dan merespresentasikan nilai-nilai, ideologi, hukum,
masyarakat dan budaya. Sebagai contoh anak Indonesia tidak sama
dengan anak Amerika
e. Kronosistem, yaitu dimensi waktu yang menuntun perjalanan setiap
level sistem dari mikro ke makro. Kronosistem ini juga mencakup
berbagai peristiwa hidup yang penting pada individu dan kondisi sosiokultural.
Untuk lebih jelasnya tentang sistem ekologi dari Bronfenbrenner ini dapat
dicermati gambar berikut ini.
Gambar 3. Teori Ekologi dari Bronfenbrenner
b) Peran terhadap Perkembangan
Dari perspektif teori ekologi, individu berkembang dalam jaringan yang
kompleks dari sistem yang saling berhubungan Oleh karena itu banyak sumber
berperan dalam perkembangan tingkah laku. Selain faktor individual, faktor
lingkungan seperti aktivitas pengasuhan dianggap sebagai salah satu determinan
dari permasalahan tingkah laku bermasalah. Teori ini menekankan bahwa
manusia tidak berkembang dalam isolasi, namun merupakan rangkaian interaksi
di dalam keluarga, sekolah, masyarakat atau komunitasnya. Setiap lapisan
lingkungan selalu bersifat dinamis mempengaruhi mempengaruhi perkembangan
individu.
48
6. Teori Etologi
a) Lorentz: Imprinting
Ethology menekankan bahwa perilaku adalah produk dari evolusi dan
ditentukan secara biologis. Tiap spesies mempelajari adaptasi apa yang penting
untuk bertahan hidup, dan melalui proses seleksi alam, yang paling baiklah yang
mampu hidup untuk mewariskan sifat-sifatnya kepada keturunannya.
Konrad Lorentz (1903-1989) merupakan ahli ethologi peraih hadiah
Nobel, meneliti pola-pola perilaku dari kawanan angsa dan menemukan bahwa
anak angsa terlahir dengan instink untuk mengikuti induknya (Santrock 1995;
Rice, 2002). Perilaku ini ada sejak lahir dan merupakan bagian dari instink
mereka untuk bertahan hidup. Lorentz juga menemukan bahwa jika anak angsa
tersebut ditetaskan dalam inkubator, mereka akan mengikuti benda yang
pertama bergerak yang mereka lihat, yang mempercayai benda itu sebagai
induknya. Lorents bersiaga ketika tutup inkubator diangkat. Ia adalah orang
pertama yang anak angsa lihat, jadi sejak itu anak angsa tersebut mengikuti
Lorentz seolah ia induknya. Anak angsa tersebut bahkan mengikuti Lorentz
ketika ia berenang.
Lorentz menyebut proses ini sebagai imprinting, yang meliputi
pengembangan kasih sayang yang cepat pada benda pertama yang
dilihat. Lorentz menemukan bahwa ada periode kritis, tak lama seteah
penetasan, selama mana imprinting akan terjadi.
b). Bonding & Attachment Theories
Bonding─pembentukan hubungan yang erat antara seseorang dan
seorang anak. Attachment theory─-deskripsi dari proses dengan mana bayi
mengembangkan ketergantungan emosional yang dekat pada satu atau lebih
banyak pengasuh dewasa.
49
Upaya-upaya telah dilakukan untuk menerapkan prinsip-prinsip ethologi
pada manusia. Meskipun tidak ada manusia yang sama dengan imprinting,
bonding (pertalian) menunjukkan beberapa kesamaan. Ada beberapa bukti
menunjukkan bahwa kontak orangtua-bayi selama jam-jam dan hari-hari pertama
kehidupan adalah penting bagi hubungan orangtua-anak selanjutnya (Klaus &
Kennel, dalam Rice, 2002). Beberapa studi di Case Western Reserve University
di Cleveland menegaskan perasaan keibuan dimana ikatan emosional antara ibu
dan bayi dipekuat oleh kontak yang intim selama jam-jam pertama kehidupan
Satu kelompok ibu diberi waktu 16 jam kedekatan ekstra selama tiga hari
pertama hidup─satu jam setelah lahir dan lima jam setiap siang hari. Ketika bayi
berusia satu bulan dan ketika berusia satu tahun, ibu tersebut dibandingkan
dengan kelompok kontrol yang menjalani rutinitas rumah sakit seperti biasa. Para
ibu yang memiliki waktu lebih bersama bayinya lebih memanjakan, mencari
kontak mata yang dekat, dan merespon tangisan mereka. Para peneliti
menyimpulkan bahwa membiarkan ibu dan bayinya bersama selama satu jam
pertama setelah lahir memperkuat “kepekaan keibuan” sang ibu dan
memperlama pemisahan ibu-bayi selama beberapa hari pertama akan berefek
negatif.
Meskipun kontak awal orangtua dan bayi adalah penting, namun studistudi
lain gagal menegaskan hasil temuan Klaus dan Kennel bahwa ada periode
kritis selama masa bonding pasti terjadi, dan bahwa jika hal itu tidak terjadi efek
membahayakan akan dirasakan dan berlangsung terus. Sebaliknya, Egeland &
Vaughn (Rice, 2002) menemukan tidak adanya insiden yang lebih besar dari
masalah-masalah pengabaian, kekerasan, sakit, atau penyesuaian diantara bayi
yang telah dipisahkan dari ibunya selama sesaat setelah lahir. Satu hal yang
penting adalah bahwa kepentingan dari beberapa jam krusial langsung setelah
kelahiran belum terbentuk secara meyakinkan.
50
John Bowlby memberikan banyak penerangan tentang subyek ini dalam
pembahasannya tentang attachment theory (Bretheton, dalam Rice, 2002)). Bayi
tidak dilahirkan dengan attachment pada siapapun: ibu, ayah atau orang lain.
Namun karena kelangsungan hidup bayi bergantung pada pengasuh yang
mencintai, bayi perlu mengembangkan attachment. Bowlby menyatakan bahwa
selama enam bulan pertama, attachment bayi cukup luas. Bayi menjadi lekat
pada orang-orang secara umum, sehingga mereka nampak tidak memiliki
preferensi khusus akan siapa yang merawatnya. Namun, dari enam bulan ke
depan, attachment menjadi lebih spesifik. Anak bisa mengembangkan multiple
attachment, tapi semua itu dengan berbagai pihak, seperti ibu, ayah, pengasuh
sehingga anak gelisah ketika ditinggalkan bersama pengasuh yang tidak
dikenalnya.
c). Hinde: Periode Perkembangan Sensitif
Etholog Robert Hinde, dosen Psikologi di Cambridge University, Inggris,
lebih menyukai istilah periode sensitif daripada “periode kritis” pada masa-masa
tertentu ketika organisme lebih dipengaruhi oleh jenis-jeis pengalaman khusus.
Istilah periode sensitif, yang awalnya digunakan oleh Maria Montessori, nampak
lebih luas dan merupakan konsep yang lebih fleksibel daripada konsep yang
lebih sempit dari periode kritis. Dengan anak-anak manusia, nampak ada periode
sensitif secara khusus pada perkembangan bahasa, ikatan emosional, atau
hubungan sosial. Ketika defisit terjadi selama masa sensitif tersebut, pertanyaan
yang ada apakah mereka bisa dipulihkan selama periode perkembangan
selanjutnya. Hal ini ternyata tergantung pada sejauh mana pengalaman awal
dan pengaruh lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan individu tersebut.
51
d). Peran terhadap Perkembangan
Teori ini menekankan bahwa perilaku individu adalah produk dari evolusi
dan ditentukan secara biologis. Teori ini juga tetap menghargai adanya peran
lingkungan dalam memenuhi berbagai kebutuhan individu, sehingga pengalaman
individu pada awal kehidupan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi
kehidupan individu tersebut di masa selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s