MGMP DAN EFEKTIFITAS KBM

Pandangan Umum

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) saat ini menjadi kegiatan yang penting untuk dilakukan demi penguatan kompetensi Guru , Penilaian Kinerja Guru dan Bukti keaktifan guru dalam komunitas SIM PKB.

Seiring ramainya aktivitas MGMP ini timbul juga masalah baru yaitu pendanaan kegiatan dan aktivitas guru mengajar di sekolah yang berkurang. Apabila semua koordinator mewajibkan kehadiran anggotanya sebulan sekali di seluruh kegiatan MGMP berarti betapa banyak kelas yang akan kehilangan guru dalam satu bulan pembelajaran. Tentunya hal ini harus kita pikirkan dengan matang beberapa masukan seperti

  1. cukup perwakilan guru dari satu sekolah untuk satu mapel
  2. penggunaan dunia IT atau dunia dalam berkomunikasi untuk mengurangi pertemuan fisik yang justru menyebabkan kekosongan kelas dan
  3. kegiatan mgmp cukup 2 bulan sekali saja. 
  4. Laporan kegiatan yang jelas sehingga MGMP memiliki program dan tujuan yang nyata dan efektif
  5. kesepakatan guru mapel untuk memiliki hari kosong mengajar sehingga MGMP tidak mengorbankan kegiatan belajar mengajar di kelas

Latar Belakang 

Para peneliti bersepakat menyatakan bahwa jika guru semakin kuat  berkolaborasi   dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Yvonne L. Goddard Roger D. Goddard (2001) menyitir hasil studi Hausman dan Goldring (2001), dalam kolaborsinya guru harus memusatkan perhatian terhadap perubahan yang berarti terhadap sekolah. Karena itu,  kita memiliki keyakinan kegiatan guru dalam  MGMP agar dapat meningkatkan daya kolaborasinya semakin diperlukan agar mereka makin baik dalam melaksanakan pembelajaran.

Namun   Roger juga  menyandarkan pikirannya pada  pernyataan Evans-Stout (1998), menegaskan bahwa kita masih tidak memiliki banyak bukti bahwa kolaborasi guru dapat meningkatkan penguasaan pengetahuan dan keterampillan melaksanakan mengajarnya, namun tak cukup punya bukti hal itu berpengaruh terhadap peningkatan efektivitas siswa balajar. Hal ini berarti bahwa kita lebih fokus pada pengembangan program peningkatan keprofesian guru, namun kurang peduli  untuk mengamati guru melaksanakan tugas setelah mereka belajar di MGMP.

Tantangan MGMP?

Peran MGMP saat ini semakin strategis sesuai dengan kebijakan Kemendikbud Bpk Muhajir Efendi yang banyak melibatkan pengurus MGMP dalam pengembangan profesi. Salah satunya dalam program program guru pembelajar. Di samping itu, meningkatkan kompetensi untuk menunjang pelaksanaan Kurikulum 2013. Hal penting lain yaitu pengembangan keprofesian seperti meningkatkan kemampuan guru dalam merefleksikan masalah sebagai dasar penelitian tindakan kelas, merumuskan best practice, dan mengembangkan karya inovatif. Dalam program literasi, para guru juga mendapat tantangan menerapkan teknologi informasi dan komuniasi yang dipuncaki dengan ujian nasional berbasis computer (UNBK). Yang telah menjadi Belakangan tak kalah penting adalah Yang kini tak kalah gencar dihadapi guru adalah penililaian prestasi kerja.

Dalam pengembangan peran MGMP  perlu memperhatikan beberapa kebutuhan strategis yaitu meningkatkan daya kolaborasi guru merumuskan agenda prioritas dalam meningkatkan:

  1. Kompetensi guru dengan prioritas pada penguatan pengetahuan pedagogik dan profesional, di antaranya, beraktivitas dalam program guru pembelajar.
  2.  Keterampilan mempraktikan kompetensi yang telah dikuasainya pada praktif perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian dalam mendukung keberhasilan implementasi K13.
  3.  Keterampilan mengembangkan kaya tulis ilmiah sebagai tindak lanjut memperbaiki proses perja melalui pemecahan masalah yang muncul dari pelaksanaan tugas dalam kelas.
  4.  Keterampilan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi dalam menunjang peningkatan daya literasi sekaligus melek teknologi.
  5.  Keterampilan mengembangkan sasaran kerja pegawai dan menilai prestasi kerja agar kesungguhan dalam melaksanakan tugasnya berdampak terhadap peningkatan karier.

Bagaimana MGMP Berperan?

Arah pengembangan kegiatan MGMP pada dasarnya meningkatkan mutu pendidik dalam pememenuhan standari nasional pendidikan. Berdasarkan berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses perbaikan mutu pendidikan melalui pendekatan problem solving, guru dalam MGMP perlu berkolaborasi untuk mengidentifikasi hal-hal berikut:

  1.  Mengembangkan stuktur organisasi sesuai dengan sumber daya yang dimiliki dan kebutuhan pengembangan program.
  2. Analisis kondisi nyata dalam berbagai tantang nyata dan kondisi yang diharapkan pada tiap bidang prioritas. Dalam hal ini harus tergambar
  3. Mendeskripsikan masalah yang menjadi fokus perbaikan mutu.
  4.  Merumuskan tujuan dan target pencapaian dalam kurun waktu yang terbatas.
  5. Menetapkan lembar instumen evaluasi untuk mengukur keberhasilan program.
  6. Menganalisis kebutuhan sumber daya manusia, teknologi, sarana prasarana pendukung sesuai dengan kebutuhan mewujudkan tujuan MGMP.
  7. Menetapkan strategi memecahkan masalah yang menjadi fokus penguatan kolaborasi guru dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
  8. Menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan yang ditandai dengan tersusunnya bukti fisik seperti administrsi persiapan, proposal, undangan, daftar hadir, materi kegaitan, jurnal kegiatan, dan foto kegaitan, atau video.
  9. Menggunakan instumen evaluasi untuk mengukur keberhasilan mencapai tujuan.
  10. Merumuskan dan menyampaikan laporan kegiatan

Langkah penting selanjutnya adalah tindak lanjut dengan perumusan masalah dan alternatif solusi untuk menyelesaikannya melalui pengembangan proyek berbasis masalah. Dalam proses ini sangat penting para guru untuk membedakan antara gejala dengan masalah. Contoh, jika para guru mendapatkan fakta bahwa para siswa sulit  mewujudkan kegiatan menanya dalam proses pembelajaran, maka bisa jadi hal ini bukan masalah melainkan gejalan. Masalahnya  bisa jadi berupa guru belum terampil mengembangkan kompetensi siswa menanya atau merumuskan masalah yang ingin dipelajarinya. Jika muncul maslalah seperti ini, maka MGMP akan menjawab dengan meningkatkan keterampilan guru menerapakan metode problem solving. 

Bagaimana Seharusnya Pelaksanaan Kegiatan MGMP?

Kegiatan MGMP pada prinsipnya seminimal mungkin mengganggu tugas guru melaksanakan tugas mengajar. Oleh karena itu, jadwal kegiatan semestinya pengaturannya setelah kegiatan kegiatan mengajar. Jika hal itu tidak dapat dilaksanakan, maka dipilih waktu yang paling kecil gangguannya terhadap belajar siswa. Oleh karena itu Kemendikbud mengatur kegaitan MGMP paling banyak 12 kali pertemuan dalam setahun dibagi dalam tiga kelompok kegaitan dengan masing-masing terdiri atas 3 pertemuan dengan nilai kredit 1.5.

Untuk meminimalkan gangguan terhadap kegiatan siswa maka kolaborasi guru dengan dukungan akses internet akan sangat membantu guru melakukan kolaborasi dari mana saja, dan kapan saja. Model ini di Indonesia populer dengan istilah moda daring. Kombinasi antara moda daring dengan tatap muka akan membantu guru meningkatkan kolaborasinya.

Bagaimana Meningkatkan Penjaminan Mutu MGMP?

Efektifnya kegiatan MGMP dapat dilihat dari dua faktor yaitu efektif pengelolaan dan dampak terhadap hasil belajar siswa dalam kelas. Efektivitas pengelolaan menyangkut sistem  perumusan rencana yang relevan dengan kebutuhan peningkatan mutu pembelajaran, implementasi kegiatan sesuai dengan rencana perubahan dalam program, dan target mutu serta kriteria yang direncanakan tercapai. Poros keberhasilan  pengelolaan jika kegaitan MGMP berdampak pada peningkatan kompetensi guru, baik dalam ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilannya. Mengukur efektivitas ini menjadid tanggung jawab pengurus sebagai akuntabilitas internal  pelaksana kegiatan.

Akuntabilitas eksternal kegiatan MGMP dapat dilihat dari dampak penguatan kompetensi terhadap peningkatan mutu pelaksanaan kegaitan mengajar yang dilaksanakan guru dalam kelas. Setiap bertambahnya ilmu pengetahuan dan ketampilan, tidak hanya untuk meningkatkan derajat kepandaian guru namun bermanfaat dalam memfasilitasi siswa belajar. Guru pembelajar di yang baik di MGMP adalah yang berpengaruh baik terhadap pencapaian kompetensi siswa dalam pembelajaran.

Referensi: 

  • Brooks, Charmaine; Gibson, Susan, Professional Learning in a Digital Age Canadian Journal of Learning and Technology, v38 n2 Sum 2012 http://eric.ed.gov/?q=Teaching+as+the+Learning+Profession&ft=on&pg=3&id=EJ981798
  • Yvonne L. Goddard Roger D. Goddard . A Theoretical and Empirical Investigation of Teacher Collaboration for School Improvement and Student Achievement in Public Elementary Schools, University of Michigan Megan, Teachers College Record Volume 109, Number 4, April 2007, pp. 877–896 Copyright © by Teachers College, Columbia University 0161-4681. http://www.tncore.org/sites/www/Uploads/leadership_courses/ILC%20Class%201/Goddard%20et%20al%202007%20-%20Teacher%20Collaboration%20for%20School%20Improvement.pdf
  • http://gurupembaharu.com/pemberdayaan-mgmp-pemenuhan-mutu-guru/
Advertisements

CONTOH SOAL HOTS

Berikut ini contoh soal-soal HOTS berdasarkan modul penyusunan SOAL HOTS dari Dirjen PSMA

1. SOAL HOTS Kimia
“menggunakan stimulus data untuk memecahkan masalah”
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : XII/1
Kurikulum : Kurikulum 2013

Kompetensi Dasar : 3.8 Menganalisis kelimpahan, kecenderungan sifat fisikadan kimia, manfaat,dan proses pembuatan unsur-unsur periode 3 dan golongan transisi (periode4)
Materi : Sifat-sifat unsur periode ketiga
Indikator Soal : Disajikan tiga unsur periode ketiga dan data hasil percobaan reaksinya, peserta didik dapat menentukan dengan tepat urutan sifat reduktor dari sifat reduktor yang paling lemah ke sifat reduktor yang paling kuat.
Level Kognitif : Penalaran (C4)

Daya pereduksi dan daya pengoksidasi berkaitan dengan kecenderungan melepas atau menyerap elektron.Zat pereduksi (reduktor) melepas elektron pada reaksi redoks, sedangkan zat pengoksidasi (oksidator) menyerap elektron.Jadi, makin mudah suatu spesi melepas elektron makin kuat daya pereduksinya.Sebaliknya, makin kuat menyerap elektron makin kuat daya pengoksidasinya.Makin besar (makin positif) harga potensial elektrode, makin mudah mengalami reduksi, sebaliknya makin kecil (makin negatif) harga potensial elektrode, makin mudah teroksidasi.Harga potensial elektrode dari beberapa unsur periode ketiga adalah sebagai berikut.
Na+ (aq) + e ↔ Na(s) E0 = -2,71 volt
Mg2+ (aq) + 2e ↔ Mg (s) E0 = -2,37 volt
Al3+ (aq) + 3e ↔ Al (s) E0 = -1,66 volt
CI2 (g) + 2e ↔ 2Cl– (aq) E0 = + 1,36 volt
Diketahui unsur X, Y, danZ merupakan unsur periode ketiga.Berikut merupakan data hasil reaksi ketiga unsur tersebut sebagai berikut :
1) Unsur X dapat larut dalam larutan HCl maupun dalam larutan NaOH.
2) Unsur Y dapat bereaksi dengan air membebaskan hidrogen,
3) Sedangkan unsur Z tidak bereaksi dengan air tetapi oksidanya dalam air dapat memerahkan lakmus biru.
Urutan sifat reduktor dari yang paling lemah ke yang paling kuat adalah….
a. X, Y, Z
b. X, Z, Y
c. Z, X, Y
d. X, Z, X
e. Y, X, Z
Kunci/Pedoman Penskoran: C
Unsur X dapat bereaksi dengan larutan asam maupun basa, berarti unsur X bersifat amfoter (sesuai dengan sifat unsur Al).
Unsur Y dapat bereaksi dengan air membebaskan hidrogen, berarti unsur B memiliki sifat redutor yang kuat dan terletak bagian kiri dalam periode ketiga (sesuai dengan sifat Na)
Oksida unsur Z dalam air memerahkan lakmus biru berarti berifat asam, berarti dalam periode ketiga terletak bagian kanan (sesuai dengan unsur (P, S dan Cl)
Sehingga letak ketiga unsur tersebut dalam system periodic adalah : Y-X-Z, sifat reduktor Y > X > Z, sehingga urutannya dari sifat reduktor yang lemah ke sifat reduktor yang lebih kuat adalah : Z < X < Y
Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena mengukur kemampuan peserta didik dalam:
1) menelaah data percobaan sifat unsur berdasarkan hasil reaksi secara kritis,
2) memproses dan menerapkan informasi hasil reaksi,
3) menggunakandata percobaan untuk menyimpulkan urutan kekuatan sifat reduktor dari yang lemah ke yang lebih kuat.

2 . SOAL FISIKA
Mata Pelajaran : FISIKA
Kelas/Semester : XI/1
Kurikulum : 2013
Kompetensi Dasar : Menganalisis cara kerja alat optik menggunakan sifat pemantulan dan pembiasan cahaya oleh cermin dan lensa.
Materi : Mata dan kaca mata.
Indikator Soal : Disajikan gambar salah satu cacat mata dan data titik dekatnya, siswa dapat menganalisis gambar dan data tersebut untuk menentukan jarak benda dari mata.
Level Kognitif : Penalaran
Soal:
1. Berikut ini disajikan gambar perjalanan sinar pada mata.

Budi dan Andi menderita cacat mata seperti gambar.Budi ingin meminjam kaca mata Andi. Budi dapat membaca tanpa kacamata pada jarak 100 cm sedangkan Andi mampu membaca tanpa kacamata pada jarak 50 cm. Agar dapat membaca buku dengan jelas, Budi bermaksud meminjam kacamata Andi. Pada jarak berapakah Budi harus meletakkan buku tersebut agar dapat membaca dengan jelas memakai kacamata Andi?
A. 25 cm
B. 30 cm
C. 33 cm
D. 40 cm
E. 50 cm
Kunci/Pedoman Penskoran: C
Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena:
1. Stimulus yang disajikan kontekstual dan menarik (baru, belum pernah dimuat dalam buku-buku atau kumpulan soal sebelumnya).
2. Untuk menjawab soal di atas, siswa harus memahami konsep miopi dan hipermetropi berdasarkan sinar yang jatuh ke mata sesuai gambar yang diberikan.Selanjutnya siswa harus menganalisis konsep menentukan kekuatan kacamata yg harus digunakan pada seseorang yang menderita cacat mata, sehinggaakhirnya siswa dapat menentukan jarak buku harus diletakkan agar terbaca dengan jelas

3. Soal Seni Budaya

Mata Pelajaran : Seni Budaya
Kelas/Semester : X/ 1
Kurikulum : 2013
Kompetensi Dasar : Memahami karya musik berdasarkan simbol, jenis nilai estetis dan fungsinya.
Materi : Tangga nada.
Indikator Soal :
Diberikan tangga nada C Mayor dan gambar tuts piano, peserta didik dapat menganalisis susunan tangga nada E Mayor.
Level Kognitif : Penalaran
Soal:
Perhatikan gambar berikut!


Dengan mengamati tangga nada C Mayor di atas, nada–nada manakah yang tepat dinaikkan setengah nada untuk tangga nada E mayor?
A. F – G – A – B
B. F – G – B – C
C. F – G – C – D
D. F – G – E – D
E. F – G – B – D
Kunci/Pedoman Penskoran: C
Keterangan:
Soal di atas dikategorikan soal HOTS karena:
1. Stimulus yang disajikan kontekstual, menarik karena sangat dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari.
2. Untuk dapat menjawab soal di atas, dari pedoman tangga nada C Mayor di atas, terlebih dahulu peserta didik harus menyusun tangga nada E mayor dengan benar sehingga akan mengetahui nada–nada apa saja yang harus dinaikkan setengah nada agar jaraknya sama dengan jarak C Mayor sehingga menghasilkan nada yang tidak fals.

4. contoh soal Sejarah

Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia
Kelas/Semester : X/2
Kurikulum : 2013
Kompetensi Dasar  : Menganalisis perkembangan kehidupan masyarakat, pemerintahan, dan budaya pada masa kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha di Indonesia serta menunjukkan contoh bukti-bukti yang masih berlaku pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini.
Materi : Bukti-bukti kehidupan pengaruh Hindu dan Buddha yang masih ada sampai masa kini.
Indikator Soal : Disajikan wacana tentang asal usul Wayang dan sejarah perkembangannya, peserta didik dapat menganalisis adanya akulturasi di bidang seni budaya antara kebudayaan lokal dan kebudayaan Hindu Budhayangmasih ada pada masyarakat Indonesia masa kini.
Level Kognitif : Penalaran
Perhatikan wacana di bawah ini!

Asal Usul Wayang dan Sejarah Perkembangannya
Wayang adalah sebuah seni pertunjukkan Indonesia yang berkembang pesat dan telah diakui dunia karena keunikan yang dimilikinya. Sama seperti Batik, UNESCO pada 7 November 2003 juga telah menobatkan wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur asli Indonesia. Seni pertunjukan wayang sendiri disukai oleh semua lapisan masyarakat.Bukan hanya di Jawa, kini wayang juga akrab dan sering disajikan di acara-acara sakral di seluruh dunia. Adapun bagi Anda yang ingin tahu seperti apa sejarah dan asal usul Wayang beserta perkembangannya hingga saat ini, simaklah pemaparan kami berikut! Asal usul Wayang ditinjau dari sejarah yang ada, asal usul Wayang dianggap telah hadir semenjak 1500 tahun sebelum Masehi.Wayang lahir dari para cendikia nenek moyang suku Jawa di masa silam.Pada masa itu, wayang diperkirakan hanya terbuat dari rerumputan yang diikat sehingga bentuknya masih sangat sederhana.Wayang dimainkan dalam ritual pemujaan roh nenek moyang dan dalam upacara-upacara adat Jawa.Pada periode selanjutnya, penggunaan bahan-bahan lain seperti kulit binatang buruan atau kulit kayu mulai dikenal dalam pembuatan wayang.Adapun wayang kulit tertua yang pernah ditemukan diperkirakan berasal dari abad ke 2 Masehi.
http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/10/asal-usul-wayang-dan-sejarah.html
Soal:
Unsur akulturasi dalam wacana di atas adalah….
A. kisah Mahabarata dan Ramayana berbentuk kakawin.
B. cerita Wayang terdiri dari kisah Mahabarata dan Ramayana.
C. dalam cerita pewayangan munculnya tokoh tokoh punakawan.
D. wayang hanya di pertunjukkan dalam kegiatan upacara tertentu. E. wayangsendiri telah hadir semenjak 1500 tahun sebelum Masehi.
Kunci Jawaban: D

Keterangan:
Soal HOTS karena:
1) Stimulusnya kontekstual dan menarik, karena sesuai dengan dinamika masyarakat Indonesia saat ini.
2) Agar dapat menentukan unsur akulturasi, peserta didik harus memahami unsur budaya lokal, budaya asing, dan budaya baru yang timbul.
3) Untuk menentukan unsur akulturasi, peserta didik harus menganalisis unsur-unsur akulturasi dalam berbagai tradisi budaya yang ada di Indonesia.

 

PANDUAN PENYUSUNAN SOAL HOTS

Higher Order of Thinking Skill (HOTS) adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif. Berfikir tingkat tinggi merupakan kemampuan berfikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite).

Apa yang dimaksud berfikir?
• Menemukan
• Menganalisis
• Mencipta
• Merefleksi
• Beragumen

Berfikir Kritis adalah berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah: termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan .

Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang diberikan dan mampu menentukan nketidak-konsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir kritis. Dengan kata lain berfikir kritis adalah analitis dan refleksif.

Berfikir kreatif yang sifatnya orisinil dan reflektif . Hasil dari keterampilan
berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang dilakukan diantaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya. Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.

Mengetahui arti dari kata yang jarang digunakan mungkin sulit, tetapi ini bukanlah Higher-Order Thinking kecuali melibatkan proses bernalar (seperti mencari arti dari konteks/stimulus). Jadi jangan diartikan bahwa soal HOTS adalah membuat soal yang sulit.

Higher-order thinking berarti meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan.

Penekanannya pada:

  • Mentransfer dari satu konteks ke konteks lain;
  • Memproses dan menerapkan informasi;
  • Melihat hubungan antara informasi yang berbeda;
  • Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah;
  • Menguji gagasan dan informasi secara kritis.

Dimensi proses kognitif HOTS

Sumber Anderson and Krathwohl (2001)

Level Kognitif

NO. LEVEL KOGNITIF KARAKTERISTIK SOAL
1. Pengetahuan dan

Pemahaman

Mengukur pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural.
2. Aplikasi §Menggunakan pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural tertentu pada konsep lain dalam mapel yang sama atau mapel lainnya;

§Menggunakan pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural tertentu untuk menyelesaikan masalah kontekstual (situasi lain unfamiliar).

3. Penalaran Menggunakan penalaran dan logika untuk:

Mengambil keputusan (evaluasi)

Memprediksi & Refleksi

Menyusun strategi baru untuk memecahkan masalah

 

TIPS menyusun soal HOTS

  1. Gunakan konteks dunia nyata
  2. berikan pertanyaan yang terkait analisis visual
  3. Menanyakan alasan dari jawab yang diberikan

Hal yang penting dalam menulis soal HOTS

  1. Kesesuaian materi dengan indikator soal
  2. penggunaan stimulus agar materi menjadi menarik
  3. periksa kembali apakah stimulus bermanfaat, merefleksikan kurikulum, relevan dan menimbulkan pertanyaan yang penting
  4. Soal HOTS meliputi ranah C4 menganalisis, , C5 mengevaluasi dan C6 mengkreasi
  5. khusus pilihan ganda haruslah dipenuhi unsur ekstensif (jangkauan luas), ketat (teliti, cermat dan rapi), dipanelkan

Karakteristik Soal HOTS

1. Mengukur kemampuan berfikir tingkat tinggi

Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen  (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap peserta didik.
Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS, terdiri atas:
a. kemampuan menyelesaikan permasalahan yang tidak familiar;
b. kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda;
c. menemukan model-model penyelesaian baru yang berbeda dengan cara-cara sebelumnya

2. berbasis permasalahan kontekstual

Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam pengertian tersebut termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply)dan mengintegrasikan(integrate) ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata.

lima karakteristik asesmen kontekstual, yang disingkat REACT.
a. Relating, asesmen terkait langsung dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
b. Experiencing, asesmen yang ditekankan kepada penggalian (exploration), penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).
c. Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata.
d. Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mampu mengomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah.
e. Transfering, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mentransformasi konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi atau konteks baru

3. menggunakan bentuk soal beragam

Pada umumnya soal-soal HOTS menggunakan stimulus yang bersumber pada situasi nyata.Soal pilihan ganda terdiri dari pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option).Pilihan jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh (distractor).Kunci jawaban ialah jawaban yang benar atau paling benar.Pengecoh merupakan jawaban yang tidak benar, namun memungkinkan seseorang terkecoh untuk memilihnya apabila tidak menguasai bahannya/materi pelajarannya dengan baik.Jawaban yang diharapkan (kunci jawaban), umumnya tidak termuat secara eksplisit dalam stimulus atau bacaan. Peserta didik diminta untuk menemukan jawaban soal yang terkait dengan stimulus/bacaan menggunakan konsep-konsep pengetahuan yang dimiliki serta menggunakan logika/penalaran

sumber

  1. Panduan penulisan SOAL HOTS (PPT) dari ditjen psma
  2. modul penyusunan soal HOTS

TATA KRAMA DAN SOPAN SANTUN

Secara Bahasa sopan santun adalah peraturan hidup yang timbul  dari hasil pergaulan sekelompok. Norma kesopanan, artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbeda-beda diberbagai tempat, lingkungan, atau waktu.

Secara istilah Sopan santun adalah suatu sikap atau tingkah laku yang ramah terhadap orang lain, sopan santun juga dapat dipandang oleh suatu masyarakat mungkin sebaliknya masyarakat juga dapat di pandang oleh masyarakat lain atau kekerabatan/persanakan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Sopan santun adalah budi pekerti yang baik, tata krama, peradaban, kesusilaan, dalam pergaulan sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat

Perkembangan teknologi menjadi kita dengan mudah berkomunikasi satu sama lain sebagai sesama makhluk sosial, namun sering kali dengan kemajuan teknologi kita lupa untuk menjaga sopan santun dan tata krama dalam pergaulan.

contoh dalam perilaku bermedia sosial terkadang kita lupa bahwa lawan bicara kita lebih tua atau bahkan guru kita sendiri sehingga kita hanya menyebutkan mereka dengan tag / # saja tanpa embel embel derajat lawan bicara seperti bapak/ibu/mas dll. oleh karenanya kita tetap harus menjaga keluhuran akal kita dalam berkomunikasi baik di media sosial ataupun di dunia nyata.

manusia adalah hayawanun nathiq (makhluk nidup yang berakal) maka pada saat sifat nâthiq itu hilang dari diri manusia ia tidak lagi bisa disebut manusia yang tersisa hanyalah sifat hewaninya.

Pada dasarnya setiap kali akal seseorang meningkat maka meningkat pula adab dan sopan santunnya, sehingga dia akan mengetahui kapan seharusnya melakukan suatu perbuatan dan kapan tidak harus melakukannya. Dari sini jelaslah bahwa adab buruk menunjukkan pada ketiadaaan akal, atau dengan kata lain adab buruk adalah perbuatan binatang, sedang adab baik adalah perbuatan manusia.

Islam juga menganjurkan agar dalam bergaul dengan orang lain hendaknya disertai dengan penghormatan dan sopan santun, baik dengan individu ataupun kelompok.

Berikut beberapa hadits dari para Imam Ma’sumin yang berkaitan dengan tema ini;

قال الإمام علي (ع): الآدَابُ حُلُلٌ مُجَدَّدَةٌ

Imam Ali as. berkata: “Sopan santun adalah pakaian penghias yang terus-menerus baru.”(1)

Beliau juga berkata dalam kesempatan lain:

الأَدَبُ يُغْنِيْ عَنِ الْحَسَبِ

“Kesantunan/tata-krama mencukupkan (kita) dari kedudukan (kehormatan) sosial.” (2)

Dalam hadis lain dari Imam as-Shadiq as. berkata:

خَمْسٌ مَنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ لَمْ يَكُنْ كَثِيْرٌ فِيْهِ مُسْتَمْتِعٌ : الدِّيْنُ وَالْعَقْلُ وَالْحَيَاءُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الأَدَبِ

“Lima hal yang jika tidak ada dalam diri seseorang maka ia tidak akan memiliki banyak peminat: agama, akal, rasa malu, budi pekerti dan kesopanan.”(3)

Karenanya jika kita membaca sejarah kehidupan pemimpin-pemimpin Islam akan kita temukan bahwa mereka semua menjaga akhlak dan sopan santun bahkan kepada orang-orang biasa, dan pada dasarnya agama Iislam adalah kombinasi dari berbagai adab (sopan santun) yakni sopan santun di hadapan Allah, sopan santun di hadapan Rasulullah saw dan para Imam maksum as., sopan santun di hadapan guru, serta sopan santun di hadapan orang tua, orang alim dan pemikir.

 

Imam Abdullah bin Mubarak Rahimahullah juga mengatakan: “Adab itu 2/3 (dua per tiga) ilmu.” (4)

Al-Khatib al-Baghdadi Rahimahullah berkata dalam kitabnya:“Selayaknya seorang penuntut ilmu dan hadits berbeda dalam semua urusannya (amal dan akhlaknya) dari cara dan perbuatan orang-orang awam. Seorang penuntut ilmu dan hadits harus berusaha melaksanakan sunnah atas dirinya, karena Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

‘Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.’ (QS. Al-Ahzab: 21).”(5)

 

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Rujukan:

  1. Buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafizhahullah, halaman 130-131.
  2. https://kajiantafsirsyiah.wordpress.com/2015/06/26/tafsir-surah-al-hujurat-4-relasi-antara-sopan-santun-dan-akal/

Footnote:

1)Nahjul balaghah, al-Kalimat al-Qishar, al-kalimat 5

2)Biharul Anwar, juz 75 hal. 68

3) Biharul Anwar, juz 75 hal. 67

4)Min Hadyis Salaf fii Thalabil ‘Ilmi halaman 23.

5)Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi wa Adaabis Saami’ (I/142).

PERBEDAAN KENCING BAYI LAKI-LAKI DAN BAYI PEREMPUAN

Pandangan syari’at Islam membagi najis menjadi dua, yaitu najis mughalazhah (besar/berat) dan mukhaffah (ringan). Perbedaaan antara air kencing bayi laki-laki -yang hanya mengonsumi ASI saja- dengan air kencing bayi perempuan. Maka syari’at Islam menjadikan air kencing bayi laki-laki sebagai bagian dari najis mukhaffah (ringan) dan cukup dibersihkan dengan percikan air di atasnya, padahal syari’at menjadikan air kencing bayi wanita sebagai bagian dari mughalazhah (besar/berat) dan tidak sempurna cara penyucian/pembersihannya kecuali dengan mencuci sisa-sisanya dengan air.

A. Hadits-Hadits Nabi Yang Membedakan Antara Air Kencing Bayi Laki-Laki Dan Bayi Perempuan

  1. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah kencing ini dari Ummu Qais binti Mihshan radhiyallahu ‘anha:

“أنها أتت بابن لها صغير لم يأكل الطعام إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأجلسه رسول الله صلى الله عليه وسلم في حجره فبال على ثوبه فدعا بماء فنضحه ولم يغسله” أخرجه البخاري في صحيحه 1/ 90، برقم: 221، وأخرجه مسلم 1/ 238، برقم: 287.

” Bahwa dia datang membawa anak laki-lakinya yang masih kecil yang belum memakan makanan (masih menyusu) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammendudukkannya (bayi tersebut) di pangkuan beliau, kemudian anak itu kencing di baju beliau. Lalu beliau meminta air, kemudian memercikinya (dengan air) dan tidak mencucinya.” (HR. al-Bukhari dalam Shahihnya no. 221 dan Muslim no. 287)

2. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“كان النبي صلى الله عليه وسلم يؤتى بالصبيان فيدعو لهم, فأتي بصبي فبال على ثوبه فدعا بماء فأتبعه إياه ولم يغسله” أخرجه البخاري في صحيحه 5/ 2338، برقم: 5994.

” Pernah dibawa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa bayi laki-laki, lalu beliau mendo’akan mereka. Lalu dibawa kepada beliau seorang bayi laki-laki (yang masih menyusu), kemudian bayi itu kencing di baju beliau. Kemudian beliau meminta air, kemudian menuangkannya (memercikkan) ke baju yang terkena kencing tersebut dan tidak mencucinya.” (HR. al-Bukhari no. 5994)

3. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Abi as-Samh radhiyallahu ‘anhu:

“يغسل من بول الجارية ويرش من بول الغلام” أخرجه أبو داود في سننه 1/ 156، برقم: 376، وصححه الألباني في صحيح أبي داود 1/ 75، برقم: 362.

” Air kencing bayi perempuan dicuci, sedangkan air kencing bayi laki-laki cukup disiram (diperciki air).” (HR. Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 362)

4. Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“بول الغلام ينضح عليه, وبول الجارية يغسل”, قال قتادة: هذا ما لم يطعما فإذا طعما غسل بولهما أخرجه أحمد في مسنده 1/ 76، برقم: 563، وصحح إسناده شعيب الأرنؤوط في تعليقه على المسند

” Air kencing bayi laki-laki (dibersihkan dengan) disiram/diperciki air dan air kencing bayi perempuan dicuci.” Qatadah rahimahullah berkata:” Ini kalau keduanya belum memakan makanan, sedangkan jika sudah memakan makanan maka dicuci air kencing dari keduanya.” (HR. Ahmad dalam Musnad beliau no. 563, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam Ta’liq beliau terhadap al-Musnad)

5. Dari Ummi Kurzin al-Khuza’iyyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“أتي النبي صلى الله عليه وسلم بغلام فبال عليه فأمر به فنضح, وأتي بجارية فبالت عليه فأمر به فغسل” أخرجه أحمد في مسنده 6/ 440، برقم: 27517، وقال شعيب في تعليقه على المسند: صحيح لغيره

” Pernah didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seorang anak laki-laki (bayi), lalu ia mengencingi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau memerintahkan (mengambil air) lalu dipercikinya (bekas kencing tersebut). Dan pernah didatangkan kepada beliau seorang anak (bayi) perempuan lalu mengencinginya, kemdian ia memerintahkan (mengambil air) lalu dicucinya. (HR Ahmad di dalam Musnad beliau no. 2751. Syu’aib al-Arna’uth dalam Ta’liq beliau terhadap al-Musnad berkata: Shahih Lighairihi)

B. Pembahasan Ulama Seputar Hadits-Hadits tentang kencing bayi Ini

Dalam lafazh hadits Ummu Qais binti Mihshan radhiyallahu ‘anha disebutkan:

“بابن لها صغير لم يأكل الطعام”

“(dia datang) Dengan membawa anaknya yang masih kecil dan belum memakan makanan.” (al-Muwatha’ karya imam Malik rahimahullah)

Dan maksudnya adalah bahwa dia (bayi tersebut) belum mengonsumsi sesuatu selain ASI. Ibnu Hajar rahimahullah berkata:” Yang dimaksud dengan makanan adalah selain ASI yang ia minum (dari ibunya), kurma yang ditahnik-kan kepadanya dan madu yang dijilatnya untuk pengobatan dan lain-lain. Maka seakan-akan yang dimaksud adalah bahwa dia belum diberi nutrisi dengan selain ASI secara mandiri.” (Fathul Bari 1/326)

Adapun makna النضح adalah memercikan dengan air. Al-Khaththabi rahimahullah berkata:” An-Nadh (memercikan) adalah melewatkan (mengalirkan) air di atas suatu benda dengan cara yang halus tanpa disertai gosokan dan menekannya. Sedangkan al-Ghusl (mencuci) dilakukan dengan adanya tekanan dan perasan.” (Syarh Sunnah karya al-Baghawai 2/84-85)

C. Pandangan Ilmiah tentang Perbedaan Antara Air Kencing Bayi Laki-Laki Dan Perempuan 

Penelitian ilmiah modern yang dilakukan oleh Ashil Muhammad Ali dan Ahmad Muhammad Shalih dari Universitas Dohuk, Irak  mengungkapkan adanya perbedaan antara urin (air kencing) bayi anak dan bayi perempuan. Dan kesimpulan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

Pengkajian persentase keberadaan bakteri dalam urin/air kencing bayi dalam masa menyusu dan bayi yang baru lahir, di mana mereka mengumpulkan sampel urin bayi secara acak yang berjumlah 73 bayi (35 perempuan dan 38 laki-laki). Mereka mengklasifikasikan/mengelompokkan mereka ke dalam empat kelompok umur;

  1. umur di bawah satu bulan,
  2. umur satu bulan sampai dua bulan,
  3. umur dua bulan sampai tiga bulan dan
  4. umur lebih dari tiga bulan dengan kemungkinan meningkatnya konsumsi makanan.

Dalam penelitiannya mereka memanfaatkan metode yang digunakan Dr. Hans Christian Gram, yang ditemukan pada tahun 1884 dalam pewarnaan bakteri (metode Gram staining), yang mana warna ungu menunjukkan bakteri Gram positif dan warna merah untuk negative. Semua sampel yang diuji dengan memilih bidang bakteri mikroskopis untuk menghitung jumlah bakteri dengan menggunakan standar pembesaraan 100 kali lipat. Dan ditemukan bahwa semua Gram negatif, dan diklasifikasikan bahwa ia masuk sebagai bakteri Escherichia Coli.

Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

a.kelompok usia nol sampai 30 hari, prosentase keberadaan bakteri dalam urin bayi perempuan 95,44% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan mencapai 41,9 sedangkan pada bidang yang sama untuk bayi laki-laki hanya berjumlah 2 saja.

b. Kelompok umur (dari satu bulan sampai dua bulan) prosentase keberadaan bakteri dalam urin bayi perempuan 91,48% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan mencapai 24,1 sementara jumlah dalam bayi laki-laki hanya 2,25.

c. Kelompok umur 2-3 bulan, prosentase keberadaan bakteri dalam urin bayi perempuan 93,69% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan mencapai 24,1 sementara jumlah pada kasus bayi laki-laki hanya 1,6.

d. Kelompok usia lebih dari 3 bulan, prosentase bakteri dalam urin bayi perempuan 69% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan 13,9 sementara dalam kasus urin bayi laki-laki jumlahnya 6,8.

Dan di antara perbandingan di antara jenis yang sama kita cermati bahwa prosentase jumlah bakteri pada perempuan (urin bayi perempuan) terus menurun dengan bertambahnya usia, di mana prosentase tersebut pada kelompok usia kurang dari satu bulan adalah 41,9. Sedangkan pada kelompok usia di atas tiga bulan kita cermati bahwa prosentasenya turun menjadi 13,9 bertolak belakang dengan apa yang diamati pada laki-laki. Di mana prosentase bakteri dalam kelompok usia kurang dari dua bulan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang ada pada kelompok usia di atas tiga bulan ( yaitu 6,8).

Dan kita simpulkan dari hal ini bahwa prosentase bakteri pada perempuan adalah tinggi sejak hari-hari awal usianya, tanpa melihat perkembangan usia dan terlepas dari apakah ia sudah mulai mengonsumsi makanan atau tidak. Adapun laki-laki maka keberadaan bakteri jauh lebih rendah pada hari-hari pertama usianya. Dan prosentase ini mulai meningkat secara bertahap dengan berlalunya waktu, terutama ketika melewati bulan ketiga dari usianya, yang mana meningkatnya kemungkinan mulai peningkatan prosentase tersebut dengan mengonsumsi makanan .(dinukil dari: http://www.nooran.org/con8/Research/438.htm)

Dan dalam penelitian lain, Dr Shalahuddin Badr menetapkan bahwa di sana ada beda antara urin bayi laki-laki yang masih menyusu dengan urin perempuan. Dan kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut:

Ilmu pengetahuan pada hari ini menetapkan bahwa urin mengandung bakteri pathogen dalam jumlah yang besar, yang menyebabkan penularan banyak jenia penyakit ganas. Di antara bakteri ini adalah:

Bakteri E. coli (Escherichia Coli), staphylococcus, difteri, bakteri streptokokus, jamur candida, dan lain-lain. Oleh sebab itu wajib mencuci, membersihkan tubuh dan pakaian dari urin ini sehingga tidak terkena penyakit yang disebakan oleh salah satu dari jenis bakteri pathogen ini.

Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa urin anak yang baru lahir adalah steril, dan tidak ada bakteri jenis apapun di dalamnya, tapi kemudian setelah itu ia membawa bakteri, dan kebanyakan kontaminasi bakteri berasal dari saluran pencernaan.

Dan Dr Shalahuddin dalam penelitiannya menegaskan bahwa urin bayi laki-laki yang masih menyusu, yang hanya mengonsumsi ASI saja (susu alami) tidak mengandung bakteri jenis apapun. Sementara pada bayi perempuan yang masih menyusu mengandung beberapa jenis bakteri, dan dia mengembalikan hal ini kepada perbedaan jenis kelamin.

Komponen utama dari sistem urin manusia adalah dua ginjal, kandung kemih kemih, dan uretra. Fungsi utama dari sistem urin adalah untuk mempertahankan homeostasis cairan ekstraseluler dengan menyaring elektrolit dan produk-produk limbah lainnya, dan membuang air sehingga tidak terjadi kelebihan cairan.

Produk ekskretoris disebut urin. Pertama, dua ginjal menyaring produk limbah dari aliran darah dan mengubah filtrat ke dalam urin. Urin kemudian dilewatkan ke dalam kandung kemih. Dari sana, bergerak melalui uretra dan dikeluarkan dari tubuh. Ginjal manusia adalah organ utama dari sistem urin, yang berbentuk kacang dan terdiri dari nefron; unit fungsional dan struktural ginjal. Biasanya selain uretra, bagian lain dari sistem urin sangat mirip baik pada perempuan dan laki-laki. Satu-satunya perbedaan dari sistem urin pria dan wanita berhubungan dengan uretra mereka.

Karena saluran kencing perempuan lebih pendek daripada saluran pada laki-laki, di samping sekresi kelenjar prostat yang ada pada laki-laki, yang berperan untuk membunuh kuman. Oleh karena itu urin bayi laki-laki –yang belum memakan makanan- tidak mengandung bakteri berbahaya. Dan sebagai akibat dari perbedaan anatomi sistem pembuangan urin pada perempuan dan laki-laki, maka perempuan lebih rentan terhadap kontaminasi bakteri dibandingkan laki-laki. Maka suatu hal yang mudah untuk berpindahnya bakteri ke kandung kemih pada wanita, terutama bakteri yang berpindah dari ujung sistem pencernaan dan berhubungan dengan saluran kemih. Dan kebanyakan bakteri tersebut adalah bakter coliform.

Sistem urin Pria

Pria berbagi sistem saluran kemih dengan sistem reproduksi. Uretra pria lebih panjang dari wanita, karena itu meluas melalui pen is. Uretra pria adalah sekitar 18 sampai 20 sentimeter panjangnya, dan berfungsi sebagai lorong umum untuk baik urin dan air mani dari tubuh. Uretra laki-laki memiliki empat bagian; uretra spons, membran uretra, uretra pra-prostat, dan uretra prostat, dan itu meluas melalui prostat, sfingter internal dan eksternal, diafragma urogenital, kelenjar Cowper, dan seluruh panjang pen is.

Sistem urin wanita

Kandung kemih dan uretra pada wanita tidak terhubung ke sistem reproduksi. Wanita memiliki uretra yang sangat pendek, yaitu panjang sekitar 1,5 inci. Uretra meluas hanya melalui leher kandung kemih, sfingter internal dan eksternal, dan diafragma urogenital. Infeksi Urinal umum pada wanita karena jarak pendek antara pembukaan urinoir, anus dan fagina.

Apa perbedaan antara Sistem urin Pria dan Wanita?

  1. Pria memiliki uretra yang panjang daripada perempuan. Hal ini karena uretra laki-laki meluas melalui pen is.
  2. Satu-satunya fungsi dari uretra wanita adalah untuk mengangkut urin dari kandung kemih ke ruang eksternal. Namun pada laki-laki, uretra terlibat dalam mengangkut urin dari kandung kemih ke ruang eksternal, serta ejakulasi cairan mani melalui uretra.
  3. Tidak seperti pada wanita, pada pria uretra dianggap sebagai bagian dari baik sistem urin dan sistem reproduksi.
  4. Pembukaan uretra pada wanita lebih dekat ke anus dari pada laki-laki.
  5. Infeksi Urinal lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria.

Dan dengan melihat sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam maka terlihat jelas bahwa urin perempuan mengandung bakteri penyebab infeksi, oleh karena itu harus dicuci. Hal itu karena struktur anatomi sistem pembuangan urin, dan kecilnya saluran kemih jika dibandingkan dengan sistem pada laki-laki.

Ilmu pengetahuan hari ini telah mengungkap bahwa menyusui bayi dengan selain ASI, seperti susu formula atau dengan makanan lainnya, baik yang alami maupun buatan menyebabkan terjadinya kontaminasi urin, dimana ASI mencegah keberadaan bakter coliform dalam urinnya. Dan di sana ada beberapa jenis sukrosa di dalam ASI yang mencegah menempelnya bakteri tersebut sel epitel di dalam sistem kemih, yang menyebabkan tidak terjadinya kontaminasi urin dengan bakteri coliform, dan dengan demikian urin menjadi steril (Diringkas dari British Medical Journal)

Maka sisi keajaibannya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui hal tersebut semenjak 14 abad yang, padahal di zaman beliau shallallahu ‘alaihi wasallam belum ada mikroskop dan alat-alat penelitian canggih yang lainnya. Ini semakin menguatkan iman kita akan kebenaran ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, danbahwasanya yang beliau bawa adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan juga membuktikan kepada Barat dari kalangan orang kafir dan orang-orang yang kagum pada mereka bahwa ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah wahyu dari Allah, bukan karangan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka tidaklah kalian beriman? Wallahu Ta’ala A’lam.

Sumber:

الإعجاز العلمي في أحاديث التفريق بين بول الغلام الرضيع وبول الجارية   dari http://www.forsanhaq.com/showthread.php?

http://www.sridianti.com/perbedaan-sistem-urin-pria-dan-wanita.html

https://ilper.wordpress.com/2012/04/19/sistem-perkemihan-urinaria/urin1/

LITERASI DAN PEMBELAJARAN

A. Konsep Literasi dan GLS

Literasi bukanlah sekadar membaca dan menulis, namun juga meliputi keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.

Ferguson (http://www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan komponen literasi informasi sebagai berikut:
1) Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan
menghitung (
counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasar
pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
2) Literasi Perpustakaan (Library Literacy), yaitu kemampuan lanjutan untuk bisa mengoptimalkan Literasi Perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman tentang keberadaan perpustakaan sebagai salah satu
akses mendapatkan informasi. Pada dasarnya literasi perpustakaan, antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami
Dewey Decimal System sebagai klasifkasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami
penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
3) Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. Secara gamblang saat ini bisa dilihat di masyarakat kita bahwa media lebih sebagai hiburan
semata. Kita belum terlalu jauh memanfaatkan media sebagai alat untuk pemenuhan informasi tentang pengetahuan dan memberikan persepsi
4) Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan
teknologi. Berikutnya, dapat memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (
Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta menjalankan program perangkat
lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
5) Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik dalam bentuk tercetak, di televisi maupun internet, haruslah terkelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.

B. Tujuan GLS

Tujuan Umum

Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan literasi sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Tujuan Khusus

a) Menumbuhkembangkan budi pekerti.
b) Membangun ekosistem literasi sekolah.
c) Menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran (learning organization) (Senge, 1990).
d) Mempraktikkan kegiatan pengelolaan pengetahuan (knowledge management).
e) Menjaga keberlanjutan budaya literasi.

C. Prinsip GLS

Menurut Beers (2009), praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang bisa diprediksi.
2) Program literasi yang baik bersifat berimbang Sekolah yang menerapkan program literasi berimbang menyadari bahwa tiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Dengan demikian, diperlukan berbagai strategi membaca dan jenis teks yang bervariasi pula.
3) Program literasi berlangsung di semua area kurikulum. Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru di semua mata pelajaran. Pembelajaran di mata pelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Dengan demikian, pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.
4) Tidak ada istilah terlalu banyak untuk membaca dan menulis yang bermakna.
Kegiatan membaca dan menulis di kelas perlu dilakukan kapan pun kondisi di kelas memungkinkan. Untuk itu, perlu ditekankan bentuk kegiatan yang bermakna dan kontekstual. Misalnya, ‘menulis surat untuk wali kota’ atau
‘membaca untuk ibu’ adalah contoh-contoh kegiatan yang bermakna dan memberikan kesan kuat kepada peserta didik.
5) Diskusi dan strategi bahasa lisan sangat penting. Kelas berbasis literasi yang kuat akan melakukan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini juga harus membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis dapat diasah. Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan satu sama lain.
6) Keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah. Penting bagi pendidik untuk tidak hanya menerima perbedaan, namun juga merayakannya melalui agenda literasi di sekolah. Buku-buku yang disediakan untuk bahan bacaan peserta didik perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia agar peserta didik dapat terpajan pada pengalaman multikultural sebanyak mungkin.

 

RPP TERBARU REVISI 2017

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kurikulum 2013 Revisi 2017 dan Perbedaannya Dengan RPP K13 Revisi 2016. Informasi ini cukup penting diketahui oleh rekan-rekan guru Indonesia khususnya bagi anda yang mengajar pada sekolah yang telah melaksanakan Kurikulum 2013 tahun ini.

  1. Revisi K13 Tahun 2017 tidak terlalu signifikan, namun perubahan di fokuskan untuk meningkatkan hubungan atau keterkaitan antara kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD).
  2. Sedangkan dalam Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) K13 revisi 2017, yang dibuat harus muncul empat macam hal yaitu; PPK, Literasi, 4C, dan HOTS sehingga perlu kreatifitas guru dalam meramunya.
  3. Mengintergrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) didalam pembelajaran. Karakter yang diperkuat terutama 5 karakter, yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Mengintegrasikan literasi; keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Creative, Critical thinking, Communicative, dan Collaborative)
  4. Mengintegrasikan HOTS (Higher Order Thinking Skill).

PPK

Gerakan PPK perlu mengintegrasikan, memperdalam, memperluas, dan sekaligus menyelaraskan berbagai program dan kegiatan pendidikan karakter yang sudah dilaksanakan sampai sekarang. Pengintegrasian dapat berupa :

  • Pemaduan kegiatan kelas, luar kelas di sekolah, dan luar sekolah (masyarakat/komunitas);
  • Pemaduan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler;
  • Pelibatan secara serempak warga sekolah, keluarga, dan masyarakat;

Perdalaman dan perluasan dapat berupa:

  • Penambahan dan pengintensifan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada pengembangan karakter siswa,
  • Penambahan dan penajaman kegiatan belajar siswa, dan pengaturan ulang waktu belajar siswa di sekolah atau luar sekolah;
  • Penyelerasan dapat berupa penyesuaian tugas pokok guru, Manajemen Berbasis Sekolah, dan fungsi Komite Sekolah dengan kebutuhan Gerakan PPK.

 Gerakan Literasi Sekolah

Pengertian Literasi dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Literasi dapat dijabarkan menjadi ;

  1. Literasi Dini (Early Literacy),
  2. Literasi Dasar (Basic Literacy),
  3. Literasi Perpustakaan (Library Literacy),
  4. Literasi Media (Media Literacy),
  5. Literasi Teknologi (Technology Literacy),
  6. Literasi Visual (Visual Literacy).

Keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation).

Inilah yang sesungguhnya ingin kita tuju dengan K-13, bukan sekadar transfer materi. Tetapi pembentukan 4C. Beberapa pakar menjelaskan pentingnya penguasaan 4C sebagai sarana meraih kesuksesan, khususnya di Abad 21, abad di mana dunia berkembang dengan sangat cepat dan dinamis. Penguasaan keterampilan abad 21 sangat penting, 4 C adalah jenis softskill yang pada implementasi keseharian, jauh lebih bermanfaat ketimbang sekadar pengusaan hardskill.

HOTS

Higher Order of Thinking Skill (HOTS) adalah kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Kurikulum 2013 juga menuntut materi pembelajarannya sampai metakognitif yang mensyaratkan peserta didik mampu untuk memprediksi, mendesain, dan memperkirakan. Sejalan dengan itu ranah dari HOTS yaitu analisis yang merupakan kemampuan berpikir dalam menspesifikasi aspek-aspek/elemen dari sebuah konteks tertentu; evaluasi merupakan kemampuan berpikir dalam mengambil keputusan berdasarkan fakta/informasi; dan mengkreasi merupakan kemampuan berpikir dalam membangun gagasan/ide-ide.

Maka tidak mungkin lagi menggunakan model/metode/strategi/pendekatan yang berpusat kepada guru, namun kita perlu mengaktifkan siswa dalam pembelajaran (Active Learning). Khusus untuk PPK merupakan program yang rencananya akan disesuaikan dengan 5 hari belajar atau 8 jam sehari sedangkan untuk 2 hari merupakan pendidikan keluarga.

contoh RPP yang memuat itu

  1. RPP 2017 Sub tema 2
  2. RPP 2017
  3. RPP IPA SMP