IMSAK, dan Permulaan puasa Kapan Sesungguhnya waktu yang tepat ??

A. IMSAK

Baru-baru ini ramai lagi diperdebatkan, darimana munculnya imsak yang berjarak 10 menit dari adzan shubuh. Sebagian diantaranya langsung menerangkan sebagai bid’ah.  Alangkah baiknya disimak penjelasan berikut ini:

Hakikatnya, jadwal waktu imsak dibuat untuk digunakan sebagai pedoman menentukan awal dan akhir berpuasa setiap harinya. Lafadz imsak sendiri merupakan bentuk isim zaman dari lafadz masaka yang berarti menahan. Sehingga dapat kita ketahui bahwa waktu imsak merupakan waktu dimana kita memulai untuk berpuasa, menahan makan, minum dan hal-hal lain yang diharamkan ketika berpuasa.

Imsak merupakan ikhtiyat. Ikhtiyat dalam beribadah kaitannya dengan waktu bermakna kehati-hatian yang mengandung maksud bahwa dalam beribadah hendaknya kita selalu berhati-hati dan menjaga aspek waktu dalam pelaksanan ibadah itu sendiri. Hal ini diimplementasikan pula dalam ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Adanya waktu imsak, dimaksudkan agar umat Muslim yang hendak melakukan puasa, setidaknya memiliki jeda waktu untuk bersiap-siap setelah waktu sahur dengan waktu adzan shubuh dalam rangka kehati-hatian agar tidak terjadi kelalaian dalam waktu sahur.

Lama atau selang jeda waktu antara sahur dan adzan shubuh, atau yang disebut waktu imsak dalam jadwal imsakiyah yang banyak beredar saat ini sebenarnya bukanlah waktu imsak yang sesungguhnya. Melainkan merupakan hasil pandangan dari Ibnu al ‘Arabi[1], yang berdasar pada prinsip ikhtiyat. Beliau berpendapat bahwa waktu imsak ialah sebelum terbit fajar. Oleh karena pandangan beliau yang berdasar pada ikhtiyat tersebut, banyak kita jumpai dalam jadwal imsakiyah, jeda waktu antara sahur dan adzan shubuh berselang selama 10 menit. Waktu 10 menit ini diharapkan menjadi peringatan bahwa waktu imsak yang sebenarnya sebentar lagi akan tiba, yaitu sekitar 7 atau 8 menit lagi, sehingga ketika waktu imsak benar-benar tiba, segala aktifitas yang dapat membatalkan puasa telah diakhiri.

Imsak secara bahasa adalah menahan. Secara istilah, imsak bermakna menahan diri dari apa yang membatalkan puasa. Hal ini berbeda dengan shaum atau puasa. Shaum atau puasa adalah menahan diri dari apa yang membatalkan puasa sejak terbit fajar (shadiq) sampai terbenamnya matahari.
Waktu imsak yang dikenal masyarakat saat ini dan yang kita bahas kali ini adalah masa untuk menahan diri dari apa yang membatalkan puasa sejak sekitar 10-15 menit sebelum fajar shadiq. Imsak ini mustahab, karena ia merupakan apa yang biasa dilakukan Nabi. Artinya, jika dikerjakan mendapatkan pahala dan meninggalkannya tidak berdosa. Orang dapat tetap makan dan minum di waktu imsak hingga terbit fajar shadiq. Namun itu bukanlah sunnah Nabi. Namun, jika ia telat bangun, maka ia dapat bersahur pada waktu imsak dan berhenti ketika terbit fajar shadiq.
Namun sebagian orang salah memahami hal ini. Mereka yang salah paham terbagi kepada dua golongan:

1. Mereka yang menganggap bahwa imsak adalah awal waktu puasa.
2. Mereka yang menganggap bahwa imsak bukanlah sunnah Nabi dan merupakan bid’ah munkarah.

Dua golongan ini muncul karena kesalah pahaman.
Bagi golongan pertama, maka ketahuilah bahwa imsak bukanlah awal waktu berpuasa. Awal waktu berpuasa adalah pada saat terbit fajar shadiq. Sebelum terbit fajar shadiq, maka dibolehkan untuk makan, minum dan sebagainya, tetapi makruh. Makruh adalah sesuatu yang jika dikerjakan tidak mendapat dosa, jika ditinggalkan mendapat pahala.
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَالْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ بِلَالًا كَانَ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaid bin Isma’il dari Abu Usamah dari ‘Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibu ‘Umar dan Al Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Bilal biasa melakukan adzan (pertama) di malam hari, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummu Maktum melakukan adzan, karena dia tidak melakukan adzan kecuali sudah terbit fajar. [Shahih Bukhari no.1785]
Bilal beradzan pada malam hari untuk membangunkan orang-orang yang ingin qiyamul lail. Rasul biasa bersahur setelah Bilal adzan dan berhenti kira-kira sepuluh menit sebelum ibnu Ummi Maktum adzan. Lalu beliau shalat sunnah dua raka’at sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik, yang insya Allah akan dijelaskan kemudian. Tetapi selama fajar shadiq (tanda waktu shubuh) belum terbit, maka masih dibolehkan untuk makan dan minum seperti dijelaskan dalam hadits dari ‘Aisyah di atas.
Adapun golongan kedua itu mengingkari imsak 10 menit sebelum fajar adalah berdasarkan hadits-hadits dha’if dan karena salah dalam memahami perkataan ulama. Berikut ini di antara hadits yang mereka kemukakan.
أتيت النبي صلى الله عليه وسلم أوذنه لصلاة الفجر , و هو يريد الصيام , فدعا بإناء فشرب , ثم ناولني فشربت , ثم خرجنا إلى الصلاة
“Aku pernah mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk adzan shalat shubuh, padahal beliau akan berpuasa. Kemudian beliau meminta segelas air untuk minum. Setelah itu beliau mengajakku untuk minum dan kami keluar untuk shalat” [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir no. 3018 dan 3019, Ahmad 6/12 no. 23935, dan perawi-perawinya tsiqaat, para perawi Al-Bukhari dan Muslim. Namun sanad hadits ini adalah dla’if, karena tidak diketahui penyimakan ‘Abdullah bin Ma’qil Al-Muzanniy dari Bilaal. Ada riwayat lain yang semakna dari Ja’far bin Barqan dari Syaddaad maula ‘Iyadl bin ‘Amir dari Bilal, namun ia juga lemah karena jahalah Syaddaad – sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad 6/13 no. 23947]
كان علقمة بن علاثة عند رسول الله صلى الله عليه وسلم , فجاء بلال يؤذنه بالصلاة , فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : رويدا يا بلال ! يتسحر علقمة, وهو يتسحر برأس
Alqamah bin Alatsah pernah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kemudian datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tunggu sebentar wahai Bilal ! Alqamah sedang makan sahur. – Dan ia (‘Alqamah) baru mulai makan sahur ” [Diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi no. 2010 dan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir sebagaimana dalam Al-Majma’ 3/153 dan ia berkata : “Qais bin Ar-Rabi’ dianggap tsiqah oleh Syu’bah dan Sufyan Ats-Tsauri padahal padanya – yaitu Qais – ada pembicaraan]. Asy-Syaikh Al-Albani berkata : “Haditsnya (Qais) hasan jika ada syawahid-nya, karena ia (Qais) sendiri shaduq (jujur). Hanya yang dikhawatirkan adalah jeleknya hafalannya. Maka apabila ia meriwayatkan hadits yang sesuai dengan perawi-perawi tsiqat lainnya, haditsnya dapat dipakai”. Dr. Muhammad bin ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy (pen-tahqiq Musnad Abi Dawud Ath-Thayalisiy) berkata : “Sanadnya dla’if, karena ke-dla’if-an Qais bin Ar-Rabii’”.]
Bilal biasa adzan pada malam hari untuk membangunkan orang yang ingin qiyamul lail.. Sedangkan ibnu Ummi Maktum adzan pada saat terbit fajar. Ditambah lagi, menurut mereka sendiri, hadits ini dha’if.
Diriwayatkan dari Syuhaib bin Gharqadah Al-Bariqi dari Hiban bin Harits ia berkata :
تسحرنا مع علي بن أبي طالب رضي الله عنه , فلما فرغنا من السحور أمر المؤذن فأقام الصلاة
“Kami pernah makan sahur bersama ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu. Maka ketika kami telah selesai makan sahur, ia (‘Ali) menyuruh muadzin untuk iqamat” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’anil-Atsar 1/106 dan Al-Muhlis dalam Al-Fawaid Al-Munthaqah 8/11/1]. Perawi-perawinya tsiqat kecuali Hibban. Ibnu Abi Hatim 1/2/269 membawakan riwayat ini dan ia tidak menyebutkan jarh ataupun ta’dil-nya. Sedangkan Ibnu Hibban menulisnya dalam Ats-Tsiqaat.
Tampaknya mereka salah paham dengan hadits ini. Padahal maksud hadits ini adalah: “Kami pernah makan sahur bersama ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu. Maka ketika kami telah selesai makan sahur, ia (‘Ali) menyuruh muadzin (untuk adzan). Kemudian didirikanlah shalat.” Dalam riwayat ini tidak diceritakan secara detail, hanya garis besarnya. Sebenarnya, setelah mereka sahur, Ali memerintahkan muadzin untuk adzan. Lalu mereka sholat sunnah, lalu iqamat, lalu mereka mendirikan shalat shubuh. Sungguh tak dapat diterima jika Ali bersahur setelah terbit fajar.
مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ مَا أُحْدِثَ فِي هَذَا الزَّمَانِ مِنْ إِيقَاعِ الْأَذَانِ الثَّانِي قَبْلَ الْفَجْرِ بِنَحْوِ ثُلُثِ سَاعَةٍ فِي رَمَضَانَ وَإِطْفَاءِ الْمَصَابِيحِ الَّتِي جُعِلَتْ عَلَامَةً لِتَحْرِيمِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ عَلَى مَنْ يُرِيدُ الصِّيَامَ زَعْمًا مِمَّنْ أَحْدَثَهُ أَنَّهُ لِلِاحْتِيَاطِ فِي الْعِبَادَةِ وَلَا يَعْلَمُ بِذَلِكَ إِلَّا آحَادُ النَّاسِ وَقَدْ جَرَّهُمْ ذَلِكَ إِلَى أَنْ صَارُوا لَا يُؤَذِّنُونَ إِلَّا بَعْدَ الْغُرُوبِ بِدَرَجَةٍ لِتَمْكِينِ الْوَقْتِ زَعَمُوا فَأَخَّرُوا الْفِطْرَ وَعَجَّلُوا السُّحُورَ وَخَالَفُوا السُّنَّةَ فَلِذَلِكَ قَلَّ عَنْهُمُ الْخَيْر وَكثير فِيهِمُ الشَّرُّ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ
“Termasuk bid’ah yang munkar adalah apa yang terjadi di jaman ini (jamannya Ibnu Hajar) yaitu adanya pengumandangan adzan kedua tiga perempat jam sebelum waktu fajar bulan Ramadlan. Serta memadam lampu-lampu sebagai pertanda telah datangnya waktu haram untuk makan dan minum bagi yang berpuasa keesokan harinya. Orang yang berbuat seperti ini beranggapan bahwa hal itu dimaksudkan untuk berhati-hati dalam beribadah, sebab yang mengetahui persis batas akhir sahur hanya segelintir manusia. Sikap hati-hati yang demikian, juga menyebabkan mereka tidak diijinkan untuk berbuka puasa kecuali setelah matahari terbenam beberapa saat agar lebih mantap lagi (menurut anggapan mereka). Akibatnya mereka suka mengakhirkan waktu berbuka puasa, suka mempercepat waktu sahur, dan suka menyalahi Sunnah. Oleh sebab itulah mereka sedikit mendapatkan kebaikan, tetapi banyak mendapatkan keburukan. Wallahul Musta’an.” [Fathul-Baariy, 4/199]
Maka mereka salah paham ketika berfikir bahwa al-Hafizh telah mengingkari imsak seperti yang kita lakukan. Ketahuilah bahwa yang beliau ingkari adalah adzan ketika 3/4 jam sebelum fajar. Adakah kita beradzan ketika itu? Adakah kita adzan ketika imsak (10 menit sebelum fajar)? Jangankan adzan ketika imsak, adzan untuk membangunkan qiyamul lail pun tidak.
Kemudian yang juga beliau ingkari adalah pengharaman makan dan minum di waktu imsak. Sedangkan kita tidak mengharamkan makan dan minum di waktu imsak.
Maka jelaslah bahwa al-Hafizh tidak menganggap bahwa imsak yang kita lakukan ini adalah bid’ah munkaroh. Karena dalam Fathul Bari juz’ 2 halaman 54 beliau menjelaskan tentang dua hadits berikut:
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ حَدَّثَهُ أَنَّهُمْ تَسَحَّرُوا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ بَيْنَهُمَا قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ أَوْ سِتِّينَ يَعْنِي آيَةً
Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Ashim berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwa Zaid bin Tsabit telah menceritakan kepadanya, bahwa mereka pernah sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka berdiri untuk melaksanakan shalat. Aku bertanya, “Berapa jarak antara sahur dengan shalat subuh?” Dia menjawab, “Antara lima puluh hingga enam puluh.” Yakni (lima puluh hingga enam puluh) ayat. [Shahih Bukhari Kitab Waktu-Waktu Shalat Bab Waktu Fajar no.541]
حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ صَبَّاحٍ سَمِعَ رَوْحَ بْنَ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ تَسَحَّرَا فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا قَامَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ فَصَلَّى قُلْنَا لِأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً
Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Shabbah telah mendengar Rauh bin ‘Ubadah telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Anas bin Malik, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Zaid bin Tsabit makan sahur bersama. Setelah keduanya selesai makan sahur, beliau lalu bangkit melaksanakan shalat. Kami bertanya kepada Anas, “Berapa rentang waktu antara selesainya makan sahur hingga keduanya melaksanakan shalat?” Anas bin Malik menjawab, “Kira-kira waktu seseorang membaca lima puluh ayat.” [Shahih Bukhari Kitab Waktu-Waktu Shalat Bab Waktu Fajar no.542]
Dijelaskan oleh al-Hafizh ibnu Hajar dalam Fathul Bari:
وَالَّذِي يَظْهَرُ لِي فِي الْجَمْعِ بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ أَنَّ أَنَسًا حَضَرَ ذَلِكَ لَكِنَّهُ لَمْ يَتَسَحَّرْ مَعَهُمَا وَلِأَجْلِ هَذَا سَأَلَ زَيْدًا عَنْ مِقْدَارِ وَقْتِ السُّحُورِ كَمَا سَيَأْتِي بَعْدُ ثُمَّ وَجَدْتُ ذَلِك صَرِيحًا فِي رِوَايَة النَّسَائِيّ وبن حِبَّانَ وَلَفْظُهُمَا عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَنَسُ إِنِّي أُرِيدُ الصِّيَامَ أَطْعِمْنِي شَيْئًا فَجِئْتُهُ بِتَمْر وإناء فِيهِ مَاء وَذَلِكَ بعد مَا أَذَّنَ بِلَالٌ قَالَ يَا أَنَسُ انْظُرْ رَجُلًا يَأْكُلُ مَعِي فَدَعَوْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَجَاءَ فَتَسَحَّرَ مَعَهُ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
فَعَلَى هَذَا فَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسُّحُورِ أَيْ أَذَانِ بن أُمِّ مَكْتُومٍ
Dan yang membuat jelas bagiku untuk mengumpulkan dua riwayat ini bahwa Anas hadhir pada peristiwa itu, akan tetapi tidak ikut sahur bersama mereka. Maka dari itu, ia menanyai Zaid mengenai kadar waktu sahur sebagaimana yang akan disebutkan. Aku temukan juga yang demikian secara sharih dalam riwayat an-Nasai (no.2167) dan ibnu Hibban dan lafazh mereka: Dari Anas, dia berkata: berkata kepadaku Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa sallam, “Wahai Anas, aku hendak berpuasa. Maka hidangkan aku sesuatu.” Maka aku datangi beliau dengan kurma dan wadah yang berisi air. Dan itu setelah adzannya Bilal. Beliau berkata, “Wahai Anas, carilah seseorang untuk makan bersamaku.” Maka aku memanggil Zaid bin Tsabit. Maka dia datang dan sahur bersama beliau. Kemudian mendirikan shalat (sunnah) dua raka’at. Kemudian keluar untuk sholat (shubuh).

Maka atas dasar hal ini, yang dimaksud dengan perkataan “berapa lama antara adzan dan sahur” adalah adzannya ibnu Ummi Maktum. [Fathul Bari juz’ 2:54]

Demikianlah salah satu bukti jika seseorang menuntut ilmu kepada guru yang tak bersanad. Mereka bisa saja salah paham, sehingga mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.
Dalam kasus ini, mereka mengingkari imsak yang merupakan kebiasaan Rasul shollallohu ‘alayhi wa sallam. Ini baru salah satu saja. Entah telah berapa banyak sunnah Rasul yang mereka ingkari dan telah berapa banyak bid’ah yang mereka munculkan. Na’udzu billahi min dzalik.


Rujukan.
Kitab Fathul Waduud

 

B. Waktu Terakhir untuk Makan Sahur

Waktu terakhir untuk makan sahur telah ditentukan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yaitu dengan terbit dan jelasnya fajar shadiq, sebagaimana firman Allah I :

)          وَكلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكمُ الخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الفـَجْرِ(

Silakan kalian makan dan minum sampai nampak dengan jelas cahaya fajar.” Q.S. Al-Baqarah : 187

Sebagaimana pula dalam hadits ‘Aisyah radhiyAllahu ‘anha, berkata :

إنَّ بلاَلاَ كَانَ يُؤَذنُ بِلَيْلٍ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ rكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذنَ اِبْنُ أمِّ مَكتُومٍ فَإنَّهُ لا يُؤَذنُ حَتَّى يَطلُعَ الفَجْرُ )رواه البخاري(

Sesungguhnya Bilal beradzan pada waktu malam hari, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : ‘Silakan kalian makan dan minum sampai Ibnu Ummi Maktum beradzan, sesungghnya dia tidak beradzan kecuali setelah terbit fajar.” ( Al-Bukhari Kitabush Shaum bab 17 hadits no. 1918,1919, Muslim Kitabush shiyaam hadits no. 36-[1092], 37-[1093].)

Sebagian ‘ulama membolehkan makan dan minum walaupun sudah terdengar adzan apabila makanan masih ada di tangannya, berdalil dengan hadits Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata :

إِذَا سَمِعَ أحَدُكمُ النِّدَاءَ وَالإنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقضِيَ حَاجَتهُ مِِنْهُ )رواه أبو داود والحاكم(

Jika salah seorang dari kalian mendengar adzan sementara bejana masih ada di tangannya maka janganlah menaruhnya sampai dia menyelesaikan hajatnya dari bejana itu.” (H.R. Abu Daud dan Al-Hakim) (Hadits ini dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilatul Ahaditsish Shahihah no. 1394. Namun Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi v menyatakan hadits ini ada kelemahannya dalam kitabnya Tatabbu’ Auhamil Hakim hadits no. 732, 743, dan 1552.)

Sebagian pihak menisbatkan pendapat tersebut kepada jumhur shahabat, namun mayoritas riwayatnya tidaklah shahih atau tidak sah. Kalaupun ada yang sah, namun tidak secara terang atau jelas bahwa mereka berpendapat dengan pendapat tersebut. Sementara Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hampir-hampir para fuqoha’ berijma’ (sepakat) dengan pendapat yang berbeda dengan pendapat yang dinisbatkan kepada jumhur shahabat di atas.

Seandainya hadits di atas shahih, maka ada beberapa kemungkinan makna yang dimaksud dengan hadits ini :

  1. Bahwa hadits ini memberikan rukhshoh bagi orang yang kondisinya seperti tersebut bukan untuk semua orang, sehingga tidak boleh diqiyaskan dengan kondisi tersebut diatas .
  2. Bahwa adzan yang dimaksud diatas adalah adzan yang terjadi sebelum fajar, hal ini semakna dengan penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 25 hal.216.
  3. Menyelisihi Ahlul Kitab dengan Sahur

Di antara perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada umat ini adalah agar mereka membedakan diri dengan Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik, baik dalam perkara ibadah ataupun akhlak.

Allah subhananu wa ta’ala mewajibkan kepada kaum muslimin ash-shaum sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelumnya, sebagaimana dalam ayat :

يأيُّهَا الذِيْنَ آمَنُوا كتِبَ عَلَيْكمُ الصِّيَامَ كمَا كتِبَ عَلى الذِيْنَ مِنْ قَبْلِكمْ لعَلكمْ تَتَّقونَ( )سورة البقرة :183(

Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian shaum sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

Namun ada beberapa perkara dalam ash-shaum yang kita diperintahkan untuk membedakan diri dengan Ahlul Kitab, antara lain :

  1. As-Sahur, Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menyebutkan dalam sebuah hadits dari shahabat ‘Amr bin ‘Ash, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata :

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَ صِيَامِ أَهْلِ اْلكِتابِ أَكْلَة السَّحَرِ )رواه مسلم

Pembeda antara shaumnya kita dengan shaumnya ahlul kitab adanya makan sahur.” (Muslim Kitabush Shiyaam bab 9 hadits no. 46-[1096])

  1. Bolehnya makan dan minum serta jima’ walaupun tertidur sebelum melakukan ifthor (berbuka). Sementara dalam shaumnya Ahlul Kitab bahwa barang siapa yang tertidur sebelum sempat berifthor maka dilarang baginya makan dan minum pada malam itu sampai keesokan harinya, sebagaimana telah disebutkan pada pembehasan sebelumnya.
  2. Menyegerakan ber-ifthor (berbuka) sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, bahwasannya Rasulloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata :

لاَ يَزَالُ الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الفِطْرَ لأََِنَّ اليَهُودَ وَ النَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ )رواه أبو داود و ابن حبان و ابن خزيمة وابن ماجه و الحاكم(

Akan terus Islam ini jaya selama kaum muslimin masih menyegerakan berbuka (if-thor), karena sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashoro selalu menundanya.” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abi Daud no. 2353 dan Shohih Targhib no. 1075, dan Syaikh Muqbil tidak memberikan komentar terhadap hadits ini (lihat Tatabbu’ Awhamil Hakim hadits no. 1574).)

Perlu kita ketahui bahwa makan sahur adalah sesuatu yang disunnahkan dan terdapat padanya barakah yang banyak sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata :

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً )متفق عليه(

Bersahurlah kalian karena sesungguhnya pada makan sahur ada barokah.” (Al-Bukhari Kitabush Shaum bab 20 hadits no. 1923 dan Muslim Kitabush Shiyaam bab 9 hadits no. 45-[1095], An Nasai hadis no : 2146 -2150, Ibnu Majah no : 1692)

Diantara barokah yang dikandung pada makan sahur adalah :

  1. Ittiba’ As-Sunnah (mengikuti jejak sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam),
  2. Membedakan diri dengan Ahlul Kitab,
  3. Memperkuat diri dalam ibadah,
  4. Mencegah timbulnya akhlak yang jelek seperti marah dan lainnya dikarenakan rasa lapar,
  5. Membantu seseorang untuk bangun malam dalam rangka berdzikir, berdo’a serta shalat di waktu yang mustajab,
  6. Membantu seseorang untuk niat shaum bagi yang lupa berniat sebelum tidur.

Disimpulkan oleh Ibnu Daqiq Al-‘Id bahwa barokah-barokah tersebut ada yang bersifat kebaikan duniawi dan ada yang bersifat kebaikan ukhrawi (Lihat Fathul Baari Kitabush Shaum bab 20 hadits no. 1923.).

——————–

[1] Sahur (السحور) dalam bahasa Arab memiliki dua bacaan dengan huruf as-siin yang difathah (السَحور)bermakna makanan yang digunakan untuk makan sahur, dan dengan didhommah (السُحور) bermakna perbuatan makan sahur itu sendiri (lihat Syarh Shohih Muslim Kitab Ash-shiyam Bab. 9 (hadits no. 45-[1095]).

Dikutip dari http://salafy.or.id Penulis: Redaksi Ma’had As Salafy (http://www.assalafy.org), Judul: Sahur dan yang berkaitan dengannya

serta tulisan

Laksmiyanti Annake Harijadi Noor (praktisi dan mahasiswa Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang)
[1] Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Muhammad al ‘Arabi al Isybili al Maliki (468-543 H), seorang imam besar ahli hadits dan tafsir.

[2] Waktu imsak yang sesungguhnya adalah 2 atau 3 menit sebelum waktu adzan shubuh, berdasar pada hadits Nabi yang diriwayatkan Samrah Ibnu Jundab yang menyatakan bahwa patokan awal waktu imsak adalah fajar mustatir, yaitu fajar putih yang membentang atau yang biasa disebut sebagai fajar sadiq.

http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com/2014/07/kekeliruan-dalam-memahami-imsak.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s