PANDUAN PEMBUATAN PREDIKAT DAN DESKRIPSI NILAI PADA RAPOR KURIKULUM 2013

PANDUAN PEMBUATAN PREDIKAT DAN DESKRIPSI NILAI PADA RAPOR KURIKULUM 2013

(Sesuai PANDUAN PENILAIAN HASIL BELAJAR SMK 2017)

  1. Ketentuan Predikat

Predikat ditentukan oleh KKM Mapel. Rumus umumnya

Rentang = (100 – nilai KKM) / 3

contoh

Apabila KKM = 70

maka rentang = (100 – 70)/3 = 30 / 3 = 10

sehingga

Predikat A untuk nilai >= 91

Predikat B  untuk nilai >= 81

Predikat C untuk nilai >= 70

Khusus Tahun Pelajaran 2017/2018 sementara SMKN 1 Banyuputih mengikuti perumusan KKM yang ditetapkan pada KTSP 2017/2018 yaitu Mapel UN dan Semua Mapel Produktif kelompok C2 dan C3 KKM=75 sedangkan mapel lain KKM=70.

Sehingga Distribusi Predikat sebagai berikut:

KKM A B C D
75 >=92 84 – 91 75 – 83 <75
70 >=91 81 – 90 70 – 80 <70

 

  1. Deskripsi
Predikat Deskripsi Catatan
A Sangat Menonjol dalam “pada KD sesuai mapel” contoh :

Deskripsi Mapel PAI kelas X

“Sangat Menonjol menganalisis QS Al-Isra ayat 32 dan Q.S. An-Nur ayat 2 tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina”

Pilih KD dimana siswa menunjukkan nilai maksimal
B Menonjol dalam “pada KD sesuai mapel” contoh :

Deskripsi Mapel PAI Kelas X

“Menonjol menganalisis QS Al-Isra ayat 32 dan Q.S. An-Nur ayat 2 tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina”

C Cukup Menonjol dalam “pada KD sesuai mapel” contoh :

Deskripsi Mapel PAI Kelas X

“Cukup Menonjol menganalisis QS Al-Isra ayat 32 dan Q.S. An-Nur ayat 2 tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina”

D  Kurang Menonjol dalam “pada KD sesuai mapel” contoh :

Deskripsi Mapel PAI Kelas X

“Kurang Menonjol menganalisis QS Al-Isra ayat 32 dan Q.S. An-Nur ayat 2 tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina”

Pilih KD dimana siswa menunjukkan nilai Kurang

Selamat bekerja dengan profesional dan bertanggung jawab, Semoga bermanfaat!

Wakasek Kurikulum

Mr. Dans

Advertisements

PENELITIAN KUALITATIF

 A. PENGERTIAN METODE PENELITIAN KUALITATIF

Pengertian Kualitatif adalah metode penelitian yang menekankan pada aspek suatu pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi. Penelitian Kuanlitatif adalah penelitian riset yang bersifat deskripsi, dengan mengembangkan analisis dan lebih menonjolkan peroses bermakna.

Metode penelitian kualitatif lebih sering menggunakan teknik analisis yang mendalam ( in-depth analysis ), yaitu mengkaji suatu masalah secara mendalam , secara satu persatu, dari kasus perkasus. Dalam metodologi kulitatif diyakini bahwa sifat suatu masalah satu berbeda dengan sifat masalah lainnya. Tujuan dari metodologi kualitatif ini bukan suatu generalisasi tetapi pemahaman yang secara mendalam terhadap suatu masalah. Data yang dikumpulkan lebih banyak huruf, kata ataupun gambar dari pada angka.

B. CIRI-CIRI PENELITIAN KUALITATIF

Ciri pokok yang terdapat dalam metode penelitian yaitu :

  1. Menggunakan lingkungan alamiah untuk sumber data

Kajian utama dalam penelitian kualitatif adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kondisi dan situasi sosial. Maka sumber data yang dipakai dalam penelitian kualitatif berupa lingkungan alamiah sesuai dengan situasi sosial yang diharapkan.

Penelitian dilaksanakan ketika berinteraksi langsung dalam tempat kejadian. Peneliti melakukan pengamatan, mencatat, mencari tahu, menggali sumber yang berkaitan dengan peristiwa yang sedang terjadi pada saat itu. Hasil yang didapat segera disusun saat itu juga. Apa yang sudah diamati pada umumnya tidak lepas dari konteks lingkungan dimana kejadian itu berlangsung.

  1. Mempunyai sifat deskriptif analitik

Data yang didapat dari hasil pengamatan, wawancara, dokumentasi, analisis, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dalam bentuk angka-angka. Peneliti melakukan analisis data dengan memperbanyak informasi, mencari hubungan ke berbagai sumber, membandingkan, dan menemukan hasil atas dasar data sebenarnya (tidak dalam bentuk angka).

Hasil analisis data tersebut berupa pemaparan yang berkenaan dengan situasi yang sedang diteliti dan disajikan dalam bentuk uraian narasi. Pemaparan data tersebut biasanya adalah menjawab dari pertanyaan dalam rumusan masalah yang sudah ditetapkan.
  1. Tekanan pada proses bukan hasil

Data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian kualitatif bersangkut paut dengan pertanyaan untuk mengungkapkan proses dan bukan dari hasil dari suatu kegiatan. Pertanyaan menuntut gambaran keadaan yang sebenarnya tentang kegiatan, prosedur, tahap-tahap, alasan-alasan dan interaksi yang terjadi dimana serta pada saat dimana proses itu sedang berlangsung.

  1. Bersifat induktif

Penelitian kualitatif diawali mulai dari lapangan yaitu fakta empiris, Peneliti terjun langsung ke TKP/lapangan, mempelajari suatu proses penemuan yang sedang terjadi secara alami dengan mencatat, menganalisis, melaporkan dan menarik kesimpulan dari proses berlangsungnya penelitian tersebut.

Hasil penemuan penelitian dari lapangan dalam bentuk konsep, prinsip, teori dikembangkan lagi, bukan dari teori yang telah ada. Penelitian kualitatif menggunakan proses induktif maksudnya dari data yang terpisah-pisah namun saling berkaitan erat satu sama lain.

  1. Mengutamakan makna

Makna yang diungkapkan berkisar pada persepsi orang Dengan suatu peristiwa yang akan diteliti tersebut. Contoh: penelitian yang dilakukan tentang peran kepala sekolah di dalam pembinaan guru. Peneliti memfokuskan perhatiannya pada pendapat kepala sekolah tentang guru yang dibinanya.

mencari informasi serta pandangan kepala sekolah tentang keberhasilan dan kegagalannya membina guru, apa saja yang dialami di dalam membina guru, mengapa gurun bisa gagal dibina, dan kenapa hal itu bisa terjadi?.

Selain mencari informasi kepada kepala sekolah, peneliti juga harus mencari informasi dari guru sebagai bahan perbandingan supaya dapat diperoleh pandangan mengenai mutu pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Ketepatan informasi dari partisipan diungkap oleh peneliti supaya dapat menginterpretasikan hasil penelitian secara tepat dan benar.

Berdasarkan ciri-ciri diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif diawali dari lapangan yang berdasarkan pada lingkungan alami, bukan pada teori. Data serta informasi yang diperoleh dari lapangan ditarik makna dan konsepnya, melalui pemaparan secara deskriptif analitik, dan tanpa menggunakan angka, karena lebih mementingkan prosesnya.

Di dalam dunia pendidikan, penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan suatu proses kegiatan, pendidikan yang berdasakan pada apa yang terjadi di lapangan sebagai bahan kajian untuk menemukan kelebihan, kelemahan dan kekurangannya sehingga dapat ditentukan upaya dalam perbaikannya ;menganalisis suatu fakta, gejala serta peristiwa pendidikan yang terjadi di lapangan; menyusun hipotesis yang berkenaan dengan prinsip dan konsep pendidikan berdasarkan pada data dan informasi yang terjadi di lapangan.

 

C. METODE – METODE PENELITIAN KUALITATIF

metode penelitian kualitatif adalah sebagai berikut :

  1. Penelitian Fenomenologi

Penelitian fenomenologi yang bersifat induktif. pendekatan yang digunakan adalah deskriptif, dikembangkan dari filsafat fenomenologi. Fokus filsafat fenomenologi maksudnya pemahaman tentang respon atas kehadiran atau kebaradaan manusia, tidak sekedar pemahaman atas bagian-bagian yang spesifik atau perilaku khusus.

Tujuan penelitian fenomenologikal ini adalah menjelaskan pengalaman-pengalaman apa yang dialami oleh seseorang dalam kehidupannya, termasuk interaksinya dengan orang lain.

Contoh penelitian fenomenologi atau study mengenai daur hidup masyarakat tradisional diamati dari perspektif kebiasaan hidup sehat.

  1. Penelitian Teori Grounded

penelitian grounded yaitu tekhnik penelitian induktif. Tekhnik ini pertama kali dicetuskan oleh Strauss dan sayles pada tahun 1967.Pendekatan penelitian grounded ini bermaslahat dalam menemukan problem-problem yang muncul dalam situasi kebidanan serta aplikasi proses-proses pribadi untuk menanganinya.

Proses penelitian grounded ini melibatkan formulasi,pengujian,dan pengembangan ulang proposisi selama penyusunan teori.

  1. Penelitian Etnograf

Penelitian tipe ini berusaha untuk memaparkan kisah kehidupan keseharian orang-orang yang dalam kerangka menjelaskan fenomena budaya tersebut, mereka menjadi bagian integral lainnya.

Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan secara sistematis dan deskriptif. Analisis data dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan teori prilaku kultural.

Dalam penelitian etnografi, peneliti secara aktual hidup atau menjadi bagian dari setting budaya dalam tatanan untuk mengumpulkan data secara sistematis dan holistik. Melalui penelitian inilah perbedaan-perbedaan budaya tersebut dapat dijelaskan, dibandingkan untuk menambah pemahaman mengenai dampak budaya pada perilaku atau kesehatan manusia.

  1. Penelitian Historis

Penelitian historis yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk merekonstruksi kondisi masa lalu secara objektif, sistematis dan akurat. Melalui penelitian inilah, bukti-bukti dikumpulkan , dievaluasi, dianalisis serta disintesiskan.

Kemudian, berdasarkan bukti-bukti tersebut dirumuskan kesimpulan. Ada kalanya penelitian historis dipakai untuk menguji hipotesis tertentu.Misalnya,hipotesis mengenai dugaan adanya persamaan antara sejarah perkembangan dunia pendidikan dari satu negara yang mengalami hegemoni oleh penjajah yang sama.

Penelitian historis umumnya memperoleh data melalui catatan catatan artifak, atau laporan-laporan verbal. Ada beberapa ciri yang dominan dalam penelitian historis antara lain:

  • Adakalanya lebih bergantung terhadap data hasil observasi orang lain daripada hasil observasinya milik sendiri
  • Data penelitian diperoleh melalui observasi yang cermat, dimana data yang ada harus objektif,otentik, serta diperoleh dari sumber yang tepat pula
  • Data yang didapat bersifat sistematis menurut, urutan peristiwa dan bersifat lengkap dan tuntas.
  1. Penelitian Kasus

Penelitian khusus atau penelitian di lapangan dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif mengenai latar belakang keadaan, posisi saat ini dan interaksi linkungan unit sosial tertentu yang bersifat apa adanya (given).

Subjek penelitian bisa berupa individu,kelompok, institusi atau masyarakat.Penelitian kasus merupkan penelitian yang mendalam tentang unit sosial tertentu, yang hasil penelitian tersebut memberi gambaran luas dan mendalam mengenai unit sosial tertentu.

Subjek yang diteliti sendiri relatif terbatas, namun variabel-variabel serta fokus yang diteliti sangat luas sekali dimensinya. Contoh, studi lapangan yang tuntas serta mendalam mengenai kegiatan yang paling banyak dilaksanakan oleh tenaga pekerja sosial selama menjalankan tugasnya di camp pengungsi.

  1. Inquiry Filosofi

Inquiry filisofis melibatkan penggunaan mekanisme analisis intelektual guna memperjelas makna,membuat nilai-nilai menjadi nyata,mengindentifikasi etika, serta studi tentang hakikat pengetahuan.

Peneliti filosofis mempertimbangkan gagasan atau isu-isu dari semua perspektif dengan eksplorasi ekstensif atas literatur,menguji/menelaah secara mendalam makna konseptual,merumuskan pertanyaan,mengajukan jawaban, serta menyarankan implikasi atas jawaban-jawaban tersebut.

Peneliti dipandu dengan pertanyaan- pertanyaan itu.Terdapat tiga inquiry filosofis,antara lain yaitu:

  1. Foundational Inquiry
  2. Philosophical Analyses
  3. Ethical Analyses

Study fondasional melibatkan analisis mengenai struktur ilmu dan proses berpikir tentang penilaian dalam fenomena tertentu yang dianut bersama oleh “anggota” disiplin ilmiah.

Tujuan analisis filosofis yaitu menguji makna serta mengembangkan teori yang didapat melalui analisis konsep atau analisis linguistik.inquiry. etikal melibatkan analisa intelektual atas masalah etik berkaitan dengan andil, hak,tugas,benar dan salah, kesadaran dan tanggungjawab.

  1. Teori kritik sosial

Teori kritik sosial yaitu filosofi lain dari sebuah metodologi kualitatif yang unik.Dipandu dengan filsafat dari teori kritik sosial,peneliti mendapatkan pemahaman mengenai cara seseorang berkomunikasi serta bagaimana ia mengembangkan makna-makna simbolis dalam masyarakat.

Banyak pemahaman yang muncul dalam sebuah dunia, yang fakta kemasyarakatan pasti di terima apa adanya,tidak didiskusikan terlebih dahulu atau diposisikan secara dogmatik.

Tatanan politik yang mapan itu dipersepsi tertutup bagi perubahan dan tidak patut dipertanyakan.Tatanan politik semacam ini umumnya muncul pada masyarakat dibawah pemerintahan yang otoriter.

 

D. JENIS-JENIS METODE PENELITIAN KUALITATIF

Berikut adalah penjelasan dari jenis-jenis penelitian kualitatif tersebut :

  1. Jenis Metode Etnografi

Menurut para ahli, Miles & Hubberman seperti yang dikutip oleh Lodico, Spaulding & Voegtle dalam bukunya Methods in Educational Research From Theory to Practice, disebutkan kalau etnografi berasal dari bahasa Yunani ethos dan graphos.

Yang artinya tulisan mengenai suatu kelompok budaya. Sedangkan Menurut Le Clompte dan Schensul etnografi yaitu metode penelitian yang berguna dalam menemukan pengetahuan yang terdapat/terkandung dalam suatu budaya atau komunitas tertentu.

  1. Jenis Metode Fenomenologi

Istilah fenomenologis ini berasal dari bahasa Yunani, yakni phainomenon (penampakkan diri) dan logos (akal). Ilmu tentang penampakan ialah ilmu tentang apa yang menampakkan diri pada pengalaman subjek.

Donny Gahrial Adian di dalam buku Pengantar Fenomenologi menyebutkan bahwa fenomenologis yakni sebuah studi tentang fenomena-fenomena atau apapun itu yang tampak. Dengan kata lain fenomenologi merupakan mendapatkan penjelasan tentang realitas yang nampak.

  1. Jenis Metode Studi Kasus

Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus adalah pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu.

Surachrnad (1982) telah membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian terhadap suatu kasus secara intensif serta rinci.

  1. Jenis Metode Teori Dasar

Jujun S. Suriasumantri (1985) menyatakan bahwa penelitian dasar atau murni yakni penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui.

  1. Jenis Metode Studi Kritis

Metode Studi kritis yaitu metode yang digunakan untuk penelitian yang berkembang dari teori kritis, feminis, ras serta pasca modern yang bertolak dari asumsi kalau pengetahuan itu bersifat subjektif.

Peneliti yang kritis memandang bahwa masyarakat terbentuk oleh orientasi kelas, status, ras, suku bangsa, jenis kelamin dan lain sebagainya. Peneliti feminis umumnya memusatkan perhatiannya terhadap masalah gender, ras, sedangkan peneliti pasca modern memusatkan perhatian pada institusi sosial dan kemasyarakatan.

  1. Metode Analisis Konsep

Menurut Peter Salim di dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1990:61) analisis yaitu penyelidikan terhadap suatu problem/peristiwa (perbuatan, karangan dan sebagainya) guna mendapatkan fakta yang tepat (asal-usul, sebab, penyebab, sebenarnya, dan lain sebagainya)”.

Sedangkan pengertian konsep menurut Woodruf yaitu suatu ide atau gagasan yang relatif sempurna serta bermakna, suatu pengertian tentang suatu objek, produk subjektif yang bermula dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda lewat pengalamannya (setelah melakukan persepsi pada objek/benda).

Dari dua definisi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa definisi metode analisis konsep yakni penelitian yang memfokuskan pada suatu konsep yang sudah ada sebelumnya, supaya dapat difahami, digambarkan, dijelaskan serta implementasinya di lapangan.

  1. Metode Analisis Sejarah

    Metode analisis sejarah/penelitian historis menurut Jack. R. Fraenkel & Norman E. Wallen, 1990 : 411 di dalam Yatim Riyanto, 1996: 22 dalam Nurul Zuriah, 2005: 51 yakni penelitian yang secara eksklusif memfokuskan terhadap masa lalu.

Penelitian ini mencoba untuk merenkonstruksi apa yang terjadi pada masa yang lampau selengkap dan seakurat mungkin, dan pada umumnya menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Dalam mencari data dilakukan secara sistematis supaya mampu menggambarkan, menjelaskan, serta memahami kegiatan/peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu.

CONTOH JUDUL PENELITIAN KUALITATIF:

menulis judul dalam metode penelitian kualitatif

Fom: rahasiapenulis.com

  1. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Konsumen Membeli Produk
  2. Analisis Nilai-Nilai Patriotisme
  3. Analisis Peran Kepala Sekolah Dalam Menerapkan Manajemen Mutu Pendidikan
  4. Cara Belajar Siswa Berprestasi
  5. Cara Belajar Siswa SD Dalam Menghadapi Ujian Nasional
  6. Eksploitasi Anak Jalanan
  7. Evaluasi Kebijakan Pendidikan Inklusif
  8. Gambaran Manajemen Pembelajaran PAI
  9. Kebiasaan Belajar Pada Siswa Berprestasi Di SD
  10. Kebiasaan Membaca Siswa Sekolah Dasar
  11. Keefektifan Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengarang Melalui Kebiasaan Menulis Buku Harian
  12. Kesulitan Pemahaman Konsep Gaya Pelajaran IPA
  13. Kinerja Dan Profesionalisme Guru SD
  14. Kompetensi Global Guru Sekolah Dasar
  15. Kompetensi Guru Dalam Perencanaan Pembelajaran
  16. Makna Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan
  17. Manajemen Keuangan Sekolah
  18. Metode Pembelajaran Yang Efektif Dalam Membentuk Karakter
  19. Metode Pembelajaran Yang Efektif Untuk Menyampaikan Materi Pecahan
  20. Minat Kegiatan Kepramukaan Siswa SD
  21. Model Pembelajaran Yang Efektif Dalam Pembelajaran
  22. Model Pemberian Tugas Pembelajaran Matematika
  23. Pelaksanaan Bimbingan Konseling Di SD
  24. Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah Di SD
  25. Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Pada Bahasan Trigonometri
  26. Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Siswa SD
  27. Pentingnya Semangat Kerja Karyawan Guna Meningkatkan Produktivitas
  28. Peran Guru Kelas Sebagai Fasilitator
  29. Peran Orang Tua Terhadap Anak Berprestasi
  30. Peran Orang Tua Terhadap Anak Dalam Bidang Akademik
  31. Persepsi Dan Perilaku Merokok Mahasiswa PGSD
  32. Persepsi Guru Kelas Terhadap Pelaksanaan KTSP
  33. Persepsi Guru Matematika Terhadap Penggunaan Bahan Manipulatif
  34. Persepsi Guru Terhadap Penerapan Kurikulum KTSP
  35. Persepsi Masyarakat Terhadap Penggunaan Metode Inkuiri
  36. Persepsi Siswa Terhadap Peran Guru Bimbingan
  37. Persepsi Siswa Terhadap Pola Interaksi Guru Dalam Pembelajaran
  38. Pesan Dalam Tarian Topeng Panji Cirebon
  39. Pola Belajar Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional
  40. Pola Emosi Guru Dalam Menjalankan Tugas Di SD
  41. Profesionalisme Guru SD
  42. Profil Guru Yang Efektif Mendidik Siswa SD
  43. Strategi Guru Dalam Pembentukan Karakter Siswa
  44. Strategi Harian Tribun Timur Untuk Menjadi Surat Kabar Terpercaya Di Kota Makassar
  45. Teknik-Teknik Motivasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar
  46. Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa SD
  47. Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru
  48. Upaya Peningkatan Belajar Matematika Melalui Tugas Pekerjaan Rumah
  49. Variasi Keterampilan Mengajar Guru

CONTOH PROPOSAL KUALITATIF

contoh proposal metode kualitatif

From: CustomShow.com

 

UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN SELF CONTROL REMAJA DI MA Nurul Azhar Ngawi

PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF

Disusun untuk Memenuhi Tugas Metodologi Penelitian Pendidikan

Dosen Pengampu : ………

Oleh:

………….

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI BALIKPAPAN

Tahun 20../20..

  1. PENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahIstilah pubertas atau adolescensia umum di maknai dengan masa remaja, yaitu masa perkembangan sifat tergantung pada (dependence) terhadap orang tua kearah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, perhatian pada nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.

    Sedangkan menurut ahli, Harold Alberty (1967:86), remaja adalah masa peralihan antara masa anak dengan masa dewasa yakni berlangsung 11-13 tahun hingga 18-20 tahun menurut umur kalender kelahiran seseorang.

    Sejauh mana remaja dapat mengamalkan nilai-nilai yang sudah di anutnya serta yang telah dicontohkan kepada mereka? Salah satu tugas perkembangan yang sangat perlu dilakukukan remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompoknya kemudian menyesuaikan tingkah lakunya dengan harapan sosial tanpa bimbingan, pengawasan, motivasi, serta ancaman sebagaimana pada waktu kecil.

    Ia juga di tuntut untuk mampu mengendalikan tingkah lakunya karena dia bukan lagi tanggung jawabguru, orang tua atau orang lain.

    Berdasarkan penelitian empiris yang dilaksanakan Kohlberg pada tahun 1958, sekaligus menjadi disertasi doktornya yang judul “The Developmental of model of moral Think and choice in the years 10 to 16″. Menyebutkan tahap-tahap perkembangan moral pada individu bisa di bagi yaitu sebagai berikut:

    1. Tingkat Prakonvensional

    Dalam tingkat ini anak tanggap pada aturan-aturan budaya dan terhadap ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik atau buruk, benar atau salah. Namun, hal ini semata-mata ditafsirkan dari sudut pandang sebab akibat fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan, pertukaran dan kebaikan).

    2. Tingkat Konvensional

    Dalam tingkat ini, anak hanya menurut pada harapan keluarga, kelompok ataupun bangsa. Ia memandang bahwa hal tersebut penting bagi dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata.

    3. Tingkat Pasca-konvensional

    Dalam tingkatan ini ada usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai serta prinsip moral yang dimiliki keabsahan dan dapat diterapkan, lepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang terhadap prinsip-prinsip tersebut dan terlepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok itu.

    Piaget mengatakan bahwa masa remaja sudah mencapai tahap pelaksanan formal dalam kemampuan kognitif. Ia dapat mempertimbangkan semua kemungkinan untuk mengatasi suatu problem dari beberapa sudut pandang serta berani mempertanggung jawabkan.

    Sehingga kohlberg juga berpendapat, perkembangan moral ketiga, moralitas pasca-konvensional harus di gapai selama masa remaja.

    Beberapa prinsip di terimanya melalui dua tahap; pertama meyakini kalau dalam keyakinan moral harus ada fleksibilitas sehingga bisa memungkinkan dilakukannya perbaikan dan perubahan standar moral jika menguntungkan semua anggota kelompok; kedua menyesuaikan diri dengan standar sosial serta ideal untuk menjahui hukuman sosial terhadap dirinya pribadi, sehingga perkembangan moralnya tak lagi atas dasar keinginan pribadi, namun mernghormati orang lain.

Tapi, pada kenyataan banyak ditemukan remaja yang belum dapat mencapai tahap pasca-konvensional tersebut, dan pernah juga ditemukan remaja yang baru mencapai tahap prakonvensional.

Fenomena itu banyak dijumpai dalam remaja yang pada umumnya mereka masih duduk di bangku SMA/SMK, seperti:

1. Berperilaku tidak terpuji, meremehkan peraturan dan disiplin sekolah yang ada
2. Senang berfoya-foya dan bergerombol/berkelompok
3. Mentaati peraturan sekolah, karena satu hal, takut pada hukuman

Dan tidak jarang juga kita mendengar/melihat perkelahian,tawuran terjadi antar remaja yang tidak jelas sebabnya. Bahkan perkelahian bisa meningkat menjadi permusuhan kelompok, yang dapat menimbulkan korban pada kedua belah pihak.

Jika ditanyakan kepada mereka, apa yang menyebabkan mereka bisa berbuat kekerasan sesama remaja, dan apa masalahnya sehingga peristiwa yang memalukan itu bisa terjadi, banyak yang menjawab bahwa mereka tidak tahu, tidak sadar mengapa mereka secepat itu menjadi marah dan ikut berkelahi.

Fenomena di atas menggambarkan kalau upaya remaja untuk menggapai moralitas dewasa; mengganti konsep moral yang bersifat khusus dengan konsep moral yang bersifat umum, merumuskan konsep yang baru dikembangkan dalam kode moral untuk pedoman tingkah laku, dan mengendalikan tingkah laku pribadi, adalah upaya yang tidak mudah dicapai bagi mayoritas remaja.

Menurut Rice (1999), masa remaja yakni masa peralihan, ketika individu yang mempunyai kematangan. Pada masa tersebut, terdapat dua hal penting yang menyebabkan remaja melakukan pengendalian diri.

Dua hal itu adalah, pertama hal yang bersifat eksternal, yakni adanya perubahan dalam lingkungan. Pada tahap ini, masyarakat dunia sedang mengalami banyak perubahan dengan begitu cepat yang dapat membawa berbagai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif bagi remaja.

kedua adalah hal yang bersifat internal, adalah karakteristik dalam diri remaja yang membuat relatif lebih bergejolak dibanding dengan masa perkembangan lainnya (storm and stress period).

Supaya remaja yang sedang mengalami perubahan cepat di dalam tubuhnya itu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan perubahan tersebut, maka berbagai usaha baik dari pihak orang tua, guru maupun orang dewasa lainnya, sangat diperlukan.

Salah satu peran konselor yakni sebagai pembimbing dalam tugasnya yaitu mendidik, guru harus membantu murid-muridnya supaya mencapai tahap kedewasaan secara optimal.

Maksudnya kedewasaan yang sempurna (sesuai dengan kodrat yang dimiliki murid) Dalam peranan ini guru harus memperhatikan aspek-aspek pribadi pada setiap murid antara lain kematangan, kebutuhan, kemampuan, kecakapannya dan sebagainya supaya mereka dapat mencapai tingkat perkembangan dan kedewasaan yang optimal.

Dalam hal ini di samping orang tua, konselor di sekolah juga memiliki peranan penting dalam membantu remaja untuk mengatasi kesulitanya, keterbukaan hati konselor di dalam membantu kesulitan yang dialami oleh remaja, akan menjadikan remaja sadar akan sikap serta tingkah lakunya yang kurang baik.

Dengan kemampuan pengendalian diri (self control) yang matang, remaja diharapkan bisa mengendalikan dan menahan tingkah laku yang bersifat tidak terpuji dan merugikan orang lain atau mampu mengendalikan serta menahan tingkah laku yang bertentangan pada norma-norma sosial yang berlaku.

Remaja/Murid juga diharapkan bisa mengantisipasi akibat-akibat negatif yang akan terjadi pada masa stroom and stress period. Dari fenomena yang terdapat diatas penulis sangat tertarik untuk meneliti bagaimana pendidikan anak dalam keluarga buruh dengan judul “UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN SELF CONTROL REMAJA DI MA Nurul Azhar Ngawi”

B. Fokus Penelitian

Untuk mempermudah penulis untuk menganalisis hasil penelitian, maka Penelitian ini difokuskan terhadap Guru BK dalam rangka meningkatkan Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi yang meliputi tujuan, kegiatan sosial dan keagamaan yang dilakukan dalam meningkatkan self control hasil yang digapai, serta faktor pendukung dan penghambat.

C. RUMUSAN MASALAH

Dalam sub penelitian ini pelaku peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah Upaya yang dilakukan Guru BK dalam meningkatkan Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?

2. Hasil apa yang digapai dalam meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?

3. Apa faktor saja pendukung dan penghambat terhadap peningkatan Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?

D. TUJUAN PENELITIAN

Berdasar pada latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka Tujuan Penelitian yang ingin digapai adalah:

1. Untuk mendiskripsikan serta menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan Guru BK dalam angka meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi.
2. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan hasil yang diraih dalam meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi.
3. Untuk mendeskripsikan serta menjelaskan apa faktor pendukung dan penghambat terhadap peningkatan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan bisa menunjukkan bahwa konseling yang dilaksanakan oleh Guru BK di MA Nurul Azhar Ngawi dapat membentuk self control siswa.

2. Manfaat praktis
Penelitian ini bisa berguna sebagai masukan di dalam menentukan kebijakan lebih lanjut bagi MA Nurul Azhar Ngawi mengenai peranan Guru BK dalam membantu siswa siswa untuk membentuk self control yang baik.

II. STUDI KEPUSTAKAAN

 

manfaat metode kualitatif untuk penelitian kamu

From: projectproposalnola.com

Dalam rangka memperkuat masalah yang akan di teliti maka penulis mengadakan telaah pustaka dengan cara mencari serta menemukan teori-teori yang mau di jadikan landasan penelitian, yaitu:

Self Control (kontrol diri) yaitu kemampuan untuk membimbing tingkah laku/etika sendiri; kemampuan untuk membimbing tingkah laku sendiri; kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau etika laku impulsif.

Averill (dalam, Herlina Siwi, 2000) Menyebutkan kontrol diri dengan sebutan kontrol personal, yakni terdiri dari tiga jenis kontrol, sebagai berikut:

1. Behavior Control (kontrol perilaku), yang terdiri dalam dua komponen, adalah kemampuan mengatur pelaksanaan (regulated administration) serta kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability).

2. Cognitive control (kontrol kognitif), terdiri dari dua komponen, yakni memperoleh informasi (information gain) dan melakukan penilaian (appraisal).

3. Decisional Control adalah kemampuan seseorang dalam memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujui nya, kontrol diri di dalam menentukan pilihan dapat berfungsi dengan baik, dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan.

Dalam mengukur kontrol diri dipakai aspek-aspek yakni sebagai berikut:

1. Kemampuan dalam mengontrol tingkahlaku
2. Kemampuan dalam mengontrol stimulus
3. Kemampuan dalam mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian
4. Kemampuan dalam menafsirkan peristiwa atau kejadian.
5. Kemampuan dalam mengambil keputusan.

Tiga langkah orang dewasa untuk membangun kontrol diri pada anak, berikut:

1. Langkah pertama yakni memperbaiki perilaku anda, sehingga dapat memberi contoh control diri yang baik untuk anak dan menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan prioritas utama.

2. Langkah kedua yaitu membantu anak menumbuhkan sistem regulasi internal sehingga bisa menjadi motivator bagi diri mereka sendiri khususnya.

3. Langkah ketiga yaitu mengajarkan cara membantu anak menggunakan kontrol diri ketika menghadapi masalah dan stres, mengajarkan untuk berfikir dahulu sebelum bertindak sehingga mereka akan memilih sesuatu yang aman dan baik untuk dirinya maupun orang lain.

Artikel Terkait: Cara Membuat Latar Belakang Makalah yang Baik dan Benar Beserta Contohnya

III. PROSEDUR PENELITIAN

 

From: uglydogbooks.com

A. Metode dan Alasan Menggunakan Metode

Pada penelitian ini digunakan Metodologi dengan pendekatan kualitatif, yang mempunyai karakteristik alami (natural setting) sebagai sumber data langsung, deskriptif, proses lebih dipentingkan dari pada hasil, analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa induktif serta makna merupakan hal yang esensial.

Terdapat 6 (enam) macam metodologi penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, yakni: etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, partisipatories, serta penelitian tindakan kelas.

Dalam hal ini penelitian yang digunakan yakni penelitian studi kasus (case study), yaitu: suatu penelitian yang dilaksanakan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, serta interaksi lingkungan suatu unit sosial: individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat.

B. Tempat Penelitian

Penelitian ini berlokasi di MA Nurul Azhar Ngawi karena di dasarkan pada beberapa pertimbangan:

MA adalah Sekolah Menengah Atas yang mempunyai konotasi perilaku yang tidak begitu baik menurut pandangan masyarakat. sehingga Konselor di MA sangat berperan dalam memantau penyimpangan perilaku para siswa.

C. Instrumen Penelitian

pada penelitian ini, yang menjadi instrumen utama adalah peneliti sendiri.

D. Sampel Sumber Data

Sumber data utama dalam penelitian ini yaitu kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan, seperti dokumen dan lainnya. Dengan demikian sumber data dalam penelitian ini berupa kata-kata dan tindakan sebagai sumber utama, sedangkan sumber data tertulis, foto dan catatan tertulis adalah sumber data tambahan.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi serta dokumentasi. Sebab bagi peneliti kualitatif fenomena dapat di mengerti maksudnya secara baik, jika dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan observasi pada latar, dimana fenomena tersebut terjadi, di samping itu untuk melengkapi data diperlukan dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis oleh atau tentang subyek).

Wawancara yaitu percakapan dengan maksud tertentu. Maksud digunakannya wawancara antara lain

(a) mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain,
(b) mengkonstruksikan kebulatan-kebulatan demikian yang dialami masa lalu.
Pada penelitian ini teknik wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara mendalam maksudnya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam yang berhubungan dengan fokus permasalahan. Sehingga data-data yang dibutuhkan dalam penelitian bisa terkumpul secara maksimal sedangkan subjek peneliti dengan teknik Purposive Sampling yakni pengambilan sampel bertujuan, sehingga memenuhi kepentingan peneliti.

Mengenai jumlah informan yang diambil terdiri dari:

1. Kepala Sekolah MA Nurul Azhar Ngawi;
2. Guru Bimbingan dan Konseling MA Nurul Azhar Ngawi;
3. Seluruh Wali Kelas MA Nurul Azhar Ngawi

Teknik Observasi, dalam penelitian kualitatif observasi diklarifikasikan menurut 3 cara. Pertama, pengamat bisa bertindak sebagai partisipan atau nonpartisipan. Kedua, observasi dapat dilaksankan secara terus terang atau penyamaran. Ketiga, observasi yang menyangkut latar penelitian dan dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi yang pertama di mana pengamat bertindak sebagai partisipan.
Teknik Dokumentasi, menggunakan teknik ini untuk mengumpulkan data dari sumber non insani, sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman.

“Rekaman” sebagai setiap tulisan/pernyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk individual atau kelompok dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristiwa. Sedangkan “Dokumen” digunakan untuk mengacu atau bukan selain pada rekaman, yakni tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu, seperti: surat-surat, buku harian, catatan khusus, foto-foto dan lain sebagainya.

F. Teknik Analisis Data

Setelah semua data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah pengelolahan dan analisa data. Yang di maksud dengan analisis data ialah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkannya kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusunnya ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh dirinya sendiri atau orang lain.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif, jadi dalam analisis data selama di lapangan peneliti menggunakan model spradley, yaitu tehnik analisa data yang di sesuaikan dengan tahapan dalam penelitian, adalah:

1. Dalam tahap penjelajahan dengan teknik pengumpulan data grand tour question, yaitu pertama dengan memilih situasi sosial (place, actor, activity),
2. Kemudian setelah memasuki lapangan, dimulai dengan menetapkan seorang informan “key informant” yang merupakan informan, berwibawa dan dipercaya dapat “membukakan pintu” kepada peneliti untuk memasuki obyek penelitian.

Kemudian peneliti melakukan wawancara kepada informan tersebut, dan mencatat hasil wawancara yang dilakukan. Setelah itu perhatian peneliti pada obyek penelitian dan memulai untuk mengajukan pertanyaan deskriptif, dilanjutkan dengan analisis terhadap hasil wawancara. Berdasarkan hasil dari analisis wawancara berikutnya peneliti melakukan analisis domain.
3. Dalam tahap menentukan fokus (dilakukan dengan observasi terfokus) analisa data dilakukan menggunakan analisis taksonomi.
4. Dalam tahap selection (dilakukan dengan cara observasi terseleksi) kemudian peneliti mengajukan pertanyaan kontras, yang dilakukan dengan analisis komponensial.
5. Hasil dari analisis komponensial, melalui analisis tema peneliti menemukan tema-tema budaya. Berdasar pada temuan tersebut, selanjutnya peneliti menuliskan laporan penelitian kualitatif.

DAFTAR PUSTAKA

Borba, Michele. Membangun Kecerdasan Moral; Tujuh Kebajikan Utama Agar Anak Bermoral Tinggi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Ghufron, M. Nur. ” Hubungan Kontrol diri, persepsi remaja terhadap penerapan disiplin orang tua dengan prokrastinasi akademik.” Tesis Ilmu Psikologi UGM Yogyakarta, 2003. http://www.damandiri.or.id/file/mnurgufronugmbab2.pdf
Gunarsa, D. Singgih. Bunga rampai Psikologi Perkembangan; Dari anak sampai usia lanjut. Jakarta: Gunung Mulia, 2006.
Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002.
Sugiyono, Metodologi Penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D Bandung: Alfabeta, 2006.

 

https://bukubiruku.com/metode-penelitian-kualitatif/

https://www.satujam.com/penelitian-kualitatif-dan-kuantitatif/

HAK DAN KEWAJIBAN PROFESI GURU

Pekerjaan sebagai guru dewasa ini sudah diakui sebagai sebuah profesi, sehingga guru di zaman now alias zaman sekarang berlomba-lomba untuk mendapat tunjangan profesi guru. sayang seribu sayang justru masih banyak guru yang tidak meningkatkan profesionalismenya sebagai guru baik secara akademik maupun dalam tanggung jawabnya agar layak disebut profesional dan mendapat tunjangan profesional.

Tugas utama Guru adalah mendidik dan mengajar. Mendidik anak didik agar sesuai dengan usia dan jenjang pendidikannya dan memiliki pendidikan moral yang sesuai. Mengajar merupakan pelaksanaan proses pembelajaran dan menjadi proses yang paling penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengabdian guru dalam dunia pendidikan yang sangat besar tersebut sangat memberikan kontribusi yang tinggi dalam rangka mencapai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai yang tertera pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Guru sebagai sebuah profesi tenaga kependidikan memiliki hak dan kewajiban yang menyangkut dunia pendidikan yang digeluti. Hak guru merupakan apa-apa saja yang didapatkan oleh seseorang yang memiliki profesi guru, dan kewajiban guru adalah apa-apa saja yang harus dilaksanakan seorang guru dalam menjalankan profesinya. Hak dan kewajiban guru ini dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen sehingga setiap guru mandapatkan perlindungan terhadap hak yang dimiliki dan kewajiban yang harus dilaksanakan.

Di dalam al-Quran ditemukan beberapa kata yang menunjukan kepada pengertian pendidik:

1. Muallim (Q.S. 29:34 dan Q.S. 35:28).Muallim adalah orang yang menguasai ilmu mampu mengembangkannya dan menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, serta menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya sekaligus.

2. Murabbi (Q.S. 17:24).Murabbi adalah pendidik yang mampu menyiapkan mengatur, mengelola, membina, memimpin, membimbing dan mengembangkan potensi kreatif pesera didik, yang dapat digunakan bagi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berguna bagi dirinya, dan makhluk Tuhan di sekelilingnya.

3. Mudarris. Mudarris adalah pendidik yang mampu menciptakan suasana pembelajaran yang dialogis dan dinamis, mampu membelajarkan peserta didik dengan belajar mandiri, atau memperlancar pengalaman belajar dan menghasilkan warga belajar.

4. Mursyid (Q.S. 18:17).Mursyid adalah pendidik yang menjadi sentral figur bagi peserta didiknya, memiliki wibawa yang tinggi di depan peserta didiknya, mengamalkan ilmu secara konsisten, merasakan kelezatan dan manisnya iman terhadap Allah Swt

5. Muzakki.Muzakki adalah pendidik yang bersifat hati-hati terhadapapa yang akan diperbuat, senantiasa mensucikan hatinya dengan cara menjauhkan semua bentuk sifat-sifat mazmumah dan mengamalkan sifat-sifat mahmudah.

6. Mukhlis (Q.S. 98:5).Mukhlis adalah pendidik yang melaksanakan tugasnya dalam mendidik dan mengutamakan motivasi ibadah yang benar-benar ikhlas karena Allah

Hak-Hak Guru

Berdasarkan Undang-Undang Guru dan Dosen No 14 Tahun 2005  pasal 14 ayat 1 menyatakan, bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru memiliki hak sebagai berikut:

  1. Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial.
  2. Mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja.
  3. Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual.
  4. Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi.
  5. Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan.
  6. Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik
  7. sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.
  8. Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas.
  9. Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi.
  10. Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan.
  11. Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi, dan/atau
  12. Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

Kewajiban Guru

Menurut UU Guru dan Dosen pasal 20, bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:

  1. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
  2. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  3. Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar
  4. belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.
  5. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika, dan
  6. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Seyogyanya penuntutan Hak dari para guru juga betul-betul seimbang dengan sejauh mana kewajiban yang sudah dilaksanakannya. Sungguh ironis juga ketika  banyak guru yang sudah melaksanakan kewajiban namun belum mendapatkan hak-hak yang semestinya bisa mereka dapatkan. Terutama di daerah yang jauh dari kota, selain sarana dan prasarana yang masih kurang, kesejahteraan kehidupan guru yang bisa dicapai dari penerimaan hak belum mampu dinikmati seluruh guru. Bukti nyata ialah kesejahteraan guru terutama Guru Sukwan  yang masih memiliki Kesejahteraan dibawah UMR bahkan tidak mencapai setengahnya sehingga kesejahteraan guru bahkan jauh dibawah karyawan swalayan yang hanya lulusan SMA/SMK.

Dibalik itu yang masih ironis juga ketika guru PNS begitu ngotot mengejar Tunjangan Profesinya sementara pelaksanaan kewajibannya jauh daribatasan wajar atau normal. Tentunya hal ini merusak sistem moral komponen lembaga pendidikan terutama tenaga honorer atau sukwan dan secara makro merusak pendidikan bagi murid-murid sebagai penerus generasi bangsa. Naudzubillah tsumma Naudzubillah semoga rekan-rekan guru dijauhkan dari tipe guru seperti itu dan tetaplah bekerja dengan baik dan ikhlas semoga Alloh SWT mempermudah dan meningkatkan keberkahan rejeki kita

katanya orang “madura swasta” dicukupkan dengan “Patennang bede’ Alloh sengator rejeki”

Innalloooha Maana

Salam Berbagi dan bekerja dengan Ikhlas dan penuh tanggungjawab

4. Gajah (Al Fiil) : Seri Hewan Menakjubkan dalam Al-Quran

Berbicara tentang gajah tentu kita ingat akan surat  dalam Al-Quran yaitu surat Al Fiil yaitu surat ke-105  yang mempunyai makna gajah.

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصۡحَٰبِ ٱلۡفِيلِ ١

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah”

(Al-Fiil ayat 1)

A. Tinjauan Sains

Gajah termasuk jenis mamalia besar dari familia Elephantidae dan ordo Proboscidea. Terdapat dua spesies gajah yaitu gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus), walaupun beberapa bukti menunjukkan bahwa gajah semak afrika dan gajah hutan afrika merupakan spesies yang berbeda (L. africana dan L. cyclotis). Gajah tersebar di seluruh Afrika sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Elephantidae adalah satu-satunya familia dari ordo Proboscidea yang masih lain; familia lain yang kini sudah punah termasuk mammoth dan mastodon.

Gajah afrika jantan merupakan hewan darat terbesar dengan tinggi yang dapat mencapai 4 m (13 ft) dan massa yang kurang lebih 7.000 kg (15.000 lb). Gajah memiliki ciri-ciri khusus, dengan yang paling mencolok adalah belalai atau proboscisyang digunakan untuk banyak hal, terutama untuk bernapas, menghisap air, dan mengambil benda. Gigi serinya tumbuh menjadi taring yang dapat digunakan sebagai senjata dan alat untuk memindahkan benda atau menggali. Daun telinganya yang besar membantu mengatur suhu tubuh mereka. Gajah afrika memiliki telinga yang lebih besar dan punggung yang cekung, sementara telinga gajah asia lebih kecil dan punggungnya cembung.

Gajah merupakan hewan herbivora yang dapat ditemui di berbagai habitat, seperti sabana, hutan, gurun, dan rawa-rawa. Mereka cenderung berada di dekat air. Gajah dianggap sebagai spesies kunci karena dampaknya terhadap lingkungan. Hewan-hewan lain cenderung menjaga jarak dari gajah, dan predator-predator seperti singa, harimau. hyena, dan anjing liar biasanya hanya menyerang gajah muda. Gajah betina cenderung hidup dalam kelompok keluarga, yang terdiri dari satu betina dengan anak-anaknya atau beberapa betina yang berhubungan dengan anak-anak mereka. Kelompok ini dipimpin oleh individu gajah yang disebut matriark, yang biasanya merupakan betina tertua. Gajah memiliki struktur kelompok fisi-fusi, yaitu ketika kelompok-kelompok keluarga bertemu untuk bersosialisasi. Gajah jantan meninggalkan kelompok keluarganya ketika telah mencapai masa pubertas, dan akan tinggal sendiri atau bersama jantan lainnya. Jantan dewasa biasanya berinteraksi dengan kelompok keluarga ketika sedang mencari pasangan dan memasuki tahap peningkatan testosteron dan agresi yang disebut musth, yang membantu mereka mencapai dominasi dan keberhasilan reproduktif. Anak gajah merupakan pusat perhatian kelompok keluarga dan bergantung pada induknya selama kurang lebih tiga tahun. Gajah dapat hidup selama 70 tahun di alam bebas. Mereka berkomunikasi melalui sentuhan, penglihatan, penciuman, dan suara; gajah menggunakan infrasuara dan komunikasi seismik untuk jarak jauh. Kecerdasan gajah telah dibandingkan dengan kecerdasan primata dan cetacea. Mereka tampaknya memiliki kesadaran diri dan menunjukkan empati kepada gajah lain yang hampir atau sudah mati.

Gajah afrika digolongkan sebagai spesies yang rentan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), sementara gajah asia diklasifikasikan sebagai spesies terancam. Salah satu ancaman utama bagi gajah adalah perdagangan gading yang memicu perburuan liar. Ancaman lain adalah kehancuran habitat dan konflik dengan penduduk lokal. Gajah digunakan sebagai hewan pekerja di Asia. Dulu mereka pernah digunakan untuk perang; kini, gajah seringkali dipertontonkan di kebun binatang dan sirkus. Gajah dapat dengan mudah dikenali dan telah digambarkan dalam seni, cerita rakyat, agama, sastra, dan budaya populer.

B. Keistimewaan Gajah
1. Hewan ini begitu tangguh dipakai untuk perjalanan jarak jauh.
Dalam surat Al Fiil, Allah bercerita pasukan Abrahah yang berkendaraan gajah yang menginginkan menghancurkan Ka’bah. Tetapi sebelumnya kemauan itu terwujud, Allah sudah menghancurkan mereka. Allah kirimkan pada mereka sekawanan burung ababil yang lalu menghujani mereka dengan batu neraka. Jadi matilah mereka semuanya.
Gajah memiliki bobot 5 ton lebih. Meski sangat berat, mereka berjalan dengan ringan dan nyaman. Semua ini terjadi karena adanya suatu rancangan khusus pada tubuh gajah. Andai saja ukuran mereka sedikit lebih besar, maka kaki mereka takkan mampu menopangnya. Tapi gajah memiliki kaki yang sungguh merupakan keajaiban perancangan. Sehingga, walau tubuh gajah sangat berat, mereka berjalan dengan amat ringan.
Bantalan tebal berupa jaringan kenyal, yang tumbuh sebagai lapisan pada bagian bawah setiap telapak kaki gajah, menyerap guncangan berat badannya. Lapisan bantalan ini menyebarkan efek tekanan yang dikenakan gajah ke permukaan tanah. Itu memungkinkannya mengangkat kaki dengan mudah. Berkat bantalan ini, gajah mampu berjalan menempuh jarak yang jauh meskipun tubuhnya amat berat. Menurut hukum fisika, seorang wanita bersepatu hak tinggi akan memberikan tekanan lebih besar pada permukaan tanah daripada satu kaki gajah.

2. Gajah adalah hewan darat paling besar didunia namun dapat berenang.
Gajah ialah satu-satunya mamalia yg tidak dapat melompat. Walau sekian, gajah mempunyai kekuatan lain, yakni berenang. Mereka memakai belalainya untuk bernapas saat berenang.
3. Gajah dapat mendeteksi kehadiran sumber air dalam jarak 5 km.
Gajah mempunyai indra yang tajam, terlebih pendengaran serta memorinya. Diantara semuanya makhluk darat yang hidup sekarang ini, gajah memiliki otak yang terbesar.
4. Gajah memiliki daya ingat yang kuat.
Kekuatan memori gajah itu bisa dibuktikan dari langkah mengingat rute serta jarak tempuh perjalanan mereka, mengingat anggota satu koloni, dan kekuatan membedakan panggilan untuk semasing gajah yang lain. Gajah bisa memanggil gajah yang lain dalam jarak berkilo-kilo meter. Panggilan itu dapat lewat teriakan yang cukup keras atau mungkin dengan panggilan lewat tanah. Allahu akbar!
sumber :

SUPERVISI PEMBELAJARAN

 

A. Pengertian
Supervisi kelas atau supervisi akademik ialah kegiatan wajib yang harus dilaksanakan oleh Kepala Sekolah dalam setiap tahun akademik. Dalam pelaksanaannya kepala sekolah diperbolehkan menunjuk beberapa guru utuk membantu tugas tersebut dengan memperhatikan senioritas, integritas, kualitas serta kepangkatan dari guru-guru tersebut.
Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran Glickman (1981).  Sementara itu,  Daresh (1989) menyebutkan bahwa supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran.
 Istilah “supervisi kelas” mengacu kepada misi utama pembelajaran, yaitu kegiatan yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan prestasi akademik. Sehingga supervisi kelas adalah kegiatan yang berurusan dengan perbaikan dan peningkatan proses dan hasil pembelajaran di sekolah.
Dalam konteks profesi pendidikan, khususnya profesi mengajar, mutu pembelajaran merupakan refleksi dari kemampuan profesional guru. Karena itu, supervisi kelas berkepentingan dengan upaya peningkatan kemampuan profesional guru yang berdampak terhadap peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. Dengan demikian fungsi supervisi kelas adalah salah satu mekanisme untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam upaya mewujudkan proses belajar peserta didik yang lebih baik melalui cara mengajar yang lebih baik pula. Dalam analisis terakhir, keefektifan supervisi kelas indikatornya adalah peningkatan hasil belajar peserta didik.
B. Tujuan dan Sasaran
Tujuan utama supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya. Meskipun demikian, supervisi akademik tidak bisa terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran.
Sasaran supervisi kelas adalah:
a. Proses pembelajaran peserta didik.
b. Menjadikan kepala sekolah dan guru sebagai professional learners.
c. Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk memiliki kemampuan manajemen sumber daya pendidikan
C. Prinsip-prinsip Supervisi
Prinsip-Prinsip Supervisi Kelas dilaksanakan atas dasar keyakinan sebagai berikut:
1. Pengawasan terhadap penyelenggaraan proses pembelajaran (PBM) hendaknya menaruh perhatian yang utama pada peningkatan kemampuan profesional gurunya, yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran;
2. Pembinaan yang tepat dan terus-menerus yang diberikan kepada guru-guru berkontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran;
3. Peningkatan mutu pendidikan melalui pembinaan profesional guru didasarkan atas keyakinan bahwa mutu pembelajaran dapat diperbaiki dengan cara paling baik di tingkat sekolah/kelas melalui pembinaan langsung dari orang-orang yang bekerjasama dengan guru-guru untuk memperbaiki mutu pembelajaran;
4. Supervisi yang efektif dapat menciptakan kondisi yang layak bagi pertumbuhan profesional guru-guru. Kondisi ini ditumbuhkan melalui kepemimpinan partisipatif, di mana guru-guru merasa dihargai dan diperlukan. Dalam situasi seperti ini akan lahir saling kepercayaan antara para pembina (pengawas, kepala sekolah) dengan guru-guru, antara guru dengan guru, dan di antara pembina sendiri. Guru-guru akan merasa bebas membicarakan pekerjaannya dengan pembina jika ada keyakinan bahwa pembina akan menghargai pikiran dan pendapatnya;
5. Supervisi yang efektif dapat melahirkan wadah kerjasama yang dapat mempertemukan kebutuhan profesional guru-guru. Melalui wadah ini, guru-guru memiliki kesempatan untuk berpikir dan bekerja sebagai suatu kelompok dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari di bawah bimbingan pembina dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran;
6. Supervisi yang efektif dapat membantu guru-guru memperoleh arah diri, memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi sehari-hari, belajar memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari dengan imajinatif dan kreatif. Dalam suasana seperti itu, pemikiran dan alternatif pemecahan masalah, maupun gagasan inovatif akan muncul dari bawah dalam upaya menyempurnakan proses pembelajaran tanpa menunggu instruksi atau petunjuk dari atas. Dengan demikian, supervisi yang efektif dapat merangsang kreativitas guru untuk memunculkan gagasan perubahan dan pembaruan yang ditujukan untuk memperbaiki proses pembelajaran; dan
7. Supervisi yang efektif hendaknya mampu membangun kondisi yang memungkinkan guru-guru dapat menunaikan pekerjaanya secara profesional, ketersediaan sumber daya pendidikan yang diperlukan memberi peluang kepada guru untuk mengembangkan proses pembelajaran yang lebih baik.
Kegiatan supervisi kelas diwujudkan oleh para supervisor dalam bentuk sikap dan tindakan yang dilakukan dalam interaksi antara supervisor dengan guru-guru. Kegiatan tersebut selain memperhatikan konsep/teori di atas sebagai landasan dan keyakinan dalam melaksanakan tugas dan fungsionalnya, supervisor juga perlu memperhatikan dan berpedoman pada prinsip-prinsip supervisi, yaitu ;
a. Supervisi hendaknya dimulai dari hal-hal yang positif;
b. Hubungan antara para pengawas dengan guru-guru hendaknya didasarkan atas hubungan kerja secara profesional;
c. Pembinaan profesional hendaknya didasarkan pada pandangan objektif;
d. Pembinaan profesional hendaknya didasarkan atas hubungan manusiawi yang sehat;
e. Pembinaan profesional hendaknya mendorong pengembangan inisitif dan kreativitas guru-guru;
f. Pembinaan profesional harus dilaksanakan terus-menerus dan berkesinambungan;
g. Pembinaan profesional hendaknya dilakukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing guru; dan
h. Pembinaan profesional hendaknya dilaksanakan atas dasar rasa kekeluargaan, kebersamaan, keterbukaan, dan keteladanan.
D. Instrumen
Instrumen diperlukan untuk menjaga profesionalisme dan objektivitas dalam pelaksanaan supervisi.
D.1. Instrumen Perangkat Pembelajaran
D.2. Instrumen Persiapan Pembelajaran
D.3. Instrumen Pelaksanaan Pembelajaran
E. Laporan dan Tindak Lanjut
agar terlaksana Kegiatan Supervisi dengan baik tentunya harus dibuatkan
1. SK Pelaksana Supervisi Akademik
2. Jadwal Supervisi Akademik
3. Instrumen Supervisi
4. Tindak Lanjut Supervisi

sumber :

http://gusppy.blogspot.co.id/2010/04/supervisi-kelas.html

PKL PADA KURIKULUM 2017

Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah kegiatan wajib bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu kegiatan belajar dengan objek dan tempat langsung di Dunia Usaha / Dunia Industri. Dalam Kurikulum 2013 (rev 2017) pelaksanaan PKL selama 120 hari / 24 minggu / 6 Bulan.

Proses Pembelajaran di dunia kerja (DUDI) disebut dengan Praktik kerja lapangan (PKL) untuk
penerapan, pemantapan, dan peningkatan kompetensi. Pelaksanaan PKL melibatkan praktisi
ahli yang berpengalaman di bidangnya melalui pembimbingan praktik.

A. Dasar Hukum

  1. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  2. PP No. 19 Tahun 2005 yang terakhir diubah dengan PP No. 13 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan.
  3. PP RI No. 17 Tahun 2010 yang telah diubah dengan PP RI No. 66 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
  4. PP RI No. 41 Tahun 2015 tentang Pembangunan Sumber Daya Industri.
  5. Perpres No. 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI);
  6. Inpres No. 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia.
  7. Permen Perindustrian No. 03/M-IND/PER/1/2017 tentang Pedoman Pembinaan dan
    Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan Berbasis Kompetensi yang Link and Match
    dengan Industri.
  8. Permen Tenaga Kerja No. 36 tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pemangangan di Dalam Negeri.
  9. Permen Pendidikan dan Kebudayaan No…. tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Menengah Kejuruan.
  10. Keputusan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud No. 4678/D/KEP/MK/2016 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan.
  11. Keputusan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud No. 130/D/KEP/KR/2017 tentang Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah Kejuruan.

B. Tujuan PKL

  1. Memberikan pengalaman kerja langsung (real) untuk menanamkan (internalize) iklim kerja positif yang berorientasi pada peduli mutu proses dan hasil kerja.
  2. Menanamkan etos kerja yang tinggi bagi peserta didik untuk memasuki dunia kerja menghadapi tuntutan pasar kerja global.
  3. Memenuhui hal-hal yang belum dipenuhi di sekolah agar mencapai keutuhan standar kompetensi lulusan.
  4. Mengaktualisasikan penyelenggaraan Model Pendidikan Sistem Ganda (PSG) antara SMK dan Institusi Pasangan (DUDI), memadukan secara sistematis dan sistemik program pendidikan di SMK dan program latihan di dunia kerja (DUDI).

C. Manfaat PKL

C.1. Bagi Peserta Didik

  1. Mengaplikasikan dan meningkatkan ilmu yang telah diperoleh di sekolah.
  2. Menambah wawasan dunia kerja, iklim kerja positif yang berorientasi pada peduli mutu proses dan hasil kerja.
  3. Menambah dan meningkatkan kompetensi serta dapat menamkan etos kerja yang tinggi.
  4. Memiliki kemampuan produktif sesuai dengan kompetensi keahlian yang dipelajari ditempat PKL
  5. Mengembangkan kemampuannya sesuai dengan bimbingan/ arahan pembimbing industri

C.2. Bagi Sekolah

  1. Terjalinnya hubungan kerjasama yang saling menguntungkan antara sekolah dengan duni kerja (perusahaan)
  2. Meningkatkan kualitas lulusannya melalui pengalaman kerja selama PKL.
  3. Mengembangkan program sekolah melalui sinkronisasi kurikulum, proses pembelajaran, teaching factory, dan pengembangan sarana dan prasarana praktik berdasarkan hasil pengamatan di tempat PKL.
  4. Meningkatkan kualitas lulusan

C.3. Bagi DU/DI

  1. Dunia Kerja (DUDI) lebih dikenal oleh masyarakat sekolah sehingga dapat membantu promosi produk.
  2. Adanya masukan yang positif dan konstruktif dari SMK untuk perkembangan DUDI.
  3. Dunia kerja/DUDI dapat mengembangkan proses dan atau produk melalui optimalisasi peserta PKL.
  4. Mendapatkan calon tenaga kerja yang berkualitas sesuai dengan kebutuhannya.
  5. Meningkatkan citra positif DUDI sebagai bentuk implementasi dari Inpres No 9 tahun 2016

D. Fungsi PKL

  1. Pemantapan Kompetensi . Pembelajaran di SMK belum memenuhi standar indusri, dilihat dari ketersediaan jenis dan jumlah peralatan, kompetensi pengajar, kondisi dan situasi belajar, dan situasi melayani konsumen secara langsung.
  2. Realisasi Pendidikan Sistim Ganda (PSG). Aktualisasi PSG, SMK bermitra dengan DUDI. SMK yang melakukan memorandum of understanding (MoU) dengan DUDI dalam pelaksanaan pembelajaran: SMK PIKA Semarang, SMK Negeri 1 Singosari Malang yang membuka kelas ASTRA, SMK N 3 Banduran Sidoarjo (STM Perkapalan) dengan PT PAL Indonesia dan lain-lain

E. Pelaksanaan PKL

1. Pola harian (120-200 hari efektif).
>> 5 hari x 4 minggu x 6 bulan (120 hari)
>> 5 hari x 4 minggu x 10 bulan (200 hari).
2. Pola mingguan (24-40 minggu).
>> 4 minggu x 6 bulan (24 minggu)
>> 4 minggu x 10 bulan (40 minggu).
3. Pola bulanan (6-10 bulan).
Penyelenggaraan PKL pola bulanan ini dilakukan dengan cara mendistribusikan 6-10 bulan siswa mengikuti PKL ke dalam bulan efektif pembelajaran.

 

Demikian uraian tentang PKL semoga bermanfaat

sumber tulisan :

Pedoman PKL dari Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan 2017

MEMANAGE HOBBY SELFIE DALAM DUNIA EDUKASI

Selfie atau Swafoto (lebih dikenal foto narsis)adalah memfoto diri sendiri dengan kamera atau mengarahkan foto ke arah sendiri. Jika sudah ramai-ramai, disebut groufie (group selfies). Fenomena narsis ini dilakukan dengan menshare/ memamerkan tempat mereka kunjungi, kecantikan dan ketampanannya ke media sosial seperti facebook, Path, BBM, Twitter atau Instagram dengan berbagai tujuan antara lain show up aktivitas atau menunjukkan kelebihan dengan rasa percaya diri untuk mendapat pujian atau sanjungan.

Pada tahun 2013, kata selfie secara resmi tercantum dalam Oxford English Dictionary versi daring, dan bulan November 2013, Oxford Dictionary menobatkan kata ini sebagai Word of the Year tahun 2013, menyatakan bahwa kata ini berasal dari Australia. Awal penggunaan kata selfie terjadi pada tahun 2002. Kata ini pertama kali muncul dalam sebuah forum Internet Australia (ABC Online) pada tanggal 13 September 2002.

Gwendolyn Seidman, associate professor di Albright College telah melakukan penelitian dengan hasil  menunjukkan bahwa baik narsisme dan self-objectification (kecenderungan takjub pada diri sendiri) terkait dengan menghabiskan waktu lebih banyak di media sosial, juga kekerapan mengedit foto. Mengunggah foto selfie secara sering juga berhubungan dengan tingginya tingkat narsisme dan kecenderungan psikopat.

 

Dr. Pamela Rutledge, Director Media Psychology Research Centre, seperti dikutip dari Mashable.com, malah berucap, “Berkaca dan memotret diri sendiri atauselfie adalah dua hal yang berbeda. Dengan mematut diri di depan kaca menimbulkan pergerakan yang nyata, sedangkan selfie lebih kepada imaji yang Anda ciptakan sendiri demi mendapatkan perhatian dari orang lain. Hal yang demikian menunjukkan seseorang yang kesepian, butuh pengakuan, selalu ingin menjadi pusat perhatian dan biasanya tidak terlalu pintar.”

Dr. David Veale, psikiater dari  London, menyampaikan pada The Sunday Mirror: “Dua dari Tiga pasien yang datang kepada saya dengan Body Dysmorphic Disorder (BDD) sejak ramainya handphone berkamera, mereka secara konsisten terus-menerus mengambil gambar secara selfie dan memgunggahnya di media sosial”

Selfie/groufie dapat menghilangkan esensi dari tujuan awal dalam mengerjakan sesuatu. contohnya, orang berbagi makanan dengan anak yatim, melakukan ibadah tahajud di malam hari, mengikuti pengajian, orang naik haji atau umrah yang sebenarnya niat untuk ibadah, akhirnya jadi ajang selfie dan pamer-pameran berlebihan sehingga esensi ibadahnya seolah-olah tertutupi dengaan oleh aktivitas foto yang berlebihan.

Sebenarnya hobi selfie dapat kita arahkan agar menjadi kegiatan yang bermutu, berkualitas dan memiliki nilai edukasi/edukatif.  caranya adalah

  1. Kurangi selfie yang menonjolkan aktivitas fisik yang cenderung tidak natural seperti bibir dibulatkan/monyong, lidah dijulurkan atau mata diposekan menggoda dan lain-lain.
  2. Dalam foto selfie tunjukan aktivitas anda sertai keterangan yang menunjukkan nilai positif dari kegiatan yang kita lakukan sehingga orang tidak hanya melihat foto tetapi juga menyimak tulisan kita.
  3. Background dimana anda sedang berada atau objek yang sedang bersama anda dieksploitasi lagi sehingga menjadi berita atau informasi positif dan bermanfaat.  Ini sekaligus akan menambah informasi publik tentang foto selfie anda.
  4. dalam bidang pendidikan selfie anak didik dapat digunakan untuk memotivasi siswa agar berkompetisi secara sehat agar menghasilkan karya yang baik, dengan cara karya terbaik kita foto dengan pembuat dengan catatan nama tugas dan nilai serta manfaat tugas tetap dimunculkan

contoh ketika anda berpose dalam suatu kegiatan jelaskan kegiatan apa dan manfaat apa yang kita peroleh dengan mengikuti kegiatan tersebut

lagi diklat peningkatan kompetensi guru adaptif nih di Best Hotel Jl. Kedungsari 19 Surabaya 4 – 7 Nopember 2017 semoga setelah kegiatan ini saya menjadi master dalam simulasi dan komunikasi digital dan mampu merangsang motivasi anak untuk belajar lebih giat lagi

 

ketika berkunjung ke tempat liburan, jelaskan informasi tentang tempat liburan itu dan mengapa anda berlibur ke sana siapa tahu anda ke depan menjadi seorang travel blogger sebaliknya ketika ditempat kuliner, anda juga bisa mempromosikan jenis kuliner disertai kandungan gizi dari kuliner tersebut. Bagi yang hobi memasak bisa juga selfie dengan makanan dan jelaskan pada publik nama makanannya, makanan khas daerah mana dan cara membuatnya.

 

Kalau kegiatan yang anda lakukan termasuk kegiatan ibadah, ya sebaiknya selfie benar-benar dikurangi dan kalaupun terpaksa berikan informasi tentang ibadah itu misalnya hukum ibadah itu, berdoa sesuai kegiatan ibadah itu sehingga nilai dakwahnya lebih menonjol daripada foto itu sendiri. Tentu ini semua lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan terutama kaum hawa dan selfie holik, semoga kita semua dapat memperoleh manfaat dari informasi sekecil apapun termasuk saya sendiri sebagai penulis.

Bagi kaum Muslimah khususnya sebaiknya menyadari bahwa usaha terlihat cantik, mati-matian cari perhatian dan komentar dengan foto selfienya, dengan berbagai macam pose, mimik, dan gaya, apabila bertujuan untuk riya, pamer sombong dan apalagi  demi menarik perhatian laki-laki lain (terutama bagi yg sdh bersuami) tentunya bertentangan dengan Firman Allah berpesan pada Muslimah, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka tundukkan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya’…” (QS 24:31)

Perintah Allah sudah jelas, bahwa wanita harus menjaga diri mereka, menjaga rasa malu dan kemaluan, tidak justru menampakkan perhiasannya, atau bahkan memamerkan dirinya pada publik. Dalam ayat yang lain Allah menyinggung pula  perilaku tabarruj, yaitu segala sesuatu tindakan berhias yang ditujukan agar diperhatikan oleh lelaki.

“dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS 33:33)

Menurut Ibnu Mandzur, arti tabarruj adalah wanita yang memperlihatkan keindahan dan perhiasannya dengan sengaja kepada lelaki.

Sampai disini saja, kita semua harus bermuhasabah, memang ini perkara amalan hati, namun alangkah baiknya bila kita bertanya pada diri sendiri, apakah amanah yang Allah pinta untuk kita jaga itu, rasa malu itu sudah kita tunaikan? Ataukah kita menggerusnya terus-menerus dengan melatih memamerkan diri kita pada oranglain? Salah satunya dengan selfie?

 sumber :