RAMADLAN 1438 H

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sendiri sebelumnya mengatakan tak akan ada lagi perbedaan pendapat dalam penentuan awal Ramadhan maupun Lebaran atau Idul Fitri mulai tahun ini.

Sebab, kata dia, dua organisasi massa terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah satu suara dalam penetapan tanggal awal pelaksanaan puasa Ramadhan.

Lanjut Lukman, NU dan Muhammadiyah telah bersepakat menyamakan metode dan kriteria untuk menetapkan kalender hijriah nasional. Pada pokoknya, semua berkomitmen agar tak ada lagi perbedaan pendapat dalam penentuan Ramadan dan Lebaran.

“Semua sudah memiliki kesamaan niat agar ini bisa pada kriteria yang sama pada cara pandang pemahaman yang sama,” kata Menteri.

Selama ini Muhammadiyah memang kerap berbeda menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Sedangkan Pemerintah kerap satu pandangan dengan NU.

“Kita kemarin diskusi dengan muzakarah dengan Muhammadiyah, alhamdulillah semua pimpinan Muhammadiyah hadir, ada kesamaan tujuan cara pandang,” ujar Menteri.

Berbeda dengan tahun 2014 atau 1435 Hijriah, terjadi perbedaan untuk awal puasa. Jika Muhammadiyah menetapkab 28 Juni 2014, NU baru besoknya 29 Juni melaksanakan awal puasa.

Pemerintah pun mengakui perhitungan hisaban penentuan awal Ramadhan yang dilakukan oleh NU. Namun saat itu, pemerintah tak mempermasalahkan soal perbedaan dengan Muhammadiyah.

Pimpinan Muhammadiyah, Din Syamsudin pun menyambut baik sikap pemerintah. Din menghargai kebijakan pemerintah yang tidak memaksa umat Islam mematuhi keputusan awal puasa.

“Kami memberikan penghargaan pada Menteri Agama yang mengedepankan pendekatan ukhuwah Islamiyah dalam membahas perbedaan,” kata Din.

Menurut Din, awal Ramadhan adalah persoalan keyakinan beribadah. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk menghormati perbedaan.

“Itu amanat konstitusi yang memberikan kemerdekaan kepada warganya untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing,” ujar Din.

Sekadar informasi, perbedaan penentuan awal Ramadhan atau pun Lebaran terjadi karena ketidaksamaan metode dan kriteria. NU menggunakan dua metode, yakni hisab (perhitungan matematis dan astronomis) dan rukyat (pengamatan pada bulan sabit atau hilal). Sedangkan Muhammadiyah menerapkan pada metode hisab saja.

Bagi NU, usia bulan telah dipastikan berdasarkan metode hisab. Tetapi, sesuai perintah Hadist, perhitungan berdasarkan hisab harus dibuktikan secara empirik, yakni melihat langsung penampakan Bulan. Soalnya Bulan bisa saja tak tampak karena terhalang, misalnya, awan.

Muhammadiyah meyakini bahwa sesuai Hadist pula, awal Ramadhan atau pun Lebaran cukup ditentukan berdasarkan Hisab, tak perlu rukyat. Karena itu, Muhammadiyah selalu lebih awal memastikan memulai dan mengakhiri berpuasa.

Selain perbedaan penggunaan metode itu, ada pula perbedaan kriteria dalam imkanur rukyat atau mempertimbangkan kemungkinan terlihatnya hilal. Imkanur rukyat dimaksudkan untuk menjembatani metode rukyat dan metode hisab.

Ada yang menetapkan tingkat ketinggian hilal untuk dapat diamati pada ketinggian kurang 0 derajat, lebih dari 2 derajat, dan 0 sampai 2 derajat.  Ada juga yang berpendapat bahwa pada ketinggian kurang dari 2 derajat, hilal tidak mungkin dapat dilihat sehingga dipastikan ada perbedaan penetapan awal bulan pada kondisi ini.

lebihlanjut bisa kembali dipelajari postingan sebelumnya tentang rukyat / ilmu falak

+#*+#*SMK8P00KK8Gt

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s