PRINSIP DAN PROSEDUR PENILAIAN HASIl BELAJAR

A. Pengertian

  1. Skor/Score yaitu angka yang menunjukkan jumlah jawaban yang benar dari sejumlah butir soal yang membentuk tes.Cara pemberian skor terhadap hasil tes belajar pada umumnya disesuaikan dengan bentuk soal-soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut, apakah tes uraian (essay) ataukah tes objektif (objective test).Untuk soal-soal objektif biasanya setiap jawaban benar diberi skor 1 (satu) dan setiap jawaban yang salah diberi skor 0 (nol); total skor diperoleh dengan menjumlahkan skor yang diperoleh dari semua soal. Untuk soal-soal essay dalam penskorannya biasanya digunakan cara memberi bobot (weithing) kepada setiap soal menurut tingkat kesukaranya atau banyak –sedikitnya unsur yang yang harus terdapat dalam jawaban yang dianggap paling baik. Misalnya: untuk soal no. 1 diberi skor maksimal 4, untuk soal no. 3 diberi skor maksimum 6, untuk skor no. 5 skor maksimum 10 dan seterusnya.
  2. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan membandingkan hasil pengukuran sesuai kriteria. Nilai (grade) adalah angka yang menunjukkan tingkat pencapaian tujuan instruksional yang dicantumkan dalam keseluruhan tes. Setelah memeriksa hasil tes dan  menghitung jumlah jawaban benar untuk menentukan skornya, maka langkah berikut adalah menetapkan nilai untuk pencapaian belajar ssiwa seperti yang dicerminkan oleh skor itu

B. Prinsip dasar Tes hasil Belajar

prinsip dasar yang perlu dicermati di dalam menyusun tes hasil belajar.

  • Tes hasil belajar harus dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional.
  • Butir-butir soal tes hasil belajar harus merupakan sampel yang representatif dari populasi bahan pelajaran yang telah diajarkan, sehingga dapat dianggap mewakili seluruh performance yang telah diperoleh selama peserta didik mengikuti suatu unit pengajaran.
  • Tes hasil belajar disamping harus dapat dijadikan alat pengukur keberhasilan belajar siswa, juga harus dapat dijadikan alat untuk mencari informasi yang berguna untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru itu sendiri (evaluasi formatif)Bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar harus dibuat bervariasi, sehingga betul-betul cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan tes dan kemampuan hasil belajar itu sendiri.
  • Tes hasil belajar harus memiliki reliabilitas yang dapat diandalkan sehingga mudah dinterpretasikan dengan baik.
  • Tes hasil belajar harus didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan.Empat macam kegunaan tes yaitu:
  1. Tes yang digunakan untuk penentuan penempatan siswa dalm suatu jenjang atau jenis program pendidikan tertentu.
  2. Tes yang digunakan untuk mencari umpan balik guna memperbaiki proses belajar-mengajar bagi guru maupun siswa.
  3. Tes yang digunakan untuk mengukur atau menilai sampai dimana pencapaian siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan, dan selanjutnya untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan siswa yang bersangkutan (tes sumatif)
  4. Tes yang bertujuan untuk mencari sebab-sebab kesulitan belajar siswa seperti latar belakang psikologis, fisik, dan lingkungan sosial-ekonomi siswa (tes diagnostic).

 

C.Prinsip penilaian

  • Penilaian hasil belajar hendaknya menjadi bagian integral dari proses pembelajaran. Artinya setiap guru melaksanakan proses pembelajaran ia harus melaksanakan kegiatan penilaian. Penilaian yang dimaksud adalah penilaian formatif.
  • Penilaian hasil belajar hendaknya dirancang dengan jelas kemampuan apa yang harus dinilai, materi atau isi bahan ajar yang diujikan, alat penilaian yang akan digunakan, dan interpretasi hasil penilaian.
  • Penilaian harus dilaksanakan secara komprehensif, artinya kemampuan yang diukurnya meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotiris.
  • Alat penilaian harus valid dan reliabel. Valid artinya mengukur apa yang seharusnya diukur (ketepatan). Reliabel artinya hasil yang diperoleh dari penilaian adaalah konsisten atau ajeg (ketetapan).
  • Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tidak lanjutnya. Data hasil penilaian sangat bermanfaat bagi guru sebagai bahan untuk menyempurnakan program pembelajaran, memperbaiki kelemahan-kelemahan pembelajaran, dan kegiatan bimbingan belajar pada siswa yang memerlukannya.
  • Penilaian hasil belajar harus obyektif dan adil sehingga bisa mengambarkan kemampuan siswa yang sebenarnya

D. Acuan Penilaian dan Prosedur Pemberian Nilai

  1. Acuan Penilaian
  1. Penilaian Acuan Patokan (PAP) (criterion referenced evaluation)
  • Pengertian PAP

Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah penilaian yang menggunakan acuan pada tujuan pembelajaran atau kompetensi yang harus dikuasai siswa. Derajat keberhasilan siswa dibandingkan dengan tujuan atau kompetensi yang seharusnya dicapai atau dikuasai siswa bukan dibandingkan dengan prestasi kelompoknya. Standar penilaian acuan patokan berbasis pada konsep belajar tuntas atau mastery learning. Dalam penilaian ini ditetapkan kriteria minimal harus dicapai atau dikuasai siswa. Jika siswa belum mencapai kriteria tersebut siswa belum dinyatakan berhasil dan harus menempuh ujian kembali. Karena itu penilaian acuan patokan sering disebut stándar mutlak. Sistem penilaian ini tepat digunakan baik untuk penilaian formatif maupun penilaian sumatif. Nilai dari hasil PAP dapat dijadikan indikator untuk  mengetahui sampai dimana tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran tertentu.

Melalui PAP berkembang upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melaksanakan tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Perbedaan hasil tes akhir dengan test awal merupakan petunjuk tentang kualitas proses pembelajaran.  Pengolahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menggabungkan skor dari berbagai sumber penilaian untuk memperolah skor akhir.
  2. Menghitung skor minimum penguasaan tuntas dengan menerapkan prosentase Batas Minimal Penguasaan (BMP).
  3. Menentukan tabel konversi

dalam bentuk kurva yang akan berwujud kurva juling positif, kurva juling negatif, dan kurva normal.

  • Penetapan Patokan

Penafsiran hasil tes yang mempergunakan PAP dilakukan dengan membandingkan nilai hasil tes yang diperoleh siswa dengan patokan yang telah ditetapkan sebelumnya. Akan tetapi kriteria yang dipergunakan untuk menetapkan besar-nya patokan itu sendiri  hingga kini belum ada kesepakatan. Oleh karena itu selama ini setiap lembaga/sekolah biasanya bersepakat untuk membuat patokan yang akan diberlakukan di tempat masing-masing.

  • Penggunaan PAP
  1. untuk menguji tingkat pe-nguasaan bahan pelajaran.
  2. Tes akhir (sumatif)
  3. Tes seleksi dengan acuan diluar kelompok, misalnya patokan tujuan yang harus dicapai (standar tertentu)
  4. Tes formatif (tes pembinaan dalam pengajaran), termasuk tes unit, postes ulangan harian/ formatif.
  5. Tes diagnosis, mengetahui jenis dan penyebab kesulitan belajar.
  • Kelebihan PAP
  1. Hasil PAP merupakan  umpan balik yang dapat digunakan guru sebagai introspeksi tentang program pembelajaran yang telah dilaksanakan.
  2. Hasil PAP dapat membantu guru dalam pengambilan keputusan tentang perlu atau tidaknya penyajian ulang topik/materi tertentu.
  3. Hasil PAP dapat pula membantu guru merancang pelaksanaan program remidi.
  4. Dapat mengukur dan menilai penguasaan materi terhadap tujuan instruksional khusus dan tujuan pembelajaran
  5. Langsung dapat menginterpretasikan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik dari kinerja siswa
  6. Dapat menilai dan mengukur kemampuan penguasaan materi yang  harus diketahui siswa
  7. Efektif untuk pembelajaran individual

 

  • Kelemahan PAP
  1. Tidak dapat menunjukkan tingkat kedudukan kemampuan peserta didik terhadap kelompoknya
  2. Sulit untuk menyatakan semua tujuan instruksional khusus secara eksplisit 90
  3. Tidak dapat digunakan untuk menilai dan mengukur kemampuan peserta didik dalam kawasan yang luas
  4. Pola tujuan instruksional khusus membuat pembelajaran sangat terbatas demikian pula proses belajar peserta didik
  • Asumsi Dasar PAP

Pendekatan penilaian ini mendasarkan diri pada asumsi, bahwa:

  1. Hal-hal yang harus dipelajari peserta didik mempunyai struktur hierarkis tertentu dan masing-masing taraf tersebut harus dikuasai secara baik sebelum peserta didik melanjutkan ke tahap selanjutnya.
  2. Evaluator atau tester (dalam hal ini guru, dosen, dll) dapat mengidentifikasi masing-masing taraf itu sampai tuntas, atau setidak-tidaknya mendekati tuntas, sehingga dapat disusun alat pengukurnya.
  1. Penilaian Acuan Norma (PAN) Norm Referenced Evaluation)
    • Pengertian PAN

Penilaian Acuan Norma (PAN) adalah penilaian yang menggunakan acuan pada rata-rata kelompok. Dengan demikian dapat diketahui posisi kemampuan siswa dalam kelompoknya. Untuk itu norma atau kriteria yang digunakan dalam menentukan derajat prestasi seorang siswa selalu dibandingkan dengan nilai rata-rata kelasnya. Atas dasar itu akan diperoleh tiga kategori prestasi siswa, yakni prestai siswa di atas rata-rata kelas, berkisar pada ratarata kelas, dan prestasi siswa yang berada di bawah rata-rata kelas. Dengan kata lain, prestasi yang dicapai seseorang posisinya sangat bergantung pada prestasi kelompoknya. Standar penilaian acuan norma tepat jika digunakan untuk penilaian formatif. Beberapa langkah yang perlu diperlukan dalam mengadakan penilaian berdasarkan acuan kelompok, yaitu:

  1. Memberikan skor tiap siswa
  2. Mencari nilai rata-rata (mean) kelompok
  3. Mencari nilai simpangan baku (standar deviation)
  4. Menbuat pedoman konversi dan menentukan nilai berdasarkan standar yang dibuat.

Secara sederhana, konversi nilai yang biasa digunakan ada lima macam, ytaitu:

  1. Skala Lima (Stanfive) diwujudkan dengan 0,1,2,3,4 atau A,B,C,D,E.
  2. Skala Sembilan (Stannine) diwujudkan dengan 1,2,3,4,5,6,7,8,9.
  3. Skala Sepuluh (C-scale) diwujudkan dengan 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10.
  4. Skala Sebelas (Staneleven), diwujudkan dengan 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,10.
  5. Skala Seratus (T-Scale), diwujudkan dengan 0,1,2,3,s.d 100.

 

  • Pedoman Konversi PAN

Konversi didasarkan pada Mean(nilairata-rata)  dan Standar Deviasi (SD) yang dihitung dari hasil tes yang diperoleh. Jika dihubung-kan dengan skala penilaian, maka pedoman konversi untuk PAN dapat mempergunakan berbagai skala, misalnya skala lima, sembilan, sepuluh, dan seratus.

 

  • Penggunaan PAN

PAN sering digunakan untuk fungsi prediktif, mera-malkan keberhasilan pendidikan siswa di masa mendatang atau untuk menentukan peringkat/kedudukan  siswa dalam kelompok.

 

  • Keunggulan PAN
  1. Hasil PAN dapat membuat guru bersikap positif dalam memperlakukan siswa sebagai individu yang unik.
  2. Hasil PAN akan merupakan informasi yang baik tentang kedudukan siswa  dalam kelompoknya.
  3. PAN dapat digunakan untuk menyeleksi calon siswa yang dites secara ketat.
  4. Dapat untuk mengukur dan menilai secara maksimal
  5. Dapat mengukur, menilai, dan menginterpretasikan kinerja peserta didik di tingkat tinggi pada kawasan/domain afektif dan psikomotorik
  6. Dapat membedakan kemampuan setiap peserta didik yang pintar dengan yang kurang pintar
  7. Efektif untuk menguji yang bersifat seleksi tujuan tertentu.

 

  • Kelemahan PAN
  1. Tidak memadai untuk mengukur dan menilai penguasaan materi dan keterampilan
  2. Hasil pengukuran dan penilaian tidak langsung dapat diinterpretasikan
  3. Tidak dapat menunjukkan kemampuan kesiapan dalam melanjutkan materi dari pembelajaran selanjutnya.
  4. Kurang meningkatkan kualitas hasil belajar, kurang praktis sebab harus dihitung dahulu nilai rata-rata kelas, apalagi jika jumlah siswa cukup banyak.
  5. Sistem ini kurang menggambarkan tercapainya tujuan pembelajaran sehingga tidak dapat dijadikan ukuran dalam menilai keberhasilan mutu pendidikan karena kriteria keberhasilan tidak tetap dan tidak pasti, bergantung pada rata-rata kelas, makanya standar penilaian ini disebut stándar relatif.

 

  • Asumsi Dasar (Dasar pemikiran) PAN
  1. Pada setiap populasi peserta didik yang sifatnya heterogen akan selalu didapati kelompok “baik”, kelompok “sedang”, dan kelompok “kurang. Standar yang dibuat untuk kelompok tertentu tidak dapat digunakan untuk kelompok lainnya. Begitu pula dengan standar yang digunakan untuk hasil tes sebelumnya tidak dapat digunakan untuk hasil tes sekarang atau yang akan datang. Jadi setiap kali kita memperoleh data hasil tes, kita dituntut untuk membuat norma baru.
  2. Tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk menentukan posisi relative (relative standing) dari para peserta tes dalam hal yang sedang dievaluasi itu, yaitu apakah seorang peserta tes posisi relatifnya berada di “atas”, di “tengah”, ataukah di “bawah”.

Perbedaan dan Persamaan PAN dan PAP

  1. Persamaan PAN dan PAP
  2. Penilaian acuan norma dan acuan patokan memerlukan adanya tujuan evaluasi spesifik sebagai penentuan fokus item yang diperlukan. Tujuan tersebut termasuk tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus
  3. Kedua pengukuran memerlukan sample yang relevan, digunakan sebagai subjek yang hendak dijadikan sasaran evaluasi. Sample yang diukur mempresentasikan populasi siwa yang hendak menjadi target akhir pengambilan keputusan.
  4. Untuk mandapatkan informasi yang diinginkan tentang siswa, kedua pengukuran sama-sama memerlukan item-item yang disusun dalam satu tes dengan menggunakan aturan dasar penulisan instrument.
  5. Keduanya mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur.
  6. Keduanya menggunakan macam tes yang sama seperti tes subjektif, tes karangan, tes penampilan atau keterampilan.
  7. Keduanya dinilai kualitasnya dari segi validitas dan reliabilitasnya.
  8. Keduanya digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda.

 

  1. Perbedaan PAN dan PAP
  2. Penilaian Acuan Norma biasanya mengukur sejumlah besar perilaku khusus dengan sedikit butir tes untuk setiap perilaku. Penilaian Acuan Patokan biasanya mengukur perilaku khusus dalam jumlah yang terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku.
  3. Penilaian Acuan Norma menekankan perbedaan di antara peserta tes dari segi tingkat pencapaian belajar secara relatif. Penilaian Acuan Patokan menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes.
  4. Penilaian Acuan Norma lebih mementingkan butir-butir tes yang mempunyai tingkat kesulitan sedang dan biasanya membuang tes yang terlalu mudah dan terlalu sulit. Penilaian Acuan Patokan mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa perduli dengan tingkat kesulitannya.
  5. Penilaian Acuan Norma digunakan terutama untuk survey. Penilaian Acuan Patokan digunakan terutama untuk penguasaan.
  6. PAN dimanfaatkan dalam a) Mengklasifikasi siswa dalam kelompoknya, b) Menetukan peringkat siswa dalam grupnya, c) Menyeleksi siswa berdasar- kan prestasi apa adanya dan pembanding anggota kelompoknya. Sedangkan PAP dimanfaatkan dalam a) Penentuan prestasi siswa dalam mencapai tujuan pengajaran, b) Menyeleksi siswa atas dasar kualitas prestasi, c) Mengukur keefektifan pengajaran (metode, teknik, pemilihan bahan,penggunaan alat, dsb), d) Umpan balik bagi perbaikan pengajaran, dan e) Mengetahui kelamahan/ kesulitan siswa untuk pengajaran remedial.
  7. Pada jenis tesnya. Untuk PAN, tes yang digunakan adalah: a) Tes seleksi dengan acuan intra kelompok (situasi pada kelompok tersebut), b) Tes prognostik, yang bertujuan membuat ramalan (dasar : apabila seseorang menduduki tempat yang sama, semakin tampaklah tingkat kemampuan orang tersebut). Sedangkan PAP, digunakan untuk tes, a) Tes seleksi dengan acuan diluar kelompok, misalnya patokan tujuan yang harus dicapai (standar tertentu), b) Tes formatif (tes pembinaan dalam pengajaran), termasuk tes unit, postes ulangan harian/ formatif, dan c) Tes diagnosis, mengetahui jenis dan penyebab kesulitan belajar siswa.

 

  1. Prosedur Penilaian
  • Penilaian hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif.
  • Harus dibedakan antara peskoran (scoring) dan penilaian (grading).
  • Dalam proses pemberian nilai hendaknya diperhatikan adanya dua macam orientasi, yaitu penilaian yang norms-referenced dan yang criterion-referenced.
  • Kegiatan pemberian nilai hendaknya merupakan bagian integral dari proses belajar-mengajar. Artinya sebagai feedbacak (umpan balik), baik kepada siswa sendiri maupun bagi guru atau pengajar.
  • Penilaian harus bersifat komparabel. Artinya setelah tahap pengukuran yang menghasilkan angka-angka itu dilaksanakan, prestasi-prestasi yang menduduki skor yang sama harus memperoleh nilai yang sama pula.
  • Sistem penilaian yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri.

Macam-macam prosedur penilaian :

  • Prosedur yang tidak membedakan dengan jelas adanya dua fase yaitu fase pengukuran dan penilaian. Prosedur ini mengandung lebih banyak kelemahan daripada kebaikan. Dalam pelaksanaannya sering dikacaukan antara penskoran dan penilaian, atau yang lebih lazim lagi angka atau skor yang sebenarnya merupakan ‘biji’, langsung dianggap sebagai nilai, yang kemudian dipergunakan sebagai alat untuk menentukan vonis kepada siswa atau mahasiswa yang memperoleh ‘biji’ tersebut.

 

  • Prosedur yang telah memisahkan fase pengukuran dan fase penilaian, dengan berbagai variasi mulai dari yang relatif sederhana sampai dengan yang lebih rumit. Yang pertama adalah prosedur penilaian dengan membuat peringkat skor-skor dalam bentuk-bentuk tabel-tabel distribusi. Hal ini yang perlu diperhatikan, dengan penggunaan penilaian norm-oriented dalam bentuk kompetisi intra kelompok dan penilaian criterion-orientid, yaitu dari segi penguasaan minimal yang diharapkan sesuai dengan kapasitas prestasi kelompok atau kelas masing-masing.

 

  • Prosedur penilaian dengan menggunakan persentase (%) banyak digunakan karena dianggap lebih sederhana dan praktis. Penilaian dengan presentase ini umumnya dikaitkan dengan skala penilaian 0-10 atau 0-100, dengan langsung mentransformasikan persentase yang dimaksud menjadi nilai.

 

Prosedur yang menggunakan teknik statistik yang lebih kompleks, yaitu yang dinamakan prosedur perstandardisasian dan penormalisasian. Dikatakan perstandardisasian karena dalam mentranspormasikan skor-skor hasil pengukuran suatu kelompok siswa menggunakan rentangan yang disebut deviasi standar, yaitu penyimpangan rata-rata yang dihitung dari nilai titik tengah kelompok yang disebut mean atau rata-rata hitung.

Daftar Pustaka

http://blogwirabuana.wordpress.com/2011/03/16/penilaian-acuan-norma-pan-dan-penilaian-acuan-patokan-pap/http://akademi-pendidikan.blogspot.com/2012/12/penyekoran-dan-penilaian.htmlhttp://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Prihastuti%20Ekawatiningsih,%20S.Pd.,M.Pd./MATERI%20PAN-PAP.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s