KESULITAN BELAJAR

kesulitan belajar adalah keadaan di mana anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar yang dimaksud disini ialah kesukaran yang dialami siswa dalam menerima atau menyerap pelajaran, kesulitan belajar yang dihadapi siswa ini terjadi pada waktu mengikuti pelajaran yang disampaikan/ditugaskan oleh seorang guru. Dalam definisi lain dikatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi di mana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar.

Anak-anak yang mengalami kesulitan belajar itu biasa dikenal dengan sebutan prestasi rendah/kurang (under achiever). Anak ini tergolong memiliki IQ tinggi tetapi prestasi belajarnya rendah (di bawah rata-rata kelas).

Dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar ialah suatu keadaan dimana anak didik tidak dapat menyerap pelajaran dengan sebagaimana mestinya. Dengan kata lain ia mengalami kesulitan untuk menyerap pelajaran tersebut, baik kesulitan itu datang dari dirinya sendiri, dari sekitarnya ataupun karena faktor-faktor lain yang menjadi pemicunya. Dalam hal ini, kesulitan belajar ini akan membawa pengaruh negatif terhadap hasil belajarnya. Jika kadang kita beranggapan bahwa hasil belajar yang baik itu diperoleh oleh anak didik yang memiliki inteligensi di atas rata-rata, namun sebenarnya terkadang bukan inteligensi yang menjadi satu-satunya tolak ukur prestasi belajar. Justru terkadang kesulitan belajar ini juga turut berperan dalam mempengaruhi hasil belajar anak didik

Secara umum faktor – faktor yang menyebabkan kesulitan belajar dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Faktor Internal

Faktor internal ini dapat diartikan faktor yang berasal dari dalam atau yang berasal dari dalam individu itu sendiri, atau dengan kata lain adalah faktor yang berasal dari anak didik itu sendiri. Faktor-faktor yang termasuk dalam bagian ini yaitu:

  1. Inteligensi (IQ) yang kurang baik.
  2. Bakat yang kurang atau tidak sesuai dengan bahan pelajaran yang dipelajari atau diberikan oleh guru.
  3. Faktor emosional yang kurang stabil.
  4. Aktivitas belajar yang kurang. Lebih banyak malas daripada melakukan kegiatan belajar.
  5. Kebiasaan belajar yang kurang baik. Belajar dengan penguasaan ilmu hafalan pada tingkat hafalan, tidak dengan pengertian (insight), sehingga sukar ditransfer ke situasi yang lain.
  6. Penyesuaian sosial yang sulit.
  7. Latar belakang pengalaman yang pahit.
  8. Cita-cita yang tidak relevan (tidak sesuai dengan bahan pelajaran yang dipelajari).
  9. Latar belakang pendidikan yang dimasuki dengan sistem sosial dan kegiatan belajar mengajar di kelas yang kurang baik.
  10. Ketahanan belajar (lama belajar) tidak sesuai dengan tuntutan waktu belajarnya.
  11. Keadaan fisik yang kurang menunjang. Misalnya cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, dan gangguan psikomotor. Cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, hilang tangan dan kaki, dan sebagainya.
  1. Kesehatan yang kurang baik.
  2. Seks atau pernikahan yang tak terkendali.
  3. Pengetahuan dan keterampilan dasar yang kurang memadai (kurang mendukung) atas bahan yang dipelajari.
  4. Tidak ada motivasi dalam belajar.

Selain itu, Oemar Hamalik menambahkan beberapa faktor yang berasal dari diri sendiri yaitu:

  • Tidak mempunyai tujuan yang jelas.
  • Kurangnya minat terhadap bahan pelajaran.
  • Kesehatan yang sering terganggu.
  • Kecakapan mengikuti perkuliahan, artinya mengertia apa yang dikuliahkan.
  • Kebiasaan belajar.
  • Kurangnya penguasaan bahasa.

Selain faktor di atas, faktor lain yang berpengaruh adalah faktor kesehatan mental dan tipe-tipe belajar pada anak didik, yaitu ada anak didik yang tipe belajarnya visual, motoris dan campuran. Tipe-tipe khusus ini kebanyakan pada anak ini relatif sedikit, karena kenyataannya banyak yang bertipe campuran

  1. Faktor Eksternal

Faktor eksternal ialah faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri, meliputi:

  1. Faktor Keluarga, beberapa faktor dalam keluarga yang menjadi penyebab kesulitan belajar anak didik sebagai berikut:
  • Kurangnya kelengkapan belajar bagi anak di rumah, sehingga kebutuhan belajar yang diperlukan itu, tidak ada, maka kegiatan belajar anak pun terhenti untuk beberapa waktu.
  • Kurangnya biaya pendidikan yang disediakan orangtua.
  • Anak tidak mempunyai ruang dan tempat belajar yang khusus di rumah.
  • Ekonomi keluarga yang terlalu lemah atau terlalu tinggi.
  • Kesehatan keluarga yang kurang baik.
  • Perhatian keluarga yang tidak memadai.
  • Kebiasaan dalam keluarga yang tidak menunjang.
  • Kedudukan anak dalam keluarga yang menyedihkan. Orang tua yang pilih kasih dalam mengayomi anaknya.
  • Anak yang terlalu banyak membantu orang tua.
  1. Faktor sekolah, faktor sekolah yang dianggap dapat menimbulkan kesulitan belajar di antaranya:
  • Pribadi guru yang kurang baik
  • Guru tidak berkualitas, baik dalam pengambilan metode yang digunakan ataupun dalam penguasaan mata pelajaran yang dipegangnya.
  • Hubungan guru dengan anak didik kurang harmonis.
  • Guru-guru menuntut standar pelajaran di atas kemampuan anak.
  • Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha mendiagnosis kesulitan belajar anak didik.
  • Cara guru mengajar yang kurang baik.
  • Alat/media yang kurang memadai.
  • Perpustakaan sekolah kurang memadai dan kurang merangsang penggunaannya oleh anak didik.
  • Fasilitas fisik sekolah yang tak memenuhi syarat kesehatan dan tak terpelihara dengan baik.
  • Suasana sekolah yang kurang menyenangkan.
  • Bimbingan dan penyuluhan yang tak berfungsi.
  • Kepemimpinan dan administrasi. Dalam hal ini berhubungan dengan sikap guru yang egois, kepala sekolah yang otoriter.
  • Waktu sekolah dan disiplin yang kurang
  1. Faktor Masyarakat Sekitar

Dalam bagian ini, kesulitan belajar biasanya dipengaruhi oleh:

  • Media massa seperti bioskop, TV, surat kabar, majalah buku-buku, dan lain-lain.
  • Lingkungan sosial, seperti teman bergaul, tetangga, serta aktivitas dalam masyarakat.

Selain faktor-faktor yang bersifat umum di atas, adapula faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar pada anak didik. Faktor-faktor ini dipandang sebagai faktor khusus. Misalnya sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). Sindrom (syndrome) berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar anak didik. Sindrom itu misalnya disleksia (dyslexia), yaitu ketidakmampuan belajar membaca, disgrafia (dysgraphia), yaitu ketidakmampuan belajar menulis, diskalkulia (dyscalculia), yaitu ketidakmampuan belajar matematika.

Anak didik yang memiliki sindrom-sindrom di atas secara umum sebenarnya memiliki IQ yang normal dan bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar anak didik yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya gangguan ringan pada otak (minimal) brain dysfunction. (Muhibbin Syah, 1999: 165)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s