SEJARAH ISLAM DI BULAN SYA’BAN

Menurut Imam Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arob, makna kata Sya’ban adalah dari lafadz ‘Sya’aba’ atau berarti ‘dhoharo’ (tampak) diantara dua bulan mulia, yaitu Rajab dan Ramadhan. Pendapat lain diambil dari kata Sya’bun (Arab: شعب), yang memiliki arti kelompok atau golongan. Mengapa di namakan dengan Sya’ban.? hal ini karena pada bulan ini, masyarakat jahiliyah berpencar mencari air. Akan tetapi Ada pula yang mengatakan, mereka(masyarakat Arab) berpencar menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan antar suku. (Lisanul Arab, kata: شعب). Al-Munawi mengatakan, “Bulan Rajab menurut masyarakat jahiliyah adalah bulan mulia, sehingga mereka tidak melakukan peperangan. Ketika masuk bulan Sya’ban, bereka berpencar ke berbagai peperangan.” (At-Tauqif a’laa Muhimmatit Ta’arif, Hal. 431).

Dari Abu Musa Al Asy’ari radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluqnya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, At Thabrani, dan disahihkan Al Albani)

Mengingat bulan Sya’ban tentunya yang terlintas adalah betapa dekat ramadlan, semoga kita semua diberikan kesempatan menjalani Ibadah Ramadlan tahun ini. Postingan kali ini mengupas sejarah islam di bulan sya’ban antara lain :

A. Kiblat dipindah dari Baitul Maqdis ke Ka’bah
Setelah hijrah ke Madinah kaum muslim sholat dengan menghadap ke baitu al-maqdis yang saat itu merupakan kiblat orang Yahudi . Orang – orang yahudi melihat hal ini sebagai alat dan kesempatan untuk menghina dan melecehkan umat Islam.Namun keimanan yang kukuh dalam hati orang – orang muslim menjadikan mereka tetap teguh menjalankan perintah Allah ta’ala meski mendapatkan hinaan dan celaan dari musuh – musuh Allah ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sampai hati melihat kaumnya menjadi bahan ejekan dan hinaan orang – orang Yahudi.Kemudian beliau berdo’a kepada Allah ta’ala agar mengangkat hinaan itu dan memindahkan kiblat ke ka’bah kembali.Allah ta’ala mengabulkan do’a dari nabi mulia ini dan menjadikan ka’bah sebagai kiblat kaum muslim.Hal ini dijelaskan dalam surat al-Baqoroh ayat 144 :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ وَ إِنَّ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

Artinnya : Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Al-Imam al-Qurthubi dalam al-Jami’ li-ahkami al-Qur’an mengutip dari Abu hatim al-Basti bahwa umat Islam sholat menghadap ke baitul maqdis selama tujuh belas bulan 3 hari,Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah pada hari senin dua belas Rabi’ul Awwal kemudian Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ka’bah pada hari senin pertengahan bulan Sya’ban.

B. Diwajibkan puasa bulan Ramadhan

Pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah umat Islam mulai diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan .

 

C. Turun Ayat Shalawat

Allah ta’ala menurunkan ayat tentang perintah membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Shollallu , yaitu ayat: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab;56).

Karena turunnya ayat ini pada bulan Sya’ban sebagian Ulama menyebut Sya’ban dengan bulan shalawat dan menganjurkan memperbanyak membacanya di bulan ini.

D. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Sayyidatuna Hafshah binti Umar radhiyallahu ‘anhuma

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Sayyidatuna Hafshah binti Umar radhiyallahu anhuma pada bulan Sya’ban tahun ketiga Hijriyah. Hafshah binti Umar radhiyallahu anhuma adalah janda dari Khunais bin Hadafah yang meninggal setelah kembali dari perang Badar.

E. Perang Badar kedua (as-sughra)

Abu Sufyan saat perang Uhud berkata kepada kaum muslim bahwa mereka (kaum musyrik ) akan bertemu kembali tahun depan di Badar.Pada bulan Sya’ban tahun keempat Hijriyah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berangkat memenuhi janji tersebut bersama seribu lima ratus shahabat diantaranya sepuluh orang berkuda dan Sayyiduna Ali bin Abi Tholib sebagai pembawa bendera perang.Sesampainya di Badar, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan kaum muslim menunggu kedatangan orang – orang musyrik .

Abu Sufyan keluar dari Makkah bersama dua ribu orang musyrik dan lima puluh pasukan berkuda.Di tengah perjalanan mereka berhenti,Abu Sufyan berkata kepada kaumnya : tahun ini adalah tahun yang gersang,menurutku sebaiknya kita kembali ke Makkah. Kaum musyrik pun kembali ke Makkah melanggar janji mereka.Sebenarnya mereka kaum musyrik merasa berat keluar dari Makkah dan takut menghadapi kaum muslim,hal ini bisa diketahui dari tidak adanya seorang pun yang menolak atau membantah usulan dari Abu Sufyan untuk kembali ke Makkah.

Kaum muslim menunggu kaum musyrik di Badar selama delapan hari kemudian kembali ke Madinah dengan penuh kepercayaan diri,mereka menang tanpa harus berperang.

F. Kelahiran Sayyidina Abdullah ibn az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma

Sayyidina Abdullah ibn az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma lahir pada tahun kedua Hijriah adalah bayi pertama yang lahir dari shahabat al-Muhajirin setelah hijrah ke Madinah.Orang – orang Islam sangat gembira dengan kelahiran Abdullah ibn az-Zubair,karena orang – orang Yahudi mengatakan bahwa mereka telah menyihir orang – orang Islam supaya tidak bisa memiki anak. Abdullah ibn az-Zubair wafat pada tahun 72 Hijriah.

G. Kelahiran Sayyidina al-Husain ibn Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhum                                       Sayyidina al-Husain bin Ali ibn Abi Tholib radhiyallahu anhuma dilahirkan di Madinah al-Munawarah pada lima Sya’ban tahun ke-4 Hijriah.Beliau gugur di Karbala pada hari jum’at tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah.

H. Perang Bani al-Musthaliq

Perang melawan Bani Musthaliq yang juga dikenal dengan perang Muraisi’ terjadi pada bulan Sya’ban tahun ke-5 Hijriah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerang mereka setelah mendengar pemimpin mereka Al Harits bin Abu Dhirrar mengumpulkan pasukan untuk menyerang kaum muslimin. Kaum muslimin berhasil mengalahkan mereka dan menawan diantaranya serta merampas harta mereka.

I. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan sayyidah Juwairiyah bintu al-Harist radhiyallahu ‘anha

Diantara tawanan Bani al-Musthaliq adalah Burrah anak perempuan Al Harits ibn Abu Dhirrar. Burrah saat itu menjadi tawanan dan jatuh ke tangan Tsabit ibn Qais.Tsabit dan Burrah telah sepakat melakukan akad kitabah dengan tebusan sembilan keping emas.Lalu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam membebaskan dengan membayar tebusan Burrah kemudian menikahinya dan mengganti nama Burrah dengan Juwairiyah.

J. Peristiwa  al-Ifki (Dusta )

Setelah perang bani al-Mustholiq terjadi peristiwa dusta yaitu fitnah yang disebarkan oleh Abdullah bin Ubay yang mengatakan sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’aththal. Namun Allah ta’ala akhirnya menurunkan ayat  11 – 13 surat an-Nur yang menjelaskan bahwa sayyidah Aisyah bersih dari semua tuduhan keji ini.
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata. Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang- orang yang dusta. “.

Orang yang terlibat dalam penyebaran berita ini dihukum cambuk 80 kali, mereka adalah Misthah bin Utsatsah, Hamnah binti Jahsyi, dan Hasan bin Tsabit.Hadist ifki ini terjadi pada bulan sya’ban tahun keenam Hijriyah.

K. Pengiriman Pasukan Abdurrahman bin Auf ke Daumatul Jandal

Pada bulan Sya’ban tahun keenam Hijriah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mengutus pasukan yang dipimpin oleh Abdurrahman bin Auf.Sebelum Abdurrahman bin Auf dan rombongannya berangkat,Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menyuruh Abdurrahman bin Auf duduk dihadapan beliau kemudian beliau memakaikan ‘imamah di kepala Abdurrahman.Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berkata : jika mereka tunduk dan ta’at kepadamu nikahilah anak perempuan pemimpin mereka.Abdurrahman bin Auf tinggal selama tiga hari di daumatul jandal mengajak orang – orang untuk masuk Islam.Dakwah Abdurrahman bin Auf diterima dengan baik oleh mereka kemudian Abdurrahman bin Auf menikahi anak perempuan pemimpin mereka sesuai dengan pesan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

L. Pengiriman pasukan Ali bin Abi Thalib ke Bani Sa’ad bin Bakr di Fadak

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mendengar berita bahwa adanya kelompok dari Bani Sa’ad akan membantu Yahudi,kemudian pada bulan Sya’ban tahun keenam Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mengutus pasukan berjumlah dua ratus orang yang dipimpin oleh Ali bin Abi Tholib ke Bani Sa’ad.Ditengah perjalanan menuju Bani Sa’ad pasukan sayyidinaa Ali berhasil menangkap mata – mata yang dikirim Bani Sa’ad.Mata – mata Bani Sa’ad menunjukan tempat dimana Bani Sa’ad berkumpul.Kemudian sayyidina Ali dan pasukannya menyerang mereka dan berhasil mengalahkan mereka serta merampas dari Bani Sa’ad lima ratus ekor unta dan dua ribu ekor kambing.

M. Pengiriman Pasukan Umar bin Khathab ke Thurobah

Pada bulan Sya’ban tahun ketujuh Hijriah sayyidinaa Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu diutus bersama tiga puluh orang ke Thurobah.

N. Pengiriman pasukan Basyir bin Sa’ad al-Ansyori ke Fadak tahun ke-7 Hijriah

O. Pengiriman pasukan Abu Bakar as-Sidiq ke Najed tahun ke-7 Hijriah

P. Pengiriman pasukan Abi Qotadah ke Hadhirah tahun ke-8 Hijriah

Q. Sayyidah Ummu Kultsum putri Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam wafat                                  Pada tahun ke-9 Hijriah Sayyidah Ummu Kultsum putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri dari Sayyidina Utsman ibn Affan wafat di Madinah

R. Kelahiran Sayyidinaa Ali Zainal Abidin ibn Husain ibn Ali radiyallahu ‘anhum

Beliau dilahirkan pada hari kamis lima Sya’ban tahun 38 Hijriah.Sayyidinaa Ali ibn Husain dikenal dengan gelar Zainal Abidin karena banyak beribadah,dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau dalam satu hari satu malam shalat sebanyak seribu raka’at karena itu pula beliau digelari dengan as-Sajjad.

S. Sayyidatuna Hafshah bintu Umar ibn Khathab radiyallahu ‘anhuma wafat

Beliau dilahirkan pada 5 tahun sebelum masa kenabian dan meningal pada bulan Sya’ban tahun 45 Hijriah.

 

Malam Nisfu Syaaban?

Malam Nisfu Sya’aban adalah malam dimana buku atau file tentang umur, rezeki kita selama setahun diangkat ke langit dan diganti dengan buku yang baru. (pada waktu Maghrib malam itu dibuka buku baru, tutup buku lama yaitu buku tahun lepas)

Dari `Aisyah r.a., dari Nabi Muhammad s.a.w., sabdanya: “Tahukah engkau (wahai `Aisyah) apa yang berlaku pada malam ini?” – Malam Nisfu Sya’aban.Saiyidatina `Aisyah pula bertanya; “Apa yang berlaku pada malam ini, Ya Rasulullah? ” Baginda menjawab: “Pada malam ini akan ditulis perihal tiap-tiap seorang anak Adam yang dilahirkan dalam tahun ini dan pada malam ini juga akan ditulis nama tiap-tiap seorang anak Adam yang akan mati pada tahun ini, demikian juga pada malam ini akan diangkat amal-amal mereka (ke hadrat Ilahi) dan pada malam ini juga akan ditentukan turunnya rezeki mereka.”

Biasanya Allah memberi perhatian kepada langit yang dekat dengan kita pada akhir malam (untuk mendengar permintaan dan keampunan hambanya) Pada Malam Nisfu Syaaban, Allah memberi perhatian terus bila ghuru’(matahari terbenam) dan tidak menunggu akhir malam.

Hadis yang diriwayatkan daripada Ali ra: Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, maka bangunlah kamu (menghidupkannya dengan ibadah) pada waktu malam dan berpuasalah kamu pada siangnya, kerana sesungguhnya Allah swt akan turun ke langit dunia pada hari ini bermula dari terbenamnya matahari….

“Allah turun ke langit dunia“, bukanlah bermaksud Allah bergerak atau berpindah sebaliknya ia bermaksud “Allah memberi perhatian kepada langit dunia yang dekat dengan kita (untuk mendengar permintaan dan keampunan hambanya)“

Bulan Sya’ban merupakan bulan kedua selepas Rajab yang penuh dengan keberkahan.

Sebahagian ahli hikmah menyatakan bahawa sesungguhnya bulan Rajab adalah kesempatan untuk meminta ampun dari segala dosa, pada bulan Sya’ban adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dari segala macam cela dan pada bulan Ramadhan adalah masa untuk menerangkan hati dan jiwa

amalan di bulan ini antara lain

doa nisfu sya'ban2

sumber :

http://masjidjami.com/tausyiah/54-kejadian-kejadian-besar-di-bulan-syaban.html

https://maulakhela.wordpress.com/2012/06/27/peristiwa-penting-di-bulan-syaban/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s